URGENSI PEMANFAATAN GNU/LINUX December 28, 2007
Posted by asakuratorvald in About Linux, About Paper, igossummit2.Tags: igossummit2, linux, paper
add a comment
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
BAB I
PENDAHULUAN……………………………………………………………………………. 1
A. Latar Belakang……………………………………………………………………… 1
B. Identifikasi dan Batasan Masalah…………………………………………….. 3
C. Metode Pembahasan dan Analisis………………….……………………….. 4
D. Sistematika Penulisan……………………………………………………………. 4
BAB II
PENGGUNAAN SISTEM OPERASI DAN PERMASALAHANNYA…………………………………………………………………. 6
A. Selayang Pandang Sistem Operasi…………………………………………… 6
B. Komposisi Penggunaan Linux di STIS……………………………………. 7
C. Komposisi Penggunaan Linux di BPS……………………………………… 7
D. Permasalahan yang Timbul
dengan Penggunaan Windows di STIS…………………………………….. 7
E. Permasalahan yang Timbul
dengan Penggunaan Windows di BPS……………………………………… 8
BAB III
URGENSI PEMANFAATAN LINUX……………………………………………… 9
A. Selayang Pandang Linux………………………………………………………… 9
B. Keunggulan Linux…………………………………………………………………. 11
C. Urgensi Pemanfaatan Linux…………………………………………………… 13
BAB IV
ANALISIS SWOT PADA PEMANFAATAN LINUX………………………. 17
A. Metode SWOT dan Deduksi…………………………………………………… 17
B. Alternatif Solusi……………………………………………………………………. 18
BAB V
PENUTUP……………………………………………………………………………………… 20
A. Kesimpulan…………………………………………………………………………… 20
B. Saran……………………………………………………………………………………. 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia kerja di era informasi tidak lagi bisa terlepas dari komputer. Setiap orang menggunakan komputer untuk mendukung aktivitasnya. Demikian pula yang terjadi di lingkungan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Komputer telah diciptakan untuk mendukung dan memudahkan pekerjaan manusia.
Komputer telah berkembang dengan pesat. Kini, PC (personal computer) tidak hanya bisa mengetik—atau tugas sederhana lainnya, namun dapat pula digunakan untuk mengakses web-site, mengirim email, membuat program, mendengarkan musik, dan menonton film. Hal-hal tersebut dapat dilakukan berkat adanya sistem operasi dalam sebuah komputer.
Sistem operasi menjadikan hubungan antara komputer dan penggunanya demikian mudah. Misalnya, Anda tinggal memasukkan DVD dan meng-klik tombol Play untuk menoton film. Sayangnya sistem operasi yang sangat memudahkan itu harus dibayar mahal1. Meski sebagian besar dari kita menggunakan sistem operasi bajakan yang jauh lebih murah.
Selain itu, kita juga harus rela mengalami macet (hang) atau melambatnya komputer dari hari ke hari. Terkadang komputer kita malah tidak bisa digunakan sama sekali dan harus diinstal ulang. Belum lagi kalau komputer kita terkena serangan virus. Kemudahan sistem operasi tersebut harus kita bayar dengan performa yang rendah.
Ketika PC mulai populer di Indonesia pada tahun 1990-an, sulit sekali memindahkan kebiasaaan orang dari mesin ketik ke komputer. Saat ini, sulit pula mengubah kebiasaan sebagian besar orang dari satu sistem operasi ke sistem operasi lainnya. Padahal ada sistem operasi lain yang jauh lebih baik dibandingkan yang biasa—dan sudah menjadi kebiasaan—dipakai. Bahkan sudah ada cap tersendiri di kepala kita bahwa yang namanya komputer itu haruslah dengan sistem operasi Windows, bukan yang lain. Sebuah pandangan dilematis disampaikan oleh Sumitro Rustam2:
Bisa Anda bayangkan, sebuah negara dengan pendapatan per kapita per tahun US$600 disuruh bayar US$500. Artinya, uang tersebut habis hanya untuk membeli sebuah software, lantas apakah masyarakat kita tidak makan?
Betapa mahalnya sebuah sistem operasi. Hal ini terjadi karena sistem operasi tersebut adalah barang komersil seperti halnya juga makanan restoran. Tinggal pesan, lalu makan. Kita tidak terbiasa untuk meracik atau meramu sendiri makanan yang akan kita makan. Kasus membuat sambel, misalnya. Bila kita buat sendiri, kita bisa menentukan seberapa pedas sambel yang ingin kita makan, seberapa banyak cabe dan tomat yang akan kita pakai. Sehingga bisa jadi sambel buatan sendiri lebih enak daripada yang dijual di restoran.
Keamanan juga lebih terjamin bila kita membuat sendiri. Karena kita tahu apa saja yang menjadi bahan makanan kita. Bila kita membeli masakan cepat saji, kita tidak tahu. Bisa jadi ada bahan yang kurang sehat bagi tubuh di dalamnya, misalnya formalin/borax.
Kita sudah sangat terlatih untuk menjadi konsumen yang sangat konsumtif dan senang dengan kemudahan. Terkadang kita tidak peduli dengan komposisi bahannya, yang penting enak dan kenyang. Bila tidak bisa membeli di restoran tertentu, karena lapar, kita mencuri. Itulah analogi untuk pembajakan sistem operasi (membajak Windows—penulis) ditambah dengan software-software lainnya.
Penerapan Undang-undang Hak atas Kekayaan Intelektual (UU HaKI) pada 29 Juli 20033 seharusnya membuka mata kita untuk mencari alternatif sistem operasi lain yang murah tetapi dapat diandalkan, mudah digunakan, dan aman dari gangguan virus. Kita tidak bisa selamanya hidup sebagai pembajak. Keterbatasan kita—terutama dana—membuat kita harus lebih kreatif.
Faktor teknis seperti kestabilan, pemanfaatan sumber daya komputasi yang efisien, murah, dan ketersediaan teknologi maju yang masih dalam tahapan riset, dan lain-lainnya merupakan faktor penarik pemanfaatan GNU/Linux di negara berkembang.4
Potensi besar GNU/Linux5 seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja STIS dan BPS. Selain menghemat anggaran, Linux juga handal, stabil, efisien dan lebih cepat mengadopsi teknologi baru. Lisensi open source-nya6 memungkinkan kita memodifikasi Linux sesuai dengan kebutuhan kita. Frekuensi Linux untuk crash atau down7 juga relatif kecil. Sehingga meminimumkan hilangnya waktu produktif yang dihabiskan untuk perbaikan. Sayangnya, potensi besar ini masih dipandang sebelah mata dan masih berupa wacana.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Identifikasi masalah:
-
Kendala dalam pemakaian Windows
-
Keunggulan GNU/Linux
-
Urgensi pemanfaatan Linux
Batasan Masalah:
-
-
Penggunaan Sistem Operasi dan Permasalahannya
-
Urgensi Pemanfaatan Linux
-
C. Metode Pembahasan dan Analisis
Metode pembahasan yang digunakan adalah kajian pustaka dengan merujuk pada artikel di majalah, buku, dan sumber internet. Untuk melengkapinya, dilakukan wawancara dengan DR. Hasyim Gautama, Sub Direktorat Jaringan dan Komunikasi Data BPS Pusat.
Metode analisis yang digunakan adalah metode SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) dan penalaran deduksi.
D. Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
C. Metode Pembahasan dan Analisis
D. Sistematika Penulisan
BAB II Penggunaan Sistem Operasi dan Permasalahannya
A. Selayang Pandang Sistem Operasi
B. Komposisi Penggunaan Linux di STIS
C. Komposisi Penggunaan Linux di BPS
D. Permasalahan yang Timbul
dengan Penggunaan Windows di STIS
E. Permasalahan yang Timbul
dengan Penggunaan Windows di BPS
BAB III Urgensi Pemanfaatan Linux
A. Selayang Pandang Linux
B. Keunggulan Linux
C. Urgensi Pemanfaatan Linux
Bab IV Analisis SWOT pada Pemanfaatan Linux
A. Metode SWOT dan Deduksi
B. Alternatif Solusi
BAB V Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran
BAB II
PENGGUNAAN SISTEM OPERASI
DAN PERMASALAHANNYA
A. Selayang Pandang Sistem Operasi
Sebuah sistem operasi setidaknya memiliki dua fungsi utama yaitu:
1. Pengelola seluruh sumber daya sistem komputer (sebagai resource manager)
2. Sistem operasi sebagai penyedia layanan (sebagai Extended/ Virtual Machine)8
Menurut Stalling [STA-95] (dalam Bambang, 2005: 21), sebuah sistem operasi harus mempunyai sasaran tertentu.
Sistem operasi mempunyai tiga sasaran, antara lain:
-
Kenyamanan
Sistem operasi harus membuat penggunaan komputer menjadi lebih nyaman.
-
Efisiensi
Sistem operasi menjadikan penggunaan sumber daya komputer secara efisien.
-
Mampu berevolusi
Sistem operasi harus memungkinkan dan memudahkan pengembangan, dan pengajuan fungsi-fungsi yang baru tanpa mengganggu layanan yang dijalankan komputer.
B. Komposisi Penggunaan Linux di STIS
Menurut pengamatan penulis, penggunaan Linux di STIS masih berupa wacana dalam mata kuliah Sistem Operasi. Pemakaian Linux masih sebatas kesadaran individual. Tidak ada satu PC pun di laboratorium komputer yang terinstal Linux.
-
Komposisi Penggunaan Linux di BPS
Menurut DR. Hasyim Gautama9, pemakaian Linux di BPS masih secara sukarela, belum ada aturan mengikat harus memakai Linux, tergantung kebijakan masing-masing bagian. Di Sub Direktorat Jaringan dan Komunikasi Data, Linux digunakan untuk email server10 dan proxy server11. Distribusi Linux yang digunakan adalah Fedora dan Gentoo. Sedangkan untuk PC klien di BPS masih menggunakan Windows XP dan Office 2000.
D. Permasalahan yang Timbul dengan Penggunaan Windows di STIS
Pengelola laboratorium komputer STIS pernah mengeluhkan gangguan-gangguan pada PC-PC yang dikelolanya kepada penulis. Menyebarnya virus bukanlah barang asing lagi. Lambatnya komputer, restart tiba-tiba, hang merupakan beberapa contoh akibat yang ditimbulkan oleh virus. Gangguan lain yang sering ditemui adalah mahasiswa yang mengutak-atik setting komputer, hingga komputer yang menjadi tidak bisa dipakai.
E. Permasalahan yang Timbul dengan Penggunaan Windows di BPS
Mahalnya lisensi menyebabkan lebih dari 1000 PC klien di BPS masih menggunakan Office 2000. Lebih dari tiga milyar rupiah harus dianggarkan untuk membeli Office 2003. Sebab harga resmi Office 2003 adalah US$ 362, atau sekitar Rp 3.258.00012.
Selain mengelola jaringan, ternyata Sub Direktorat Jaringan dan Komunikasi Data BPS juga bertugas menangani serangan virus di semua bagian. DR. Hasyim Gautama13 menyebutkan lambatnya jaringan, hilangnya data, dan email yang penuh sebagai beberapa akibat yang ditimbulkan oleh serangan virus.
Adanya serangan virus dapat menurunkan produktivitas. Performa komputer turun atau tidak bisa dipakai sama sekali. Data yang hilang pun harus di-entry kembali. Selain itu, ada waktu produktif yang akhirnya dihabiskan untuk perbaikan.
BAB III
URGENSI PEMANFAATAN LINUX
A. Selayang Pandang Linux
Linux adalah sistem operasi yang disebarkan secara luas dengan gratis di bawah lisensi GNU General Public License (GPL), yang berarti juga source code Linux tersedia. Itulah yang membuat Linux sangat spesial. Linux masih dikembangkan oleh kelompok-kelompok tanpa dibayar, yang banyak dijumpai di internet. Mereka tukar menukar kode, melaporkan bug, dan membenahi segala masalah yang ada. Setiap orang yang tertarik dipersilahkan untuk bergabung dalam pengembangan Linux.14
Pada dasarnya komputer hanya bisa menerima perintah dalam sinyal biner 0 dan 1. Untuk memerintahkan sesuatu, kita harus menyusunnya dalam bahasa yang dimengerti oleh komputer. Kemajuan bahasa pemrograman telah mempermudah penyusunan perintah tersebut. Pembuatan program sudah bisa dilakukan dengan bahasa pemrograman yang semakin mendekati bahasa manusia sehari-hari.15
Langkah pertama yang dilakukan untuk membuat program adalah mengidentifikasi masalah yang akan kita pecahkan dengan komputer. Selanjutnya kita susun urutan logika pemecahan masalahnya. Berikutnya kita terjemahkan logika tersebut dalam suatu bahasa pemrograman. Terakhir, kode program (biasa disebut sebagai source code atau kode sumber) yang sudah kita buat tadi kita terjemahkan dengan kompiler. Kompiler akan menerjemahkan program yang kita buat ke dalam bahasa biner yang dimengerti komputer. Setelah itu barulah program kita bisa dijalankan.
Sebagai sebuah sistem operasi, Linux juga dibuat dengan cara yang sama. Hanya saja, sistem operasi merupakan program kompleks yang langsung mengakses perangkat keras. Sistem operasi juga bertugas menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh program-program yang berjalan di atasnya.
Salah satu keunggulan Linux dalam dunia pendidikan komputer adalah kemampuannya menyediakan kode sumber (source code) sehingga dapat diteliti baris demi baris. Implementasi teori sistem operasi dapat diperlihatkan dengan jelas, bahkan penerapan suatu strategi pengaturan baru dapat langsung dilakukan. Sehingga perihal teoretis seperti manajemen task dapat dengan gamblang dijelaskan kaitannya dengan kode yang berjalan.
Linux membukakan kembali pintu baru bagi mahasiswa untuk mempelajari dunia komputasi. Tidak saja dalam penggunaan sistem operasi tetapi lebih dari itu. Hal ini sulit dilakukan dengan menggunakan sistem operasi propietary closed source. Sayang sekali kalau dunia pendidikan TI Indonesia hanya terpaku pada penggunaan sistem operasi populer propietary dan melepaskan kemungkinan mempelajari hal-hal yang lebih dalam ini.16
Keunggulan utama yang dapat kita peroleh dari Linux adalah dibukanya kode program pembuatannya (open source). Sehingga setiap orang dapat melihat, mempelajari cara kerjanya, dan memodifikasinya sesuai kebutuh-annya. Bila terjadi kesalahan kita dapat langsung memperbaikinya sendiri atau melaporkannya ke komunitas pengembang Linux. Keamanan sistem juga lebih terjamin karena tidak ada yang ditutup-tutupi.
Hal ini tidak dapat kita lakukan pada sistem operasi dan aplikasi yang closed source atau propietary. Para pengembang yang mendistribusikan sistem operasi dan aplikasinya dalam format propietary tidak menyediakan kode pembuatan programnya. Mereka menganggapnya sebagai kekayaan intelektual yang harus dibayar dengan lisensi. Padahal dengan open source semua orang akan saling menguntungkan dan diuntungkan.
Kita tidak bisa melihat perintah apa saja yang mereka masukkan dalam program yang kita pakai. bila terjadi masalah pada program yang kita pakai, kita harus menunggu para pengembang tersebut untuk untuk mencari solusinya. Hal ini bisa memakan waktu lama dan membuat kita bergantung kepada perusahaan yang mengembangkan program tersebut.
B. Keunggulan Linux
Keunggulan Linux dibandingkan dengan sistem operasi lain yaitu17:
-
Linux gratis. Pikirkan Anda mendapat “minuman gratis”. Linux itu 100% gratis, bukan shareware18. Meminjam kopian Linux dan menggunakannya pun masih termasuk legal, atau membeli CD-ROM Linux dengan hanya meng-ganti biaya pembakaran CD dan mungkin beberapa benda lain (manual, aplikasi bonus, dukungan teknis, dan lain-lain). Linux bahkan dapat diambil lewat Internet tanpa biaya tetapi akan menghabiskan waktu dan biaya pengambilan yang tidak murah.
-
Linux siap pakai. Sistem operasi lain memberikan aplikasi awal yang sangat sedikit, mungkin editor teks, aplikasi grafis sederhana dan beberapa permainan dan pengguna harus membeli aplikasi-aplikasi tambahan lainnya. Linux memberikan hampir semua yang pengguna butuhkan dan inginkan, antara lain: variasi editor teks, aplikasi grafis kompleks, browser, permainan, apliksi kantor, aplikasi network, kompiler19, video, audio, dan masih banyak lagi dalam satu paket distribusi.
-
Linux mudah diinstal. pasti banyak orang yang protes mengenai hal ini karena mitos umum adalah Linux sangat sulit diinstalasi, tetapi mungkin ini adalah Linux 3 atau 4 tahun lalu. Bacalah instruksi dengan baik dan ketahuilah jenis perangklat keras yang dipunyai maka…
-
Tidak ada hal yang menjadi sulit. Beberapa kesulitan dapat diatasi dengan berdiskusi antar pengguna Linux baik melalui mailing list atau pun menghubungi Kelompok Pengguna Luinux di kota masing-masing.
-
Linux multitasking. Linux dapat menjalankan beberapa aplikasi dalam waktu yang sama dan masing-masing aplikasi juga dapat melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang sama (multithreading).
-
Linux multiuser. Lebih dari satu orang dapat memakai Linux pada pada saat yang bersamaan dan hal ini tentunya dapat dilakukan dalam lingkungan jaringan komputer.
-
Linux handal. Linux dapat menangani situs web yang mendapat akses jutaan per hari. Dengan tambahan peralatan Linux dapat berkompetisi dengan super-komputer berharga jutaan dolar. Banyak komputer Linux yang berjalan selama tahunan tanpa pernah sekalipun crash dan ini menunjukkan kehandalannya.
-
Linux fleksibel. Linux tidak peduli apabila dipakai bukan dengan komputer terhebat di pasaran. Ia berjalan dengan baik dengan apapun yang ada misalnya dengan komputer 486 dan memori 8MB. Linux juga dapat berjalan dengan harddisk 50 MB tanpa grafis bahkan untuk sekedar perawatan Linux dapat berjalan dengan hanya satu disket saja.
-
Linux kompatibel. Linux dapat dijalankan di berbagai jenis komputer seperti 386/486/Pentium PC, Macintosh dan PowerPC bahkan komputer Alpha dan SPARC. Linux juga mampu menangani multi prosesor dan mampu menangani hampir semua kartu audio dan video. Linux dapat diinstalasi di harddisk berisi Windows/ DOS (selama masih ada ruang sisa) dan tidak mempengaruhi kinerja keduanya. Linux punya tampilan grafis. Banyak orang (terutama reporter) sepertinya berpikir bahwa Linux itu tidak mempunyai tampilan grafis. Padahal tidak hanya mempunyai satu GUI (Graphical User Interface), tapi Linux mempunyai lusinan GUI. Ingin tampilan seperti Windows 3X, Windows 9X, atau Macintosh, Linux bisa menyediakannya.
-
Linux aman. Selain fakta keuntungan keamanan jaringannya, Linux juga aman untuk penggunaan rumahan. Hanya dengan beberapa persiapan sekuriti dan pengguna rumahan akan aman terhadap virus, lagipula virus tidak dapat mengganggu banyak pada komputer Linux. Apabila pengguna menciptakan account sendiri untuk penggunaan sehari-hari maka sangatlah mustahil untuk melakukan sesuatu yang bodoh seperti memformat harddisk tanpa sengaja.
-
Linux bebas. Tidak seperti sistem operasi pada umumnya, Linux adalah aplikasi gratis. Untuk tambahan penjelasan pertama di atas maka pikirkan “kebebasan berbicara”. Linux disebarkan dengan kode program-nya. Mungkin ada yang berpikiran, “Untuk apa? Saya bukan pemrogram!” Tetapi dengan terdistribusinya kode pembuatan maka tidak ada pihak yang dapat mematikan Linux dengan alasan apapun.
-
Linux tidaklah sempurna. Tidak akan jujur sebuah pernyataan apabila tidak mengungkapkan kelemahan. Dengan mengetahui kelemahan Linux maka pengguna dapat mengetahui sejauh mana Linux dapat dikembangkan dan jangan khawatir dari hari ke hari kelemahan Linux makin berkurang (terbukti dengan GUI Linux).
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Demikian pula halnya Linux. Akan tetapi banyaknya keunggulan Linux di atas tampaknya lebih dari cukup untuk membuka pandangan kita. Dengan begitu banyaknya kelebihan Linux, diharapkan bisa menjadi alternatif sistem operasi yang aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan.
C. Urgensi Pemanfaatan Linux
…menurut versi BSA (Bussiness Software Alliance—penulis), Indonesia termasuk ke dalam lima besar negara yang paling banyak melakukan pembajakan.20
Predikat sebagai negara pembajak software tentu dapat merendahkan martabat bangsa. Lantas, bila ingin membeli harganya terlalu mahal. Murahnya Linux dan banyak kelebihan lain menyebabkan pemanfaatan Linux tidak dapat ditunda lagi.
Tetapi kelebihan-kelebihan Linux yang sudah dipaparkan tidak lantas membuat orang memakainya. Seringkali orang masih ragu dan takut mencoba. Sebab, kelebihan-kelebihan tadi masih dirasa abstrak. Berikut ini contoh nyata yang bisa menghilangkan keraguan kita akan performa Linux.
…solusi open source jauh lebih dulu menyediakan GUI berbahasa Indonesia daripada propietary. Solusi server open source andal, sehingga dipilih oleh www.presidensby.info sebagai infrastruktur utama.21
Kekhawatiran akan kurangnya dukungan terhadap Linux juga tidak dapat dijadikan alasan lagi. Karena:
Linux telah mulai didukung perusahaan besar seperti IBM, Informix, SyBase, Oracle, Corel, Intel, Sun Microsystem, Compaq, Dell, dan sebagainya.22
Tidak hanya dukungan dari perusahaan besar, Linux juga sudah didukung oleh pemerintah Indonesia sebagai solusi maraknya pembajakan.
Akhir bulan Agustus 2004 yang lalu, gubernur California, Arnold Schwarzenegger yang dikenal sebagai Terminator membuat satu pernyataan yang cukup kontroversi, yaitu menghimbau seluruh jajarannya untuk memotong anggaran belanja negara dengan menggunakan program open source. Itu berarti menghentikan dukungannya terhadap Microsoft, mengikuti beberapa negara bagian Amerika yang sudah sejak beberapa lama membentuk Government Open Code Collaborative Repository(http://www.gocc.gov)
Indonesia juga tidak kalah dengan gerakan Mr. Terminator tersebut, karena satu bulan sebelumnya, yaitu pada 1 Juli 2004, lima menteri di pemerintahan Megawati yaitu Menteri NegaraRiset dan Teknologi, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Kehakiman dan HAM, serta menteri Pendidikan Nasional secara resmi menyatakan akan menggalakkan penggunaan standar software terbuka melalui gerakan Indonesia Go Open Source (IGOS) yang konon dapat menghemat belanja sampai 20 triliun rupiah.23
BPS (dan STIS sebagai penyangganya) adalah lembaga yang berkecimpung dalam pengolahan data makro. Kekuatan dan kehandalan komputer tentunya menjadi salah satu faktor kunci dalam pengolahan data tersebut. Sebagai BUMN yang memiliki track record komputasi terbaik, seharusnya BPS mampu melihat potensi besar ini.
BPS memang sudah lebih open source daripada proyek IGOS. Sebab, BPS sudah memakai Linux Fedora dan Gentoo sebagai server email dan proxy. Stabilitas Linux dan harga yang murah menjadi pertimbangan utama.24 Akan tetapi mengapa belum diaplikasikan ke PC-PC klien? Kemudahan dalam menggunakan suatu aplikasi hanyalah faktor kebiasaan. Migrasi ke solusi open source juga dapat dilakukan secara bertahap. Kinerja yang baik dan performa Linux yang handal dapat meningkatkan produktivitas BPS. Aplikasi substitusi pun sudah banyak tersedia.
Beberapa tahun yang lalu mungkin sulit mencari pengganti aplikasi yang biasa kita pakai di Windows dalam platform Linux. Namun kini bahkan ada banyak pilihan aplikasi yang dapat menggantikannya.
Berbagai paket Office kini dapat kita temukan. Diantaranya ada Open Office, StarOffice, Koffice, Gnome Office, dan Corel Word Perfect. Paket ini datang dengan word processor (semacam Word), spreadsheet (semacam Excel), presentation (semacam PowerPoint), dan terkadang ditambah beberapa aplikasi lainnya. Ada pula kelompok LaTex yang sangat powerful untuk pembuatan dokumen ilmiah.
Adobe telah menyediakan Acrobat Reader versi Linux. The GIMP dapat menggantikan Photoshop sebagai sebuah pengolah gambar yang kompleks. Aplikasi multimedia untuk mendengarkan musik atau menonton video bisa ditangani oleh Mplayer, Totem, Xine, Amarok, Kaffeine dan lain-lain.
Alih-alih menggunakan Visual Basic dalam pemrograman, kita bisa menggunakan Gambas, Java, Phyton atau C++. Atau daripada menggunakan SQL Server untuk database, kita bisa menggunakan MySQL, PostgreSQL, dan lain-lain. Bagi yang menyukai .NET juga sudah tersedia Mono. Perancangan dan pembuatan diagram seperti flowchart, DFD dan UML dapat dilakukan oleh Dia atau Visual Paradigm for UML.
Luasnya operating system yang dapat mengoperasikan Stata menyebabkan Stata menjadi salah satu standard yang dipergunakan oleh perusahaan terkenal dunia seperti World Bank, Philips, beserta universitas terkenal dunia. Operating sytem dalam kelompok Windows: Windows ME/98/95/2000/NT, Operating system Macintosh, Unix, Linux baik untuk Power Macintosh maupun Intel, HP-UX, AIX, Solaris (SPARC), Digital Unix, yang kesmuanya untuk penguna tunggal maupun pengguna dalam sistim networking.25
Aplikasi geocomputing seperti GIS dapat diwakili oleh Gpsdrive.26 Stata dapat menggantikan SPSS untuk analisis statistik. Bagi yang tetap ingin sesuatu yang mirip dengan SPSS juga tersedia SalStat.27
Selama ini proses pembelajaran di STIS (di laboratorium komputer) masih banyak menggunakan aplikasi berbasis Windows. Hadirnya aplikasi-aplikasi pengganti di atas juga mendorong urgensi pemanfaatan Linux di STIS. Alasan seperti tidak adanya aplikasi tertentu di Linux tidak lagi valid. Pembelajaran pemrograman, database, sistem operasi, dan statistik tidak lagi harus dijalankan di atas platform Windows.
Menurut DR Hasyim Gautama, SDM di BPS yang mengerti Linux masih sangat sedikit, tetapi untuk orang jaringan harus tahu.28 Sebagai penyedia SDM untuk BPS, STIS perlu memperhatikan hal ini. Selain itu, sebagai sebuah institusi pendidikan, seharusnya STIS lebih cepat mengadopsi teknologi baru.
Institusi pendidikan harus berfungsi sebagai lembaga riset. Linux dan open source memungkinkan STIS membangun aplikasi dan sistem dengan teknologi terbaru sesuai kebutuhan BPS. Aplikasi dan sistem yang dibangun dengan matang tentu akan membawa manfaat lebih besar. Selain itu, dengan membangun sendiri, kita telah berperan sebagai produsen. Kita tidak lagi hanya menunggu dan menjadi konsumen.
BAB IV
ANALISIS SWOT
PADA PEMANFAATAN LINUX
A. Metode SWOT dan Deduksi
-
-
-
Buku A Guide to the Project Management Body of Knowledge, (PMBOK® Guide) menyebutkan analisis SWOT sebagai:
-
Information gathering technique examines the project from the perspective of each project’s strengths, weaknesses, opportunities, and threats to increase the breadth of the risks considered by risk management.29
-
-
Sebuah teknik pengumpulan informasi dengan melihat kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunities) dan ancaman (threats)yang ada dalam penerapan suatu proyek. Informasi yang terkumpul akan kita pilah-pilah dalam bentuk tabel SWOT. Dengan pemilahan informasi tersebut kita dapat meningkatkan keluasan pertimbangan resiko dalam penerapan sesuatu. Teknik ini akan kita gunakan untuk mengukur resiko pemanfaatan Linux di lingkungan STIS dan BPS.
Deduksi merupakan bentuk inferensi yang bertujuan menarik kesimpulan—kesimpulan ini haruslah sebagai akibat dari alasan-alasan yang diajukan. Alasan-alasan ini dikatakan mencerminkan suatu kesimpulan dan memberikan suatu bukti. Ini adalah hubungan antara alasan dan kesimpulan yang lebih kuat daripada dalam induksi.30
Selanjutnya hasil analisis SWOT tersebut akan kita simpulkan dengan menggunakan penalaran deduksi. Tabel SWOT yang berisi informasi yang sudah dikategorikan akan menjadi alasan yang digunakan dalam teknik inferensi ini.
Tabel SWOT Pemanfaatan Linux di STIS dan BPS31
-
Strength
Weakness
Kita dapat memperkirakan bahwa resiko pemafaatan Linux relatif kecil. Hal ini dapat kita simpulkan dari banyaknya unsur positif dalam pemanfaatan Linux daripada unsur negatifnya. Perlawanan dari Microsoft dan adanya software non-GPL (General Public License) yang tidak open source dapat dilawan oleh adanya dukungan pemerintah dan vendor-vendor besar (IBM, Intel, Dell, dan lain-lain). Dengan resiko yang minimal, dengan demikian pemakaian Linux tidak akan terlalu bermasalah.
B. Alternatif Solusi
Beberapa solusi yang dapat diajukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penggunaan Linux adalah dengan menambahkan Linux dalam kurikulum. Linux dijadikan salah satu bahasan penting, seperti halnya juga bahasan sistem operasi lain seperti Windows. Dengan cara ini diharapkan mahasiswa bisa memanfaatkan ilmunya di dunia kerja nanti dan menjadi lebih kreatif. Namun, hal pertama yang harus mendapatkan perhatian adalah dengan menambahkan Linux di laboratorium komputer STIS. Dengan begitu, mahasiswa mempunyai akses pembelajaran Linux secara keseluruhan; bukan hanya teori di kelas saja, tapi juga disertai dengan praktek di laboratorium.
Budi Rahardjo32 mengatakan:
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa sekolah ilmu komputer tidak diperlukan di Indonesia. Mereka berpendapat demikian setelah melihat bahwa banyak progammer di Indonesia yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang Ilmu Komputer (computer science) atau yang sejenis. Jika memang demikian, apa gunanya seolah ilmu komputer?
Memang banyak orang yang (merasa) pandai membuat program tanpa memiliki dasar ilmu komputer. Namun, mereka ini sebetulnya hanya cocok untuk membuat program dalam skala yang kecil. Begitu mereka diminta untuk membuat program dalam skala besar, maka hasilnya tidak baik. Ada program yang berjalan sangat lambat dan bahkan tidak dapat digunakan dalam skala yang besar. Misalnya, programnya jalan untuk 100 pengguna, akan tetapi menjadi gagal berfungsi jika digunakan untuk 1000 pengguna.
Kalau dianalogikan dengan dunia arsitektur atau sipil, ini sama dengan orang biasa yang merasa bisa mendesain dan membangun rumah. Banyak orang yang mendesain dan membangun rumahnya sendiri. Hal ini memang masih bisa untuk rumah yang kecil atau bahkan dua tingkat. Akan tetapi orang yang bersangkutan tidak dapat digunakan untuk mendesain dan membangun hotel dengan 20 lantai dan ratusan kamar.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
-
Penggunaan Linux di STIS masih berupa wacana dalam mata kuliah Sistem Operasi.
-
Penerapan Undang-undang Hak atas Kekayaan Intelektual (UU HaKI) pada 29 Juli 2003 seharusnya membuka mata kita untuk mencari alternatif sistem operasi lain yang murah tetapi dapat diandalkan, mudah digunakan, dan aman dari gangguan virus.
-
Murahnya Linux dan banyak kelebihan lain menyebabkan pemanfaatan Linux tidak dapat ditunda lagi.
B. Saran
-
Sebagai sebuah institusi pendidikan, seharusnya STIS lebih cepat mengadopsi teknologi baru.
-
Institusi pendidikan harus berfungsi sebagai lembaga riset. Linux dan open source memungkinkan STIS membangun aplikasi dan sistem dengan teknologi terbaru sesuai kebutuhan BPS.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Brunner, Laurel dan Zoran Jevtic. 1998. Mengenal Internet for Beginners. Bandung: Mizan.
Cooper, Donald R. dan C. William Emory. Metode Penelitian Bisnis, Jilid 1, Edisi Kelima. Erlangga: Jakarta.
Hosea, Donny. 2001. Statistik Menggunakan Stata 7.0: Singkat Tepat Jelas. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Hariyanto, Bambang. 2005. Sistem Operasi: Edisi Kedua. Bandung: Informatika.
Keraf, Gorys. 1984. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Flores: Nusa Indah.
Nadjib, Emha Ainun. 1995. Opini Plesetan. Bandung: Mizan.
Prayitno, Warso dan I Made Wiryana. 2002. Be LINUXer with Mandrake 8.0. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Team Lib. 2004. A Guide to the Project Management Body of Knowledge, (PMBOK® Guide). Pennsylvania: Project Management Institute.
B. Majalah
“Jawaban untuk HaKI: Linux”. Majalah InfoLINUX, Juni, 2003 .
“Mengenal Sistem Operasi UNIX-Like”. Majalah InfoLINUX, Januari, 2001.
“PC Market”, Majalah PCMedia. Edisi April 2007.
Gunung Sarjono, ”Proxy Server: Apa dan Bagaimana”, PCMedia, April, 2007.
Noprianto, “.NET di Linux”, Majalah InfoLINUX, Februari, 2007.
________, “Linux untuk Generasi Penerus Bangsa”, Majalah InfoLINUX, Juli, 2004.
Rahardjo, Budi. “Perlukah Sekolah Ilmu Komputer?”, Majalah InfoLINUX. Mei, 2005.
Sunggiardi, Michael S. “Open Source = Cut Budget?” Majalah Info LINUX. Oktober, 2004.
Supriyanto, “Migrasi Radikal ke Linux”, Majalah InfoLINUX. November, 2006.
Wiryana, I Made. “The Girl from Ipanema dan Linux”. Majalah InfoLINUX. Juni, 2005.
______________. “Tiup Lilin di tengah MoU Siluman”. Majalah InfoLINUX. Januari, 2007.
C. Internet
1 Lisensi resmi Microsoft Windows XP Professional with SP2 untuk satu komputer adalah
US$ 295 atau sekitar Rp 2.655.000 dengan asumsi kurs $1 = Rp 9.000 (“PCMarket”, Majalah PCMedia April, 2007, halaman 184)
2Sumitro Rustam adalah mantan Direktur Indosat, Direktur PT Pos Indonesia, sekarang Komisaris PT Pos Indonesia yang aktif menyarankan Linux sebagai solusi UU HaKI.
“Jawaban untuk HaKI: Linux”. Majalah InfoLINUX, Juni, 2003, hal. 32
3Ibid.
4I Made Wiryana, Kata Pengantar Pakar, Be LINUXer with Mandrake 8.0 (Penerbit ANDI, 2002), hal. x
5 GNU adalah singkatan dari GNU Not Unix. Proyek ini diluncurkan tahun 1984 untuk mengembangkan sistem operasi unix-like yang lengkap, dengan kata lain, GNU System. Salah satu varian GNU ini menggunakan kernel Linux, sehingga sering disebut sebagai GNU/Linux.
(“Mengenal Sistem Operasi UNIX-Like”. Majalah InfoLINUX, Januari, 2001, Hal. 11-12)
6Konsep open source akan dibahas di Bab III—penulis.
7Crash atau down adalah kondisi komputer sangat lambat atau tidak bisa dipakai sama sekali— penulis.
8Sumber daya komputer dibagi menjadi dua yaitu sumber daya fisik dan sumber daya abstrak. Sumber daya fisik, misalnya: keyboard, mouse, layar monitor, memori, harddisk, scanner, dan sebagainya. Sedangkan sumber daya abstrak terdiri dari data dan program. Bambang Hariyanto, Sistem Operasi (Informatika, 2005) hal. 19-20
9 Dirangkum dari hasil wawancara penulis di BPS Pusat, pada tanggal 11 Juni 2007.
10 “…server adalah komputer induk yang melayani komputer lain, sedangkan klien adalah komputer yang memanfaatkan komputer server.” (Laurel Brunner dan Zoran Jevtic, Mengenal Internet for Beginners. (Mizan, 1998) hal. 31
Email server berguna untuk melayani akses email keluar masuk, juga dapat berguna untuk menyaring email yang berisi iklan—penulis.
11 “Proxy server mula-mula dikembangkan untuk menyimpan halaman web yang sering diakses. Dengan menyimpan halaman tersebut pada server lokal, proxy dapat menghilangkan akses internet yang berlebih untuk mengambil kembali halaman yang sama berulang-ulang.”
(Gunung Sarjono, ”Proxy Server: Apa dan Bagaimana”, PCMedia, April, 2007, hal 142)
12Diasumsikan kurs dolar US$ 1 = Rp 9.000 (”PCMarket”, Majalah PCMedia,April, 2007, halaman 184)
13Dirangkum dari hasil wawancara penulis di BPS Pusat, pada tanggal 11 Juni 2007.
14 “Mengenal Sistem Operasi UNIX-Like”. Majalah InfoLINUX, Januari, 2001, hal. 11-12
15Bahasa manusia yang dimaksud adalah bahasa Inggris, sebab kebanyakan pembuat komputer pertama menggunakan bahasa Inggris. Bahasa pemrograman dapat dipelajari setiap orang yang berminat dengan modal bahasa Inggris dan logika pemecahan masalah.
16 I Made Wiryana. “The Girl from Ipanema dan Linux”. Majalah InfoLINUX. Juni, 2005, hal 10
17 “Mengenal Sistem Operasi UNIX-Like”. Majalah InfoLINUX. Januari, 2001, Hal. 11-12
18 Shareware adalah program yang diberikan secara gratis namun hanya untuk uji coba. Biasanya ada pengurangan fungsi program atau pembatasan masa pakai pada aplikasi ini—penulis.
19Browser adalah program untuk mengakes internet di PC klien. Aplikasi network dipakai untuk menghubungan, mengelola, dan melakukan kegiatan dalam suatu jaringan komputer. Kompiler adalah program yang menterjemahkan kode-kode program dalam bahasa yang mendekati bahasa manusia menjadi kode-kode biner yang dimengerti komputer.
20 Supriyanto, ”Migrasi Radikal ke Linux”, Majalah InfoLINUX. November 2006, hal. 42
21 I Made Wiryana, “Tiup Lilin di tengah MoU Siluman”. Majalah InfoLINUX. Januari, 2007, hal. 10
22 Hariyanto, Bambang. Sistem Operasi (Informatika, 2005) hal. 52
23 Michael S. Sunggiardi. “Open Source = Cut Budget?”, Majalah Info LINUX. Oktober, 2004, hal. 12
24 Dirangkum dari hasil wawancara penulis dengan DR. Hasyim Gautama, Sub Direktorat Jaringan dan Komunikasi Data, di BPS Pusat, pada tanggal 11 Juni 2007.
25 Donny Hosea. Statistik Menggunakan Stata 7.0: Singkat Tepat Jelas. (Elex Media Komputindo, 2001), hal. viii
26 Contoh aplikasi yang disebutkan di atas disarikan dari Noprianto, “Linux untuk Generasi Penerus Bangsa”, Majalah InfoLINUX, Juli, 2004. hal. 42-43; Supriyanto, “Software”, Majalah InfoLINUX, November, 2006, hal. 23; dan Noprianto, “.NET di Linux”, Majalah InfoLINUX, Februari, 2007, hal. 30)
27 Keterangan lebih lanjut mengenai SalStat bisa diperoleh di www.linux.org
28 Dirangkum dari hasil wawancara penulis di BPS Pusat, pada tanggal 11 Juni 2007.
-
29 Team Lib. A Guide to the Project Management Body of Knowledge, (PMBOK® Guide), (Project Management Institute, 2004), hal. Definitions.
30Donald R. Cooper dan C. William Emory. Metode Penelitian Bisnis, Jilid 1, Edisi Kelima. (Erlangga), hal. 27.
31Tabel SWOT ini disusun berdasarkan paparan penulis pada bab-bab sebelumnya.
32 Budi Rahardjo, “Perlukah Sekolah Ilmu Komputer?”, Majalah InfoLINUX. Mei, 2005, hal. 11
PERANGI NARKOBA DARI DALAM HATI December 28, 2007
Posted by asakuratorvald in About Paper.Tags: narkoba, paper
1 comment so far
BAB I
PENDAHULUAN
Banyak orang yang secara sempit mengantikan narkoba sebagai obat yang membuat seseorang kecanduan, sakaw, lalu mati. Sebenarnya definisi narkoba lebih luas lagi dari itu. Sebuah obat aman, seperti parasetamol misalnya, bila dikonsumsi bukan untuk tujuan pengobatan dan digunakan dalam waktu yang lama sehingga menimbulkan kecanduan, dapat dikategorikan sebagai narkoba.
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah napza yang merupakan singkatan dari ‘Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif’.[1]
Penggunaan obat-obatan ini bukan untuk tujuan pengobatan itu sendiri. Namun lebih kepada pelarian dan pencarian tempat sembunyi. Pengguna narkoba ingin merasakan dirinya ”hilang” sejenak dari masalah dan dunia yang mengurungnya. Memang, ada beberapa pengguna yang awalnya hanya ikut-ikutan saja lalu menjadi ketagihan. Namun lebih banyak pengguna yang sudah mengetahui akibat yang ditimbulkan narikoba—dari ketagihan hingga kematian—namun tetap memakainya.
Bisnis narkoba adalah bisnis besar dengan keuntungan yang sangat menggiurkan karena tidak terkena pajak. Peredarannya secara sembunyi-sembunyi membuat keberadaan narkoba akan terus ada dan sulit dibasmi.
Koordinator Satgas IV Badan Narkotika Nasional (BNN), Kombes Pol Bambang Haryoko mengatakan[2]:
Sekitar 30 hingga 40 orang meninggal setiap hari akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia, dari perkiraan pengguna narkoba sekitar 3,2 juta jiwa.
Dampak lain yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba adalah menurunnya kecerdasan dan daya konsentrasi sehingga menjadi mudah pelupa.
Begitu banyak bahaya yang ditimbulkannya. Penurunan kecerdasan dan daya konsentrasi mungkin adalah hal yang paling ringan. Ketagihan terhadap zat adiktif lebih membahayakan lagi. Ketagihan ini membuat seorang pengguna harus menaikkan dosis obat yang dikonsumsinya agar efek yang dirasakannya tetap sama.
Efek halusinasi, disorientasi terhadap ruang, sampai ketidaksadaran menjadi hal yang membahayakan, tapi dicari oleh pengguna. Efek seperti ini membuat mereka merasa ”terpisahkan” untuk sementara waktu dari dunia tempat mereka tinggal.
BAB II
PENANGANAN NARKOBA
Penanganan Narkoba yang Sudah Ada
Perang terhadap narkoba sudah dimulai. Bahkan sudah begitu lama dimulai. Pada penemuan jarum suntik sekitar tahun 60-an, orang-orang beranggapan bahwa penggunaan narkoba—ketika itu jenis zat yang digunakan adalah heroin—tidak akan berdampak buruk lagi karena zat itu langsung disuntikkan. Bukan dikonsumsi lewat hidung seperti biasanya. Tapi kenyataannya, jarum suntik malah membuat zat tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh dan efek yang ditimbulkannya menjadi lebih cepat pula terasa. Jarum suntik pun menjadi salah satu alat bantu penggunaan narkoba yang paling populer sampai sekarang dan menjadi sangat beresiko memunculkan penyakit AIDS. Para pengguna narkoba selain terancam nyawanya oleh penggunaan obat itu sendiri, juga menjadi sasaran empuk penyebaran virus HIV.
Terapi metadon adalah salah satu aplikasi pengurangan dampak buruk narkoba, yang di dunia dikenal sebagai harm reduction. Ini adalah metode pengurangan berbagai risiko akibat penggunaan narkoba. Filosofi pengurangan dampak buruk adalah menguatkan kemampuan individu membuat keputusan rasional untuk menghargai hak-hak kesehatan dirinya maupun orang lain.
Karena penggunaan narkoba terutama suntikan berisiko ditulari atau menulari AIDS maupun Hepatitis B dan C, maka mereka harus diajarkan menggunakan jarum suntik steril dan cara menyuntik aman sebelum bisa berhenti menggunakan narkoba. Karena mereka perlu waktu melawan ketergantungannya, diberikan pengganti narkoba yang tidak adiktif dengan dosis yang terus berkurang.
Namun, muncul pro dan kontra di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, metadon termasuk jenis obat golongan II yang berkhasiat dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan, tetapi berpotensi menimbulkan ketergantungan.
Psikiater RSKO dr Diah Setia Utami meyakini aplikasi pengurangan dampak buruk merupakan pendekatan paling efektif dibandingkan pendekatan lain. Pemulihan seseorang yang telah bertahun-tahun tergantung narkoba tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Salah satu caranya ya dengan terapi substitusi metadon itu, katanya.[3]
Cara terapi ini memang membutuhkan waktu yang lama. Bukan hal yang mudah memang untuk menarik seorang pengguna dari kenyamanan dunianya dengan narkoba.
Direktur Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Fatmawati Dr Ratna Mardiati, Selasa (14/2), menuturkan, sekalipun Depkes menyusun standardisasi, setiap panti rehabilitasi seolah-olah punya standar sendiri. Dari pilihan detoksifikasi hingga terapi sosial-psikologisnya. Hal itu menimbulkan kontroversi, katanya.
RSKO, misalnya, menawarkan pengurangan ketergantungan terhadap narkotika dengan cara substitusi metadon. Meski masih kontroversi, ternyata sejak dilaksanakan pada tahun 2003 sampai sekarang, cara ini dinilai membantu mengurangi ketergantungan pada narkotika.
Psikiater RSKO Cibubur dr Diah Setia Utami menyatakan, penelitian RSKO membuktikan metode substitusi ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Salah satu kelebihan metode substitusi adalah para korban bisa menjalani detoksifikasi tanpa kehilangan kesempatan menjalankan aktivitas rutin mereka.
Meski demikian, Prof Dr dr Dadang Hawari, guru besar psikiater Universitas Indonesia menentang keras metode itu. Itu sama sekali tidak membantu penderita pulih, katanya. Menurut dia, cara detoksifikasi tradisional, yaitu dengan cara memutus secara total pemakaian heroin atau putau, lebih efektif.[4]
Penghentian total seperti yang disarankan oleh Prof. DR. Dr. Dadang Hawari memang sebuah langkah yang sangat sulit. Sangat tidak mungkin memutus begitu saja hubungan antara pengguna dan obat yang dikonsumsinya. Tapi ini akan menjadi langkah yang cepat sekaligus menyakitkan. Pemutusan secara tiba-tiba dapat membuat seorang pengguna menjadi kaget dan melawan.
Ahli rehabilitasi narkotika Balai Kasih Sayang Pamardi Siwi, dr Indrarini Listyowati, menjelaskan detoksifikasi medis memang efektif mengeluarkan racun putau, heroin, yang menimbulkan efek ketagihan. Namun, itu hanya langkah awal.
Ketergantungan narkotika adalah perilaku, bukan sekadar efek zat adiktif. Tanpa rehabilitasi sosial yang mengubah perilaku korban, ia akan kembali mengonsumsi narkotika, kata Indrarini.
Namun, tidak semua korban yang menjalani detoksifikasi lantas menjalani rehabilitasi sosial walau Pamardi Siwi selalu menawarkannya. Keikutsertaan korban itu pilihan keluarga. Tak ada aturan yang mewajibkan pasien pascadetoksifikasi mengikuti rehabilitasi sosial, kata Indrarini.[5]
Semua hal yang dijelaskan di atas adalah hal yang dilakukan bila seseorang sudah menjadi pemakai narkoba. Hal yang paling penting dan paling mujarab untuk menghentikan meluasnya penguunaan narkoba adalah sosialisasi bahaya narkoba itu sendiri kepada orang-orang—terutama remaja—yang belum menggunakannya.
Tahu tentang bahayanya membuat remaja menjadi waspada. Namun ini hanya salah satu hal yang bisa dilakukan. Sebanyak apapun seminar yang diadakan tidak akan mengubah pandangan terhadap narkoba bila hal tersebut tidak dibarengi dengan usaha penyadaran dari dalam diri. Hanya diri kita sendirilah yang bisa memutuskan sesuatu. Input dari luar memang membantu kita untuk mengatur langkah dan mengambil posisi, namun hal ini hanya akan mempengaruhi sebagian kecil saja. Diri kita—dan kesadaran yang ada di dalamnya—menjadi hal yang paling kuat yang bisa dijadikan benteng melawan narkoba.
Motivasi yang didapat saat mengikuti seminar adalah motivasi yang berasal dari luar atau motivasi ekstrinsik. Motivasi jenis ini tidak bisa bertahan lama. Untuk berubah dan mencapai sukses kita harus mempunyai motivasi yang tumbuh dari dalam (intrinsik).
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar dan bersifat sementara. Motivasi eksternal membuat kita sangat bersemangat, pada saat di seminar, namun tidak bisa membuat semangat itu bertahan lama. Motivasi eksternal dapat mempengaruhi kita untuk melakukan perubahan namun tidak bisa membuat perubahan bagi kita.[6]
BAB III
MEMERANGI NARKOBA DARI DALAM HATI
Ancaman narkoba seharusnya meniadakan pengguna narkoba. Namun pada kenyataannya ada beberapa juta jiwa yang mengalami ketergantungan pada narkoba di Indonesia. Bila mengetahui bahaya dan ancaman narkoba, seharusnya semua orang akan menjauhi dan menghindarinya.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki suara yang sama dari hati nuraninya. Apa yang terbersit dalam hati seseorang ketika sedang makan di pinggir jalan, lalu tiba-tiba ada anak perempuan kecil berusia lima tahun berdiri tepat di depannya, menatap makanan yang dipegangnya dengan penuh harap. Pada situasi tersebut, setiap orang akan mendengar suara hati yang mendorongnya ingin memberikan makanan yang sedang dimakannya kepada gadis kecil itu.
Seseorang yang sehat memutuskan suatu tindakan berdasarkan dorongan hati dan pertimbangan akal. Demikian pula yang terjadi ketika menyikapi adanya narkoba. Hal sama juga bisa diterapkan dalam menyikapi kehadiran narkoba. Bila seseorang mendapat fikiran yang tepat bahwa narkoba sangat berbahaya dan dapat mengancam kehidupannya, ia pasti akan memenuhi panggilan hatinya untuk menghindari dan menjauhi narkoba. Bila itu tidak terjadi, berarti suara hati seseorang sedang terbelenggu sehingga kurang berperan.
Mengadopsi dan memodifikasi teori Ary Ginanjar Agustian tentang Zero Mind Process [7] , ada 7 belenggu yang meniadakan atau mengurangi peran suara hati dalam bertindak. Tujuh belenggu tersebut yaitu: prasangka, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding, dan literatur.
Belenggu 1: Prasangka
Prasangka adalah dugaan yang tidak berdasar. Orang yang terjerat narkoba—baik sebagai pecandu atau bandar—mungkin melihat narkoba sebagai hal yang menarik. Mereka mendapat info indahnya narkoba dari teman yang telah memakai. Mereka diberitahu bahwa narkoba sangat menyenangkan. Narkoba pun diklaim dapat menyelesaikan masalah apa pun yang sedang dialami—meski hanya sesaat.
Seorang bandar melihat narkoba sebagai sebuah bisnis yang menggiurkan. Ia tidak sadar sedang menghancurkan bangsanya. Ia tahu bahaya narkoba. Tapi ia tidak merasa bersalah karena banyaknya fulus yang dia terima dari pengedaran narkoba. Selain itu, yang dia jerat dengan narkoba bukanlah keluarganya. Sejahat-jahatnya bandar, pasti tidak akan tega merusak anak, istri atau suami sendiri.
Mereka tidak sadar bahwa itu hanya prasangka. Bukan info yang sepenuhnya benar. Prasangka terjadi karena adanya informasi yang hilang. Mereka tidak mendapat kabar tentang bahaya narkoba. Baik dari yang telah memakai maupun yang belum—dan semoga tidak—memakai. Mereka tidak menerima berita buruk penyalahgunaan narkoba.
Belenggu ini harus dihilangkan. Berita buruk harus disampaikan. Agar prasangka seperti ini tidak lagi membelenggu hati nurani kita.
Belenggu 2: Prinsip hidup
Sebuah prinsip hidup (way of life) tidak akan mudah goyah. Setiap orang pasti memilikinya. Bahkan menjalani hidup tanpa prinsip yang jelas adalah sebuah prinsip hidup. Namun terkadang kita memiliki prinsip hidup yang tidak sesuai dengan hati nurani.
Prinsip hidup tersebut dapat membungkam suara hati kita. Hedonism adalah salah satunya. Paham ini dianut orang-orang yang mencari kesenangan semata-mata. Penganut paham ini tidak lagi mengindahkan suara dari hatinya. Mereka menekan dan membekap nuraninya. Nurani pun akhirnya berhenti bersuara dan membatu.
Penganut hedonis akan melihat narkoba sebagai pemberi kesenangan. Melakukan apa pun untuk mendapatkan dan mengedarkannya. Padahal kesenangan tersebut semu. Hati kita harus dibebaskan dari belenggu ini.
Belenggu 3: Pengalaman
Pengalaman adalah guru yang baik. Namun, perlu diketahui bahwa pengalaman yang dimaksud oleh peribahasa tersebut bukanlah kumpulan peristiwa yang menimpa seseorang. Akan tetapi kumpulan sikap seseorang ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang menimpanya.
Ia akan mendapat pengalaman sejati jika dapat bertindak benar menghadapi peristiwa-peristiwa yang menimpanya. Sebaliknya, bila ia justru lari dari masalah atau bertindak gegabah, ia tidak akan mendapatkan pengalaman sejati dari peristiwa-peristiwa yang menimpanya.
Seringkali seseorang terjerat narkoba karena ingin lari dari suatu masalah. Banyak hal buruk terjadi dalam kehidupannya. Lalu datanglah teman—yang sebenarnya lawan—membawa shabu-shabu atau putaw sebagai solusi. Teman tersebut mengaku telah terbebas dari masalah berkat narkoba.
Banyak pula orang yang memilih hidup sebagai bandar karena alasan ekonomi. Sulitnya mencari pekerjaan dan penghasilan yang berlimpah dari narkoba memaksanya membutakan nurani. Padahal sudah banyak rekan yang memiliki pengalaman buruk dengan narkoba. Pengalaman buruk ini harus disebarluaskan. Sehingga tidak lagi membelenggu nurani-nurani kita.
Belenggu 4: Kepentingan dan Prioritas
Kepentingan tidak sama dengan prioritas. Kepentingan cenderung bersifat mikro (diri sendiri), sedangkan prioritas cenderung bersifat makro (universe) yaitu mengarahkan kita untuk melaksanakan hal yang tepat. Prioritas juga lebih spesifik dari efisiensi, yaitu mengarahkan kita untuk melaksanakan sesuatu secara benar.
Dengan demikian, prioritas menjadi sebuah hal yang esensial sekaligus menjawab permasalahan sumber-sumber yang tidak mencukupi, manusia serta materi yang sangat terbatas. Prioritas bermuara dari prinsip, suara hati, kepentingan, dan kebijaksanaan.
Sebuah prinsip akan melahirkan kepentingan, dan kepentingan akan menentukan prioritas apa yang akan didahulukan. Prinsip hedonisme akan bermuara pada pentingnya kesenangan untuk didahulukan. Tidak peduli konsekuensi dari kesenangan itu. Suara hati pun dikesampingkan.
Dalam bahasa Arab, harta benda disebut maal. Akar kata dari maal berarti condong atau miring. Filosofi yang dapat diambil dari kata ini adalah bahwa setiap manusia pasti memiliki kecondongan atau kecenderungan kepada harta benda.
Setiap orang pasti memiliki kecenderungan untuk menjadi bandar narkoba. Karena banyaknya pendapatan yang akan diterima, tentunya. Hanya kekuatan nurani yang terbebas dari belenggu yang mampu menghalau kecenderungan ini.
Belenggu 5: Sudut Pandang
Saat ini, arus informasi sudah sangat lancar. Informasi ada di mana-mana. Bahkan dapat dikatakan kebablasan. Setelah beberapa lama informasi sangat sulit didapat, kini informasi mengalir bagai air bah. Perlu penyaringan untuk mendapatkan informasi yang berguna. Selain penyaringan, diperlukan juga pengumpulan. Mengumpulkan berbagai informasi untuk mendukung informasi yang lain. Sesuatu baru dapat dipandang dengan jelas setelah dilihat dari semua sudut pandang, jangan hanya dari satu sisi saja. Jadi diperlukan pengumpulan informasi dari semua sudut pandang.
Seseorang tidak akan mendapatkan gambaran sebenarnya dari sebuah mobil jika hanya melihat dari depan, samping, atau belakang. Ia baru dapat memperoleh gambaran seutuhnya bila mengumpulkan gambaran dari seluruh sisi. Yaitu menggabungkan hasil pengamatan dari semua sisi, yakni depan, belakang, samping kanan, samping kiri, atas, dan bawah. Dengan demikian ia akan mendapatkan gambaran tiga dimensi dari mobil. Bukan hanya 2 dimensi seperti ketika ia melihat dari satu sisi saja.
Informasi yang lengkap tentang narkoba harus diperoleh dengan mudah. Demikian pula pandangan terhadap penggunaan narkoba juga harus seimbang. Tidak hanya dilihat dari sisi yang menyenangkan saja.
Bila seseorang menerima informasi yang benar dan lengkap tentang narkoba, ia tidak akan terjerat. Sebab, ia melihat narkoba dari sudut pandang yang lengkap. Ia pun lantas mengetahui bahwa bahayanya jauh lebih besar dari manfaatnya. Seseorang tidak akan mau menjadi bandar jika memandang bahaya narkoba bagi keluarganya sendiri.
Belenggu 6: Pembanding
Segala sesuatu bersifat relatif, kecuali ketika seseorang berada di luar sebagai pengamat. Seseorang akan bersikap objektif hanya ketika ia memandang sesuatu dari luar. Misalnya, saat berada di dalam rumah, ia tidak akan dapat mengetahui bentuk dan wujud rumah itu sesungguhnya. Nah, ia hanya bisa benar-benar mengetahui bentuk sebuah rumah ketika ia berada di luar rumah tersebut.
Pikiran perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran atau gambaran yang sudah ada, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya.
Hal ini tidak berlaku ketika seseorang sudah menjadi pengguna narkoba. Dengan menjadi pengguna, ia sudah berada di dalam ”rumah” narkoba itu dan tidak bisa melihat dengan perspektif yang benar bagaimana wujud ”rumah” itu sebenarnya. Dengan tidak memakai narkoba, menjaga jarak, dan waspada terhadap bahayanya, membuat seseorang bisa lebih objektif melihat narkoba. Kita jadi bisa melihat narkoba dengan apa-adanya.
Belenggu 7: Literatur
Seorang manusia yang dikaruniai akal dan hati tidak akan mudah percaya pada informasi yang sampai kepadanya. Ia akan selalu bersikap kritis meski sedang membaca buku yang dikarang oleh orang yang sangat terkenal. Ia akan selalu mendayagunakan akal dan hatinya untuk meneliti, mengkritisi, dan mengomentari segala pengetahuan sebelum meyakininya. Baik informasi yang datang dari buku, koran, majalah, radio, televisi, internet, dan lain sebagainya.
Akal dan intuisinya bekerja layaknya seorang detektif. Mengapa? Karena tidak semua yang didengar atau dilihat itu benar. Sebagaimana sering dikatakan oleh Hercule Poirot (tokoh detektif karya novelis Agatha Christie) bahwa fakta sesungguhnya selalu tersamar diantara sampah bukti.
Dan orang yang illiterate (baca: kurang informasi) di abad ini dapat saja tertipu oleh orang yang datang menawarkan narkoba.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
1. Perang terhadap narkoba sudah dimulai. Salah satunya dengan penyembuhan pengguna melalui terapi metadon.
2. Diri kita—dan kesadaran yang ada di dalamnya—menjadi hal yang paling kuat yang bisa dijadikan benteng melawan narkoba.
3. Mengadopsi dan memodifikasi teori Ary Ginanjar Agustian tentang Zero Mind Process, ada 7 belenggu yang meniadakan atau mengurangi peran suara hati dalam bertindak. Tujuh belenggu tersebut yaitu: prasangka, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding, dan literatur. Cara ini dapat dijadikan benteng melawan narkoba.
Saran
1. Perang terhadap narkoba harus lebih ditingkatkan lagi. Sejalan dengan lebih canggih dan kuatnya jaringan peredarannya.
2. Seperti perang lainnya, perang terhadap narkoba pun harus menggunakan strategi.
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary Ginanjar. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ: Emotional Spiritual Quotient) berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga.
Gunawan, Adi W. “Mitos Motivasi: Antara Harapan dan Kenyataan”
Sumber Internet:
www.wikipedia.org, 8 Juni 2007
www.kapanlagi.com, 24 Juni 2007
www.kompas.com, 9 Maret 2006
www.kompas.com, 8 Maret 2006
BIODATA
Nama : Amin Rois Sinung Nugroho
Tempat Tanggal Lahir : Klaten, 29 April 1985
Status Pendidikan : Mahasiswa
NIM : 03.4122
Alamat Kampus : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik
Jalan Otto Iskandar Dinata No. 64C Jakarta Timur 13330
Alamat Rumah : Jalan Buni Gang Cemara No. 51 RT. 004/04
Munjul Cipayung
Jakarta Timur 13850
Telepon : 844 73 06 (rumah)
0856 9296 0219 (handphone)
71 35 35 90 (flexy)
[1] Wikipedia.Org, 8 Juni 2007
[2] “40 Orang Meninggal Lagi”, KapanLagi.com, 24 Juni 2007
[3] “Pengguna Narkoba, Jangan Kriminalkan Mereka”, Kompas.com, 9 Maret 2006
[4] “Quo Vadis Rehabilitasi?”, Kompas.Com, 8 Maret 2006
[5] Ibid.
[6] Adi W. Gunawan, “Mitos Motivasi: Antara Harapan dan Kenyataan”
[7] Agustian, Ary Ginanjar. 2001. halaman 14-46.
Menerapkan Zero Mind Process untuk Menunjang Sistem Self Assessment sebagai Wujud Kesadaran dan Kepedulian Masyarakat dalam Membayar Pajak December 28, 2007
Posted by asakuratorvald in About Paper.Tags: pajak, paper
add a comment
Sistem self assessment adalah sistem pemungutan pajak yang menyatakan bahwa jumlah pajak yang harus dilunasi atau terutang oleh wajib pajak dihitung sendiri oleh wajib pajak. Dalam sistem self assessment wajib pajak harus aktif untuk memenuhi kewajiban perpajakannya termasuk menghitung, menyetor, dan melaporkan jumlah pajak terutang. Aparat pajak (fiskus) hanya bertugas memberi penyuluhan, pembinaan, monitoring, dan pengawasan serta bertindak sebagai verifikator. Dalam hal terakhir ini aparat pajak meneliti apakah perhitungan dan hal-hal yang telah dilaporkan oleh wajib pajak tersebut benar adanya. [1]
Sistem self assessment adalah sistem pengenaan pajak yang didasarkan kepada kepercayaan yang diberikan fiskus kepada wajib pajak untuk melakukan sendiri penghitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak seperti diatur dalam perundang-undangan. Sistem self assessment bertitik tolak dari assumsi bahwa wajib pajak adalah jujur dan oleh sebab itu diberikan kepercayaan untuk melakukan penghitungan pajak sendiri. Sampai berapa jauh kepercayaan tersebut dapat diterima oleh fiskus merupakan suatu pertanyaan yang masih memerlukan penelitian. Aspek yang paling penting dalam sistem ini adalah melakukan penghitungan pajak yang didasarkan atas undang-undang yang berlaku. [2]
Sistem self assessment adalah sistem yang baik. Dengan kesadaran dan inisiatif dari wajib pajak, maka tugas aparat perpajakan menjadi lebih mudah. Para fiskus dapat berkonsentrasi untuk memberikan informasi yang benar tentang perpajakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Undang-undang harus dipatuhi karena sudah merupakan kesepakatan seluruh warga negara, meskipun pengambilan keputusannya hanya dilakukan oleh perwakilan dari seluruh warga negara.
Ini lebih baik daripada sistem lain yang lebih mengutamakan peran aparat perpajakan. Apalagi bila disertai paksaan dan tindakan represif. Dengan meningkatkan peran aparat dalam pemungutan pajak, para wajib pajak menjadi bersikap pasif. Mereka hanya akan membayar pajak bila didatangi oleh petugas. Tugas para fiskus pun lebih berat, mereka harus mendatangi para wajib pajak satu per satu. Dan bila disertai dengan paksaan dan tindakan represif, pemungutan pajak dapat menimbulkan reaksi negatif. Saat tidak ada lagi paksaan, tidak ada lagi orang yang akan mebayar pajak. Mereka justru akan mengumpulkan kekuatan untuk melakukan perlawanan.
Namun, menurut Dirjen Pajak Hadi Poernomo, selama ini sistem self assessment tidak berjalan sesuai yang diharapkan. [3] Artinya, para wajib pajak kurang bisa dipercaya untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak masing-masing. Dengan kata lain, kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam membayar pajak masih kurang. Sebagian besar wajib pajak masih belum menyadari tanggung jawabnya sebagai warga negara. Seharusnya mereka bertanya, “Apa yang telah aku berikan pada negara?” dan bukan malah menanyakan, “Apa yang telah diberikan oleh negara padaku?”. Selain itu pajak juga dapat dianggap sebagai jaminan yang diberikan warga negara untuk kesejahteraan yang dijanjikan oleh para pemimpin negara.
Warga negara yang bertanggung jawab adalah warga negara yang baik. Sedangkan warga negara yang baik ialah warga negara yang memiliki keutamaan (excellence) atau kebajikan (virtue) selaku warga negara. Aristoteles mengatakan bahwa sebagaimana negara terdiri dari bagian-bagian yang berbeda, demikian juga fungsi warga negara itu berbeda-beda satu sama lainnya. Jadi menurut Aristoteles, kebajikan seluruh warga negara tidak mungkin hanya satu, melainkan sesuai dengan kepelbagaian fungsi dan peran seseorang dalam negara, demikianlah juga kepelbagaian keutamaan atau kebajikan itu.
Aristoteles membagi warga negara ke dalam dua golongan: yang menguasai dan dikuasai, atau yang memerintah dan yang diperintah. Kebajikan yang mutlak harus dimiliki oleh yang memerintah disebut Aristoteles dalam bahasa Yunani phronimos (bukan sophia). Phronimos atau phronesis dalam bahasa Yunani klasik berarti kebijaksanaan praktis (practical wisdom). Aristoteles mengatakan bahwa bagi warga negara yang dikuasai atau yang diperintah, kebajikan yang khusus yang harus mereka miliki ialah fikiran yang tepat (correct opinion). Dengan fikiran yang tepat itu, warga negara yang diperintah dapat memberi tanggapan yang positif terhadap kebijakan yang ditempuh oleh warga negara yang memerintah. [4]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak wajib pajak yang tidak memiliki fikiran yang tepat (correct opinion) tentang perpajakan. Sehingga mereka tidak menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak masing-masing sesuai yang diharapkan oleh sistem self assessment. Pertanyaan yang harus dijawab adalah mengapa mereka tidak memiliki fikiran yang tepat. Yang lebih penting lagi ialah langkah apa yang harus dilakukan untuk mempengaruhi para wajib pajak. Sehingga mereka memiliki fikiran yang tepat dan memberikan tanggapan positif terhadap kebijakan pajak.
Pada dasarnya setiap manusia memiliki suara yang sama dari hati nuraninya. Apa yang terbersit dalam hati seseorang ketika sedang makan di pinggir jalan, lalu tiba-tiba ada anak perempuan kecil berusia lima tahun berdiri tepat di depannya, menatap makanan yang dipegangnya dengan penuh harap. Pada situasi tersebut, setiap orang akan mendengar suara hati yang mendorongnya -ingin memberi- makanan yang sedang dimakannya kepada gadis kecil itu.
Seseorang yang sehat memutuskan suatu tindakan berdasarkan dorongan hati dan pertimbangan akal. Demikian pula yang terjadi ketika menyikapi kebijakan perpajakan. Hal sama juga bisa diterapkan dalam menyikapi kebijakan pajak. Bila seseorang mendapat fikiran yang tepat bahwa negara membutuhkan dan mengharapkan bantuannya, ia pasti akan memenuhi panggilan hatinya untuk membayar pajak. Bila itu tidak terjadi, berarti suara hati seseorang sedang terbelenggu sehingga kurang berperan. Padahal, pajak yang ia bayarkan akan kembali kepada dirinya dalam bentuk pelayanan kepentingan umum atau membantu saudaranya yang kekurangan. Pajak juga akan digunakan untuk membantu memulihkan kondisi ekonomi bangsa. Sehingga efeknya akan dirasakan oleh semua wajib pajak dengan meningkatnya kesejahteraan.
Mengadopsi dan memodifikasi teori Ary Ginanjar Agustian tentang Zero Mind Process [5], ada 7 belenggu yang meniadakan atau mengurangi peran suara hati dalam bertindak. Tujuh belenggu tersebut yaitu: prasangka, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding, dan literatur.
Belenggu 1: Prasangka
Sebagai calon pegawai BPS, penulis pernah mendapatkan cerita unik. Suatu ketika petugas survei dari BPS (Badan Pusat Statistik) mengalami hal yang tidak mengenakkan. Saat mendatangi responden, ia diusir atau tidak dibukakan pintu. Mengapa? Sebab responden mengira petugas tersebut dari aparat perpajakan. Ia takut ditanyai macam-macam, jawabannya dicatat dalam kuesioner, lalu data tersebut digunakan untuk menarik pajak darinya. Apalagi ketika petugas survei tersebut menanyakan berapa besar penghasilan per bulan responden. Namun pada umumnya para petugas survei sudah dilatih untuk menghadapi hal tersebut. Mereka berusaha meyakinkan bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan pajak. Mereka akan merahasiakan data individual. Sebab, BPS menganalisis data agregat sebagai acuan pemerintah dalam mengambil kebijakan, bukan data individual.
Ini adalah sebuah gambaran dari rasa takut yang berlebihan kepada petugas pajak. Prasangka negatif semacam ini harus digantikan dengan prasangka positif. Sebab, prasangka negatif ini akan menyebabkan para wajib pajak bersikap defensif dan tertutup. Mereka akan cenderung menahan informasi dan tidak bekerja sama. Mereka akan berusaha memperkecil nilai pajak yang dikenakan pada mereka dengan memberikan informasi sesedikit mungkin. Perlu usaha keras dari lembaga perpajakan dan media massa untuk membantu menghilangkan prasangka negatif tersebut.
Salah satu usaha yang telah dilakukan oleh direktorat jenderal pajak (DJP) adalah mendirikan pusat data pajak. DJP telah mendirikan pusat data pajak sejak empat tahun lalu. Data itu berasal dari berbagai yang disapaikan ke DJP, termasuk data dari dalam, seperti Direktorat Informasi Perpajakan, Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Penggunaan Tanah (BPHT), dan lainnya.
Dengan pusat data itu, DJP juga sekaligus akan memberikan nomor pokok wajib pajak (NPWP) kepada pemilik tanah, bangunan, dan mobil mewah, pemilik kapal pesiar, pemegang saham, orang asing, pegawai tetap berpenghasilan di atas penghasilan tahunan kena pajak (PTKP). Pelaksanaannya akan dimulai pada 1 September 2005.
Dengan adanya pusat data pajak itu, DJP berharap bisa menjaring lebih banyak wajib pajak. “Sehingga DJP tidak perlu memeriksa wajib pajak dengan paksa. Dengan data yang link and match ini, aparat bisa memeriksa dengan senyum. Inilah Senyum Pajak,” ujar Hadi. Selain itu, untuk mencegah kontak langsung antara wajib pajak dan aparat pajak, DJP juga akan memanfaatkan surat pos tercatat. Hubungan antara keduanya harus dilakukan dengan pos tercatat. “Ini demi menghindari persinggungan antara aparat pajak dan wajib pajak,” kata Hadi. [6]
Belenggu 2: Prinsip hidup
Sebuah prinsip hidup (way of life) tidak akan mudah goyah. Di masa krisis ekonomi yang belum pulih, orang akan benar-benar mematuhi prinsip ekonomi. Yaitu mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Bahkan baru-baru ini mengemuka suatu prinsip baru di era krisis ekonomi, yakni tidak ada persahabatan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi. Hal ini bertentangan dengan sifat dasar manusia yang selalu ingin bekerja sama (zoon politicon) dan mengagungkan persahabatan.
Barangkali ada orang yang beranggapan bahwa kehidupan ekonominya akan lebih baik jika ia pelit kepada orang lain. Ia mengutamakan kepentingannya sendiri dan menghalalkan segala cara. Dan dengan prinsip tersebut ia bisa saja tidak mau membayar pajak dan berusaha menutupi harta miliknya yang bisa kena pajak.
Ini adalah prinsip yang salah. Mungkin dengan cara itu ia memang bisa menjadi kaya. Tetapi kekayaan yang didapatkan dari mementingkan diri sendiri dan tidak membayar pajak tidak akan abadi. Di dunia bisnis, kekayaan yang sebenarnya dibangun dari baiknya hubungan persahabatan antara penyedia jasa dengan klien. Bila klien sudah percaya, klien bahkan bisa membela perusahaan penyedia jasa bila perusahaan tersebut terkena masalah.
Paul Hidayat pernah berkata, “Bila Anda mempelajari kebenaran, tetapi tidak mengalami perubahan hidup, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Anda tidak sungguh-sungguh belajar. Kedua, yang Anda pelajari bukan kebenaran”. [7] Menimbun harta dengan menghindari pajak memang bisa mengubah kehidupannya menjadi kaya. Namun, kekayaan itu akan selalu dibayang-bayangi ketakutan. Yakni ketakutan bahwa tindakannya akan diketahui oleh aparat. Dan kekayaan yang dibangun dari kecurangan tidak akan abadi. Tengoklah berita beberapa waktu lalu. Ada sebuah perusahaan besar di suatu negara yang bangkrut karena bertindak gegabah menggelembungkan nilai jual saham. Ketika hal tersebut akhirnya terkuak, saham perusahaan tersebut menjadi tidak ada nilainya.
Belenggu 3: Pengalaman
Pengalaman adalah guru yang baik. Namun, perlu diketahui bahwa pengalaman yang dimaksud oleh peribahasa tersebut bukanlah kumpulan peristiwa yang menimpa seseorang. Akan tetapi kumpulan sikap seseorang ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang menimpanya. [8] Ia akan mendapat pengalaman sejati jika dapat bertindak benar menghadapi peristiwa-peristiwa yang menimpanya. Sebaliknya, bila ia justru lari dari masalah atau bertindak gegabah, ia tidak akan mendapatkan pengalaman sejati dari peristiwa-peristiwa yang menimpanya.
Seseorang harus membebaskan diri dari belenggu pengalaman jika ingin berpikir dan bertindak bijak. Yakni, berpikir dan bertindak sesuai kehendak hati nurani. Jika sudah mengalami pengalaman buruk dengan petugas pajak, tidak berarti bahwa semua petugas pajak itu buruk. Atau kejadian kurang baiknya pelayanan pajak di suatu kantor tidak berarti bahwa pelayanannya selalu kurang baik. Dan perlu difahami bahwa semua orang sebenarnya memiliki unsur kebaikan dalam dirinya.
Bila dapat bersikap benar, tidak mustahil justru akan meningkatkan kualitas pelayanan pajak. Seseorang akan selalu berbuat baik pada kondisi zero mind, karena ia bertindak selaras dengan keinginan dari hati nuraninya. Pelayanan pajak bisa kurang baik bila ada pengaruh yang membelenggu nurani oknumnya. Atau dengan kata lain, mereka tidak berada pada kondisi zero mind. Sehingga nuraninya kurang berperan dalam menjalankan tugas sebagai aparat suatu kantor pajak.
Dengan memperhatikan belenggu mana yang sedang menghambat, seseorang dapat menghadapi peristiwa kurang baiknya pelayanan petugas pajak. Ia bahkan dapat membantu petugas pajak menuju kondisi zero mind. Dan lalu meningkatkan kualitas pelayanan pajak pada transaksi berikutnya. Jadi, ia tidak dipengaruhi oleh pengalaman, tetapi menggunakan peristiwa yang dialaminya untuk berlatih. Berlatih mengasah nurani pada zero mind process sehingga memperkaya pengalaman sejati yang dimilikinya.
Belenggu 4: Kepentingan dan prioritas
Kepentingan tidak sama dengan prioritas. Kepentingan cenderung bersifat mikro (diri sendiri), sedangkan prioritas cenderung bersifat makro (universe) yaitu mengarahkan kita untuk melaksanakan hal yang tepat. Prioritas juga lebih spesifik dari efisiensi, yaitu mengarahkan kita untuk melaksanakan sesuatu secara benar. Dengan demikian, prioritas menjadi sebuah hal yang esensial sekaligus menjawab permasalahan sumber-sumber yang tidak mencukupi, manusia serta materi yang sangat terbatas. Prioritas bermuara dari prinsip, suara hati, kepentingan, dan kebijaksanaan.
Sebuah prinsip akan melahirkan kepentingan, dan kepentingan akan menentukan prioritas apa yang akan didahulukan. Dalam membelanjakan harta bendanya, seseorang memiliki prioritas masing-masing. Manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencintai harta benda. Mereka merasa enggan membayar pajak karena akan mengurangi harta bendanya.
Dalam bahasa Arab, harta benda disebut maal. Akar kata dari maal berarti condong atau miring. Filosofi yang dapat diambil dari kata ini adalah bahwa setiap manusia pasti memiliki kecondongan atau kecenderungan kepada harat benda. Ia akan senang mengumpulkannya dan menimbunnya serta sesedikit mungkin mengeluarkannya.
Padahal harta yang hanya ditimbun tidak akan bertahan lama. Kekayaan yang langgeng adalah harta yang terus diputar, tidak hanya dionggokkan begitu saja. Antara lain dengan disumbangkan untuk memajukan bangsa ini. Jika perekonomian bangsa lebih baik, semua juga akan ikut merasakannya.
Belenggu 5: Sudut pandang
Saat ini, arus informasi sudah sangat lancar. Informasi ada di mana-mana. Bahkan dapat dikatakan kebablasan. Setelah beberapa lama informasi sangat sulit didapat, kini informasi mengalir bagai air bah. Perlu penyaringan untuk mendapatkan informasi yang berguna. Selain penyaringan, diperlukan juga pengumpulan. Mengumpulkan berbagai informasi untuk mendukung informasi yang lain. Sesuatu baru dapat dipandang dengan jelas setelah dilihat dari semua sudut pandang, jangan hanya dari satu sisi saja. Jadi diperlukan pengumpulan informasi dari semua sudut pandang.
Seseorang tidak akan mendapatkan gambaran sebenarnya dari sebuah mobil jika hanya melihat dari depan, samping, atau belakang. Ia baru dapat memperoleh gambaran seutuhnya bila mengumpulkan gambaran dari seluruh sisi. Yaitu menggabungkan hasil pengamatan dari semua sisi, yakni depan, belakang, samping kanan, samping kiri, atas, dan bawah. Dengan demikian ia akan mendapatkan gambaran tiga dimensi dari mobil. Bukan hanya 2 dimensi seperti ketika ia melihat dari satu sisi saja.
Nah, ketika mendapatkan informasi bahwa ada korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, jangan memandang informasi ini dari satu sisi saja. Lalu enggan membayar pajak karena beranggapan bahwa pajak yang diserahkan paling-paling hanya akan dikorupsi. Hanya sedikit sekali yang akan kembali kepada wajib pajak atau disumbangkan dalam pembangunan bangsa. Jadi lebih baik tidak usah membayar pajak saja. Kesimpulan seperti ini dihasilkan dari informasi dan pandangan yang tidak menyeluruh.
Bukankah korupsi tidak terjadi pada seluruh bagian dari institusi perpajakan. Apakah selama ini tidak ada usaha untuk memberantas korupsi? Usaha yang selama ini dilakukan untuk memberantas korupsi harus didukung. Yaitu dengan tetap membayar pajak dan ikut mengawasi pengelolaannya. Hal ini tentunya memerlukan adanya transparansi dari DJP. DJP harus senantiasa berusaha membangun kepercayaan para wajib pajak. Dengan adanya rasa percaya bahwa pajak yang mereka bayarkan tidak akan dikorupsi. Dan akan disalurkan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Belenggu 6: Pembanding
Segala sesuatu bersifat relatif, kecuali ketika seseorang berada di luar sebagai pengamat. Seseorang akan bersikap objektif hanya ketika ia memandang sesuatu dari luar. Misalnya, saat berada di dalam rumah, ia tidak akan dapat mengetahui bentuk dan wujud rumah itu sesungguhnya. Nah, ia hanya bisa benar-benar mengetahui bentuk sebuah rumah ketika ia berada di luar rumah itu.
Pikiran perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran atau gambaran yang sudah ada, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya. Seorang pengusaha yang memiliki jaguar merasa diperlakukan tidak adil ketika melihat nilai pajak yang harus dibayarnya untuk jaguar itu.
Ia tidak merasa bahwa jaguar itu dibeli dengan uangnya sendiri. Jerih payah dan keringatnya sendiri. Ia tidak membandingkan keadaan dirinya dengan kalangan bawah negeri ini. Mereka yang memandang jaguar saja tidak berkedip matanya. Bahwa ia harus berbagi dengan mereka. Sebab, bukankah ia mendapat predikat kaya karena adanya orang miskin? Dan bukankah kekayaan dan kehidupannya yang enak adalah berkat bantuan anak buah dan pembantu-pembantunya yang mengeluarkan keringat untuk perusahaannya?
Belenggu 7: Literatur
Seorang manusia yang dikaruniai akal dan hati tidak akan mudah percaya pada informasi yang sampai kepadanya. Ia akan selalu bersikap kritis meski sedang membaca buku yang dikarang oleh orang yang sangat terkenal. Ia akan selalu mendayagunakan akal dan hatinya untuk meneliti, mengkritisi, dan mengomentari segala pengetahuan sebelum meyakininya. Baik informasi yang datang dari buku, koran, majalah, radio, televisi, internet, dan lain sebagainya.
Akal dan intuisinya bekerja layaknya seorang detektif. Mengapa? Karena tidak semua yang didengar atau dilihat itu benar. Sebagaimana sering dikatakan oleh Hercule Poirot (tokoh detektif karya novelis Agatha Christie) bahwa fakta sesungguhnya selalu tersamar diantara sampah bukti.
Jika ada seseorang datang ke rumahnya dan mengaku sebagai petugas pajak, ia tidak akan langsung percaya. Sebab, di masa krisis ini hal tersebut dapat digunakan sebagai modus penipuan. Dan orang yang illiterate (baca: kurang informasi) di abad ini dapat saja tertipu. Akibatnya, ia bisa saja kehilangan banyak uang dan mengira bahwa ia telah membayar pajak.
Dengan terlepasnya ketujuh belenggu tersebut, seseorang akan dapat berfikir merdeka. Dan dengan langkah yang tepat dalam menyikapi ketujuh belenggu tersebut ia akan mendapatkan fikiran yang tepat. Yakni fikiran yang tepat (correct opinion) mengenai kebijakan perpajakan. Sehingga para wajib pajak diharapkan dapat memberikan tanggapan yang positif terhadap kebijakan perpajakan.
Demikian sekelumit pemikiran yang berusaha menerapkan metode Zero Mind Process untuk menunjang sistem self assessment. Semoga sepercik ilmu ini tidak hanya berhenti di sini sebagai wacana. Namun, benar-benar diterapkan untuk mewujudkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam membayar pajak. Selain itu, para pembuat kebijakan perpajakan diharapkan juga memiliki keutamaan yang disyaratkan Aristoteles.
Yaitu bahwa seorang penguasa atau pemerintah harus memiliki kebijaksanaan atau kearifan (practical wisdom) dalam memutuskan kebijakan-kebijakan untuk mewujudkan negara yang baik. Dan seyogianya para perumus kebijakan perpajakan benar-benar memandang secara arif kenyataan bangsa ini sebelum memutuskan kebijakan-kebijakan perpajakan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary Ginanjar. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ: Emotional Spiritual Quotient) berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga.
Harefa, Andrias. 2002. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Kompas.
Muqodim. 2000. Perpajakan: Buku I. Jakarta: UII Press dan EKONISIA.
Rapar, J. H. 1988. Filsafat Politik Aristoteles. Jakarta: Rajawali Pers.
Regar, Moenaf H. 1995. Pajak Penghasilan 1994: Suatu Interpretasi dan Catatan. Jakarta: Erlangga.
End Note
[1] Muqodim. 2000. halaman 24.
[2] Regar, Moenaf H. 1995. halaman 199.
[3] Website Ditjen Pajak, dari Investor Daily Online, 26 Agustus 2005.
[4] Rapar, J. H. 1988. halaman. 71-75.
[5] Agustian, Ary Ginanjar. 2001. halaman 14-46.
[6] Website Ditjen Pajak, dari Investor Daily Online, 26 Agustus 2005.
[7] Harefa, Andrias. 2002.
[8] Dikutip dari edisi tertentu majalah Intisari.