jump to navigation

dynamix project begins January 29, 2008

Posted by asakuratorvald in About Linux, igossummit2.
Tags: ,
7 comments

Akhirnya Dynamix project dimulai.
Setelah penantian panjang, pengumuman topik skripsi ditempel juga.
Tepatnya, hari Kamis tanggal 24 Januari sore hari.
Proposal berjudul “Perancangan Modifikasi/Remaster Distro Linux Fedora untuk Keperluan Statistik” yang saya ajukan diterima.

Untuk sementara code name proyek ini adalah Dynamix.
Dari mana kah nama ini berasal? It’s the opposite of static (statistics).
Apakah Statistik itu dinamis atau statis?
Sepertinya statis ya, jadi tidak bisa ditambah rumus baru lagi.
Kalau dinamis, kenapa namanya tidak Dynamistics?

Remaster distro ini akan dibasiskan pada distro Fedora Core versi 6 atau 7 atau 8.
Sebelumnnya dilakukan analisis dan pengumpulan data untuk mengetahui aplikasi apa saja
yang dibutuhkan dalam keseharian pekerjaan statistisi dan programmer di BPS.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan survei pada sampel yang representatif di BPS.

Modifikasi yang akan dilakukan mencakup:
- penambahan paket aplikasi statistik, mencakup gis, clone spss dan lain-lain.
- penambahan paket aplikasi programming, mencakup diagramming seperti UML dan lain-lain
- pengurangan paket aplikasi games dan lain-lain yang tidak dibutuhkan

Waktu pengerjaan proyek ini berkurang karena pengumuman ini tertunda satu bulan.
Proyek harus diseminarkan pada bulan Juli. Sementara banyak pekerjaan menanti.

Saya harus melakukan analisa kebutuhan.
Seperti diketahui, banyak kelemahan pada sistem Windws.
Mahal, rentan virus, dan tidak dapat dikustomisasi.
Masih harus menginstal software setelah menginstal windows.

Jadi saya berusaha menyediakan sistem operasi siap pakai di BPS,
berbasis Linux. Murah dan dapat diandalkan.
Software statistik dan programming apa saja yang dipakai di BPS.
Lalu mencari padanannya di Linux. Mungkin tidak terlalu susah untuk mencari software
programming di Linux. Tapi software statistik?

Berikutnya adalah kompilasi dan testing setiap software.
Lalu membungkusnya menjadi satu paket instalasi fedora.
Yaitu inti dari remastering.
Mudah-mudahan masih sempat membuat logo Dynamix.
Lalu bagaimana dengan dokumentasi?
Apakah saya harus menyusun dokumentasi untuk setiap software yang saya bundel?
wow….
Tapi setidaknya ada gambaran umum pemakaian setiap software ya…
Mudah-mudahan nanti dipakai di BPS ya.

NB: tulisan ini diketik pada teks editor LormaLinux 4.0

PERANCANGAN MODIFIKASI/REMASTER DISTRO LINUX FEDORA UNTUK KEPERLUAN STATISTIK January 29, 2008

Posted by asakuratorvald in About Linux, igossummit2.
Tags: , , , ,
8 comments

1. Latar Belakang Pengembangan Sistem
Dunia kerja di era informasi tidak lagi bisa terlepas dari komputer. Setiap orang menggunakan komputer untuk mendukung aktivitasnya. Demikian pula yang terjadi di lingkungan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Komputer telah diciptakan untuk mendukung dan memudahkan pekerjaan manusia.
Komputer telah berkembang dengan pesat. Kini, PC (personal computer) tidak hanya bisa mengetik—atau tugas sederhana lainnya, namun dapat pula digunakan untuk mengakses web-site, mengirim email, membuat program, mendengarkan musik, dan menonton film. Hal-hal tersebut dapat dilakukan berkat adanya sistem operasi dalam sebuah komputer.
Sistem operasi menjadikan hubungan antara komputer dan penggunanya demikian mudah. Misalnya, Anda tinggal memasukkan DVD dan meng-klik tombol Play untuk menoton film. Sayangnya sistem operasi yang sangat memudahkan itu harus dibayar mahal . Meski sebagian besar dari kita menggunakan sistem operasi bajakan yang jauh lebih murah.
Selain itu, kita juga harus rela mengalami macet (hang) atau melambatnya komputer dari hari ke hari. Terkadang komputer kita malah tidak bisa digunakan sama sekali dan harus diinstal ulang. Belum lagi kalau komputer kita terkena serangan virus. Kemudahan sistem operasi tersebut harus kita bayar dengan performa yang rendah.
Ketika PC mulai populer di Indonesia pada tahun 1990-an, sulit sekali memindahkan kebiasaaan orang dari mesin ketik ke komputer. Saat ini, sulit pula mengubah kebiasaan sebagian besar orang dari satu sistem operasi ke sistem operasi lainnya. Padahal ada sistem operasi lain yang jauh lebih baik dibandingkan yang biasa—dan sudah menjadi kebiasaan—dipakai. Bahkan sudah ada cap tersendiri di kepala kita bahwa yang namanya komputer itu haruslah dengan sistem operasi Windows, bukan yang lain. Sebuah pandangan dilematis disampaikan oleh Sumitro Rustam :

Bisa Anda bayangkan, sebuah negara dengan pendapatan per kapita per tahun US$600 disuruh bayar US$500. Artinya, uang tersebut habis hanya untuk membeli sebuah software, lantas apakah masyarakat kita tidak makan?

Betapa mahalnya sebuah sistem operasi. Hal ini terjadi karena sistem operasi tersebut adalah barang komersil seperti halnya juga makanan restoran. Tinggal pesan, lalu makan. Kita tidak terbiasa untuk meracik atau meramu sendiri makanan yang akan kita makan. Kasus membuat sambel, misalnya. Bila kita buat sendiri, kita bisa menentukan seberapa pedas sambel yang ingin kita makan, seberapa banyak cabe dan tomat yang akan kita pakai. Sehingga bisa jadi sambel buatan sendiri lebih enak daripada yang dijual di restoran.
Keamanan juga lebih terjamin bila kita membuat sendiri. Karena kita tahu apa saja yang menjadi bahan makanan kita. Bila kita membeli masakan cepat saji, kita tidak tahu. Bisa jadi ada bahan yang kurang sehat bagi tubuh di dalamnya, misalnya formalin/borax.
Kita sudah sangat terlatih untuk menjadi konsumen yang sangat konsumtif dan senang dengan kemudahan. Terkadang kita tidak peduli dengan komposisi bahannya, yang penting enak dan kenyang. Bila tidak bisa membeli di restoran tertentu, karena lapar, kita mencuri. Itulah analogi untuk pembajakan sistem operasi (membajak Windows—penulis) ditambah dengan software-software lainnya.
Penerapan Undang-undang Hak atas Kekayaan Intelektual (UU HaKI) pada 29 Juli 2003 seharusnya membuka mata kita untuk mencari alternatif sistem operasi lain yang murah tetapi dapat diandalkan, mudah digunakan, dan aman dari gangguan virus. Kita tidak bisa selamanya hidup sebagai pembajak. Keterbatasan kita—terutama dana—membuat kita harus lebih kreatif.

Faktor teknis seperti kestabilan, pemanfaatan sumber daya komputasi yang efisien, murah, dan ketersediaan teknologi maju yang masih dalam tahapan riset, dan lain-lainnya merupakan faktor penarik pemanfaatan GNU/Linux di negara berkembang.

Potensi besar GNU/Linux seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja STIS dan BPS. Selain menghemat anggaran, Linux juga handal, stabil, efisien dan lebih cepat mengadopsi teknologi baru. Lisensi open source-nya memungkinkan kita memodifikasi Linux sesuai dengan kebutuhan kita. Frekuensi Linux untuk crash atau down juga relatif kecil. Sehingga meminimumkan hilangnya waktu produktif yang dihabiskan untuk perbaikan. Sayangnya, potensi besar ini masih dipandang sebelah mata dan masih berupa wacana.

2. Identifikasi Masalah Sistem Berjalan
- windows mahal dan rentan
- windows tidak dapat dikembangkan sendiri
- dana BPS yang terbatas

3. Tujuan Pengembangan Sistem

- Memodifikasi distro linux Fedora sehingga memenuhi kebutuhan komputasi sehari-hari statistisi di BPS
- Menyediakan sebuah sistem operasi siap pakai yang murah dan andal untuk pegawai BPS
- Membangun wacana dan membiasakan civitas STIS dan BPS untuk memiliki kemandirian dalam IT dan dapat mengadopsi teknologi terbaru dalam bidang IT dengan cepat

4. Landasan Teori
a. Konsep dasar sistem
Menurut Ahmad Sofyan (Sofyan, 2006: hal 6), ada beberapa metode yang dapat dipakai dalam membuat sebuah distro linux.

“pertama, biasanya distro dipakai untuk diri sendiri. Distro ini dibuat dengan basis LFS(Linux From Scratch – http://www.lfs.org), dan semua aplikasi dikompilasi dari pristine code (kode program murni). Prses pembuatan dengan distro ini sangat membantu pembuat untuk memahami seluk beluk distro (dan seluk-beluk Linux pada umumnya) dan layout masing-masing distribusi. Kelemahan bentuk ini adalah distronya tidak bisa dibuat satu ISO yang bisa diinstal (kalaupun bisa, akan membutuhkan effort/usaha yang banyak), sehingga sulit untuk didistribusikan kembali.
bentuk kedua, adalah membuat distro dari turunan ditro besar yang sudah mapan.”

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk kedua. Yaitu membuat distro dengan memodifikasi distro yang sudah mapan. Metode ini biasa disebut remastering.
Saat ini bahkan sudah ada metode remaster dengan menggunakan wizard. Seperti MySlax untuk Slackware dan Revisor pada Fedora versi 7. Akan tetapi metode ini kurang bisa dikustomisasi dan memerlukan modul-modul siap instal.
Sehingga metode yang akan diapakai dalam peneliatian ini adalah remaster secara manual. Hal ini dimaksudkan agar dapat juga memasukkan paket-paket yang hanya tersedia dalam bentuk source code dan dapat melakukan kustomisasi lebih banyak..

b. Peralatan pendukung
- PC untuk pengembangan
- PC untuk ujicoba
- drive optikal plus media CD/DVD untuk keperluan distribusi

c. Kajian teori
Sebuah sistem operasi setidaknya memiliki dua fungsi utama yaitu:
1. Pengelola seluruh sumber daya sistem komputer(sebagai resource manager)
2. Sistem operasi sebagai penyedia layanan (sebagai Extended/ Virtual Machine)

Menurut Stalling [STA-95] (dalam Bambang, 2005: 21), sebuah sistem operasi harus mempunyai sasaran tertentu.

Sistem operasi mempunyai tiga sasaran, antara lain:
1. Kenyamanan
Sistem operasi harus membuat penggunaan komputer menjadi lebih nyaman.
2. Efisiensi
Sistem operasi menjadikan penggunaan sumber daya komputer secara efisien.
3. Mampu berevolusi
Sistem operasi harus memungkinkan dan memudahkan pengembangan, dan pengajuan fungsi-fungsi yang baru tanpa mengganggu layanan yang dijalankan komputer.

Linux adalah sistem operasi yang disebarkan secara luas dengan gratis di bawah lisensi GNU General Public License (GPL), yang berarti juga source code Linux tersedia. Itulah yang membuat Linux sangat spesial. Linux masih dikembangkan oleh kelompok-kelompok tanpa dibayar, yang banyak dijumpai di internet. Mereka tukar menukar kode, melaporkan bug, dan membenahi segala masalah yang ada. Setiap orang yang tertarik dipersilahkan untuk bergabung dalam pengembangan Linux.

Pada dasarnya komputer hanya bisa menerima perintah dalam sinyal biner 0 dan 1. Untuk memerintahkan sesuatu, kita harus menyusunnya dalam bahasa yang dimengerti oleh komputer. Kemajuan bahasa pemrograman telah mempermudah penyusunan perintah tersebut. Pembuatan program sudah bisa dilakukan dengan bahasa pemrograman yang semakin mendekati bahasa manusia sehari-hari.
Langkah pertama yang dilakukan untuk membuat program adalah mengidentifikasi masalah yang akan kita pecahkan dengan komputer. Selanjutnya kita susun urutan logika pemecahan masalahnya. Berikutnya kita terjemahkan logika tersebut dalam suatu bahasa pemrograman. Terakhir, kode program (biasa disebut sebagai source code atau kode sumber) yang sudah kita buat tadi kita terjemahkan dengan kompiler. Kompiler akan menerjemahkan program yang kita buat ke dalam bahasa biner yang dimengerti komputer. Setelah itu barulah program kita bisa dijalankan.
Sebagai sebuah sistem operasi, Linux juga dibuat dengan cara yang sama. Hanya saja, sistem operasi merupakan program kompleks yang langsung mengakses perangkat keras. Sistem operasi juga bertugas menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh program-program yang berjalan di atasnya.

Salah satu keunggulan Linux dalam dunia pendidikan komputer adalah kemampuannya menyediakan kode sumber (source code) sehingga dapat diteliti baris demi baris. Implementasi teori sistem operasi dapat diperlihatkan dengan jelas, bahkan penerapan suatu strategi pengaturan baru dapat langsung dilakukan. Sehingga perihal teoretis seperti manajemen task dapat dengan gamblang dijelaskan kaitannya dengan kode yang berjalan.

Linux membukakan kembali pintu baru bagi mahasiswa untuk mempelajari dunia komputasi. Tidak saja dalam penggunaan sistem operasi tetapi lebih dari itu. Hal ini sulit dilakukan dengan menggunakan sistem operasi propietary closed source. Sayang sekali kalau dunia pendidikan TI Indonesia hanya terpaku pada penggunaan sistem operasi populer propietary dan melepaskan kemungkinan mempelajari hal-hal yang lebih dalam ini.

Keunggulan utama yang dapat kita peroleh dari Linux adalah dibukanya kode program pembuatannya (open source). Sehingga setiap orang dapat melihat, mempelajari cara kerjanya, dan memodifikasinya sesuai kebutuh-annya. Bila terjadi kesalahan kita dapat langsung memperbaikinya sendiri atau melaporkannya ke komunitas pengembang Linux. Keamanan sistem juga lebih terjamin karena tidak ada yang ditutup-tutupi.

Hal ini tidak dapat kita lakukan pada sistem operasi dan aplikasi yang closed source atau propietary. Para pengembang yang mendistribusikan sistem operasi dan aplikasinya dalam format propietary tidak menyediakan kode pembuatan programnya. Mereka menganggapnya sebagai kekayaan intelektual yang harus dibayar dengan lisensi. Padahal dengan open source semua orang akan saling menguntungkan dan diuntungkan.
Kita tidak bisa melihat perintah apa saja yang mereka masukkan dalam program yang kita pakai. bila terjadi masalah pada program yang kita pakai, kita harus menunggu para pengembang tersebut untuk untuk mencari solusinya. Hal ini bisa memakan waktu lama dan membuat kita bergantung kepada perusahaan yang mengembangkan program tersebut.

d. Kerangka pikir
- analisis terhadap sistem berjalan
- identifikasi masalah pada sistem berjalan
- perancangan aplikasi secara iterative atau prototyping
- uji coba dan evaluasi

5. Rancangan Awal Sistem
Remaster distro ini akan dibasiskan pada distro Fedora Core versi 6 atau 7. Sebelumnya dilakukan analisis dan pengumpulan data untuk mengetahui aplikasi apa saja yang dibutuhkan dalam keseharian pekerjaan statistisi dan programmer di BPS. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan wawancara pada sampel yang representatif di BPS.

Modifikasi yang akan dilakukan mencakup:
- penambahan paket aplikasi statistik, mencakup gis, clone spss dan lain-lain.
- penambahan paket aplikasi programming, mencakup diagramming seperti UML
dan lain-lain
- pengurangan paket aplikasi games dan lain-lain yang tidak dibutuhkan

6. Daftar Pustaka
Buku
Hariyanto, Bambang. 2005. Sistem Operasi: Edisi Kedua. Bandung: Informatika.
Prayitno, Warso dan I Made Wiryana. 2002. Be LINUXer with Mandrake 8.0. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Sofyan, Ahmad. 2006. Membuat Distro Linux Sendiri. Jakarta: Dian Rakyat.

Majalah
“Mengenal Sistem Operasi UNIX-Like”. Majalah InfoLINUX, Januari, 2001.
Wiryana, I Made. “The Girl from Ipanema dan Linux”. Majalah InfoLINUX.
Juni, 2005.
“Jawaban untuk HaKI: Linux”. Majalah InfoLINUX, Juni, 2003 .
“PC Market”, Majalah PCMedia. Edisi April 2007.

Analisis Usability BelajarMenulis.Com January 29, 2008

Posted by asakuratorvald in Web Design.
Tags: ,
add a comment

PENDAHULUAN
Tiga puluh tahun lalu, barangkali menulis atau menjadi penulis masih dipandang sebelah mata. Setidaknya, calon mertua belum tentu merestui pernikahan anak gadisnya dengan seorang penulis. Sebab, penghasilannya dianggap tidak jelas. Saat ini, khususnya di Indonesia, menulis sudah dianggap sebagai profesi yang cukup dipandang. Bukan hanya karena uang yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Namun juga anggapan bahwa menulis atau menjadi penulis adalah profesi yang cukup terpandang.

Hal ini antara lain dipicu oleh munculnya para penulis muda berbakat. Industri penerbitan pun berkembang pesat. Banyak penerbit baru bermunculan. Penerbit lama pun memburu penulis-penulis muda berbakat. Cita-cita atau keinginan menjadi penulis pun mulai merebak di berbagai kalangan.

Mereka berusaha menulis dengan jalan masing-masing. Ada yang belajar menulis autodidak dan mulai mengirimkan karyanya ke surat kabar atau sayembara menulis. Ada juga yang membeli dan atau membaca buku-buku tentang teknik menulis. Mereka merasa kurang jika hanya berbekal pelajaran Bahasa Indonesia yang didapatkan di sekolah. Bahkan ada pula yang rela menyisihkan uang dan meluangkan waktu mengikuti kursus menulis.

Informasi adalah hal yang sangat berharga di abad ini. Semua orang ingin mendapatkan informasi secepatnya. Sejak hadirnya internet, akses informasi tidak lagi dapat dibatasi. Internet merupakan gudang informasi yang menyediakan apa saja. Termasuk informasi tentang dunia kepenulisan. Tidak tertutup kemungkinan untuk belajar menulis via internet.
BelajarMenulis.Com (selanjutnya akan saya sebut BMC) adalah salah satu media belajar menulis melalui internet yang tidak memerlukan tatap muka. Media belajar yang digunakan adalah email, newsletter, yahoo messenger conference, dan konsultasi via yahoo messenger.

URGENSI DAN DEFINISI USABILITY
Jakob’s Law of the Web User Experience: users spend most of their times on other websites.
Pengunjung BMC tentu menginginkan antar muka (interface) yang mudah digunakan. Mereka berharap belajar menulis di BMC lebih mudah daripada mengikuti kursus menulis. Jika situs BMC sulit digunakan, maka pengunjung pun berlalu pergi.

Hal ini sesuai dengan Hukum Jakob tentang Web User Experience dalam kutipan di atas. Para pengunjung menghabiskan sebagian besar waktunya di situs lain. Penyebabnya antara lain adalah lambatnya koneksi internet. Membuka beberapa situs setiap kali mengakses internet adalah hal yang wajar, bahkan wajib.

Lalu sambil menunggu terbukanya halaman web di situs A, pengguna beralih ke situs B. Kemudian kembali ke situs A ketika harus menunggu proses di situs B. Mereka mengharapkan sesuatu ketika kembali ke situs A. Jika situs A tidak memberikan apa yang mereka harapkan, situs ini akan mulai ditinggalkan. Lalu, bagaimana membuat pengunjung selalu kembali ke situs kita? Apakah situs BMC sudah memiliki desain antar muka yang baik?

Saya bukanlah seorang desainer atau programmer web. Setidaknya sampai saat ini saya hanyalah seorang pengunjung setia dan penikmat internet. Akan tetapi saya sempat belajar sedikit tentang teori desain web. Jadi saya akan membahas hal ini berbekal sedikit teori yang pernah saya pelajari di kampus, yaitu teori Usability.

Usability is a quality attribute that assesses how easy user interfaces are to use. The word “usability” also refers to methods for improving ease-of-use during the design process.
Usability adalah atribut kualitas yang menjelaskan atau mengukur seberapa mudah penggunaan suatu antar muka (interface). Kata “Usability” juga merujuk pada suatu metode untuk meningkatkan kemudahan pemakaian selama proses desain. Usability diukur dengan lima kriteria, yaitu: Learnability, Efficiency, Memorability, Errors, dan Satisfaction.

Learnability mengukur tingkat kemudahan melakukan tugas-tugas sederhana ketika pertama kali menemui suatu desain. Efficiency mengukur kecepatan mengerjakan tugas tertentu setelah mempelajari desain tersebut. Memorability melihat seberapa cepat pengguna mendapatkan kembali kecakapan dalam menggunakan desain tersebut ketika kembali setelah beberapa waktu. Errors melihat seberapa banyak kesalahan yang dilakukan pengguna, separah apa kesalahan yang dibuat, dan semudah apa mereka mendapatkan penyelesaian. Satisfaction mengukur tingkat kepuasan dalam menggunakan desain.

ANALISIS USABILITY BMC
Dalam salah satu alertbox-nya, Jakob Nielsen menyebutkan sepuluh kesalahan yang paling banyak terjadi dalam desain web yang bertentangan dengan teori Usability. Sepuluh kesalahan tersebut adalah:
1. Bad Search (sistem pencarian yang buruk)
2. PDF Files for Online Reading (menggunakan format PDF untuk halaman yang dibaca online)
3. Not Changing the Color of Visited Links (tidak mengganti warna dari link yang sudah dikunjungi)
4. Non-Scannable Text (teks yang susah dibaca sekilas)
5. Fixed Font Size (ukuran font yang tidak bisa diubah)
6. Page Titles With Low Search Engine Visibility (Title Page yang diberi indeks rendah oleh Search Engine)
7. Anything That Looks Like an Advertisement (segala hal yang terlihat seperti iklan)
8. Violating Design Conventions (melanggar kesepakatan desain)
9. Opening New Browser Windows (membuka jendela browser baru)
10. Not Answering Users’ Questions (tidak menjawab pertanyaan pengguna)
Menurut saya, ada beberapa dari kesalahan tersebut yang masih terjadi di situs BMC. Yaitu sistem pencarian yang kurang baik, tidak mengganti warna dari link yang sudah dikunjungi, dan pelanggaran konvensi desain.

Sistem pencarian hanya menggunakan sistem tags, bukan menu. Tidak ada informasi jumlah posting per bulan pada bagian Archives. Ada link ke suatu halaman yang sama di beberapa tags. Kenapa tidak dibuat menu dan sub-menu untuk kategori kiat penulisan? Misalnya,
Menu: Kiat Penulisan
Sub Menu: Fiksi, Non-Fiksi
Menurut saya, pengelola situs BMC perlu memikirkan ulang susunan menunya. Penggunaan tags lebih mirip dengan weblog atau blog yang bersifat personal. Bukan untuk sebuah situs yang dibuat untuk tujuan yang lebih serius. Saya juga menemukan adanya banyak halaman yang ada di beberapa tags (ambivalent navigation). Ini tidak cocok untuk situs web corporate. Untuk menyusun web yang lebih serius, sebaiknya dibuat menu yang decisive. Harus ada kriteria tegas yang membatasi halaman A masuk dalam kategori tertentu. Sehingga jelas bagi pengunjung, apa yang akan mereka dapatkan ketika meng-klik link tertentu. Hindari penggunaan klik di sini. Sebab, pengunjung tidak akan tahu apa yang akan mereka lihat ketika meng-klik link tersebut, sebelum membaca keterangan di halaman tersebut. Ini akan memperlambat pekerjaan pengunjung. Lebih baik gunakan misalnya: silahkan ambil banner.

Mengapa perlu mengganti warna dari link yang sudah dikunjungi? Agar pengunjung tahu mana yang sudah dia kunjungi dan mana yang belum. Bila pengunjung bingung dengan halaman atau tags mana yang sudah dia kunjungi dan mana yang belum, maka dia akan tersesat di situs BMC. Pilihan untuk meninggalkan situs BMC akan mulai mengisi benaknya. Sebab, masih banyak situs lain di internet yang bisa dia kunjungi.

Selain itu, peletakan kotak search di atas menu tags tidak sesuai dengan konvensi desain web. Mayoritas website dan aplikasi meletakkan kotak search di bagian paling atas sebelah kanan dari halaman web. Kesulitan akan dialami oleh pengguna ketika menemui desain yang berbeda dengan banyak situs lain yang dia kunjungi. Selain itu, menurut penelitian Jakob Nielsen, lebar kotak search yang ideal adalah 27 karakter. Sehingga pengunjung dapat mengetikkan beberapa kata yang ingin mereka cari tanpa kehilangan kata yang diketik sebelumnya.
Lebih lanjut, Jakob Nielsen menyebutkan sepuluh pedoman desain homepage (halaman utama) yang paling banyak dilanggar. Ada 2 pedoman desain yang masih belum diterapkan di situs BMC, yaitu:

1. Use graphics to show real content, not just to decorate your homepage
Gunakan bantuan gambar atau animasi untuk menunjukkan sesuatu yang nyata. Untuk membantu interaksi pengunjung situs, bukan untuk mendefinisikan interaksi pengunjung. Gunakan seperlunya saja. Contohnya adalah gambar smiley pada link tertentu di homepage BMC yang bermaksud menarik perhatian. Barangkali ini berhasil bagi beberapa pengunjung. Sayangnya, gambar dan animasi lebih sering mengganggu mata pengunjung. Seringkali pengunjung juga menyalahartikan gambar dan animasi sebagai iklan. Lalu mereka mengalihkan fokus ke bagian lain dari situs yang mereka anggap berguna.

Gunakan gambar misalnya untuk menunjukkan gambar sambul buku tertentu yang sedang dibahas. Atau foto liputan kegiatan penulisan. Dan selalu lebih baik menggunakan foto asli yang berkaitan dengan topik yang sedang dibahas, ketimbang menggunakan gambar model.

2. Don’t include an active link to the homepage on the homepage
Jangan pernah menyediakan link ke halaman yang sedang aktif atau sedang ditampilkan. Saya melihat ada link ke homepage di homepage situs BMC. Sepertinya ini adalah hal yang bagus, menempatkan link ke homepage di seluruh halaman. Ini benar, kecuali di homepage itu sendiri.
Sementara itu, masih ada beberapa ketentuan desain web menurut Jan Kampherbeek dalam ebook “100 Do’s and Don’ts in Web Design” yang belum diterapkan di situs BMC.

1. Don’t repeat links too often
2. Don’t use ambivalent navigation
Saya menemukan adanya link yang berulang di beberapa tags mengenai sekolah menulis. Hal ini bisa membuat pengunjung bosan. Pengunjung dapat menganggap bahwa isi situs BMC hanya berisi informasi sekolah menulis online/reguler. Ini juga termasuk contoh ambivalent link yang perlu dihindari.

3. Do create a “what’s new” page
Buatlah halaman yang menerangkan apa yang baru di situs Anda. Dengan adanya fasilitas ini, pengunjung tidak perlu repot-repot untuk mencari berita baru di situs BMC.

4. Do use navigational aids at the top and the bottom
Sediakan menu atau alat navigasi yang lain di bagian atas dan bawah web. Sehingga pengunjung tidak perlu melakukan scrolling untuk melakukan navigasi. Hal yang memudahkan pengunjung akan membuat pengunjung betah dan tidak segan untuk kembali lagi.

5. Do check your links
Periksalah seluruh link yang ada. Tidak hanya untuk menghindari error 404, tapi untuk memastikan tidak ada link yang putus atau tidak ada isinya. Saya sempat menemukan link yang menuju ke suatu halaman yang menyatakan:
Oooops…Not found !
As outputted by the Server on 14 Dec 2007 01:14 am | Tagged as: Unavailable
The Server can not find the page you are looking for.
You may try to locate it yourself by doing a search or browsing through the archives

6. Do use small pages
Web bukanlah buku. Ada perbedaan antara desain cetak dan desain untuk web. Menurut penelitian Jakob Nielsen, tidak ada orang yang membaca di web. Mereka hanya membaca sekilas (scan). Jadi sediakanlah halaman yang pendek-pendek. Potong halaman yang panjang dan hubungkan melalui hyperlink. Saya masih menemui halaman-halaman yang perlu di-scroll ke bawah cukup panjang.

KESIMPULAN
Terlepas dari hal-hal yang perlu diperbaiki, situs BMC memiliki sesuatu yang menarik. Antara lain gaya bahasa penulisan yang renyah, sederhana, dan mudah diikuti. Selain itu, ia memiliki nilai jual sebagai penyedia kursus menulis online pertama di Indonesia. Seandainya kekurangan-kekurangan di atas dapat diperbaiki, tentu nilai jualnya akan menjadi lebih baik.

REFERENSI LEBIH LANJUT
1. Jakob Nielsen’s Alert Box: Top Ten Mistakes in Web Design, www.useit.com/alertbox/designmistakes.html
2. Jakob Nielsen’s Alert Box: The Ten Most Violated Homepage Design Guidelines, www.useit.com/alertbox/20031110.html
3. Jakob Nielsen’s Alert Box: Introduction to Usability, www.useit.com/alertbox/20030825.html
4. Jan Kampherbeek, 100 Do’s and Don’ts in Web Design, Styleguide by SpiderPro, version 1.1, http://www.spiderpro.com/ebooks/styleguide.pdf