Zaitun Time Series, Winner dalam Ajang INAICTA 2009 * August 11, 2009
Posted by asakuratorvald in About Indonesia, About Linux.Tags: inaicta, liputan, open source, software, statistics, statistik
add a comment
Sekali lagi prestasi tingkat nasional diraih oleh insan BPS. Uniknya, prestasi kali ini pada bidang Teknologi Informasi. Pencapaian ini bisa menjadi tonggak membaiknya kembali citra BPS sebagai instansi pembina jabatan pranata komputer. Sebuah software analisis data time series karya alumni Komputasi Statistik STIS angkatan-45 memperoleh predikat Winner dalam Indonesian ICT Award 2009 untuk kategori Research and Development. Tim pengembang Zaitun Time Series pun berhak mendapatkan hadiah berupa piala, piagam dan sejumlah uang jutaan rupiah. Indonesian ICT Award 2009 adalah acara akbar berskala nasional yang diselenggarakan komunitas teknologi informasi dan komunikasi di tanah air, dengan dukungan penuh dari Departemen Komunikasi dan Informatika, yang bertujuan untuk memberikan apresiasi terhadap karya-karya terbaik bangsa di bidang telematika.
Acara ini diikuti oleh 700 peserta dalam 18 kategori perlombaan, terdiri atas 10 kategori profesional dan 8 kategori student. Pada 28-29 Juli 2009, lima nominator dari masing-masing kategori mengadakan pameran dan presentasi hasil karyanya di Jakarta Convention Center. Mereka memperebutkan total hadiah senilai 1 Milyar rupiah. Zaitun Time Series (ZTS) adalah aplikasi yang dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengguna melakukan analisis terhadap suatu data time series serta melakukan prediksi/peramalan terhadap data tersebut. Zaitun Time Series pertama kali dikembangkan oleh tim ”Time Series” sebagai tugas akhir pada jenjang pendidikan DIV di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jakarta Tahun 2007. Tim ini awalnya beranggotakan mahasiswa jurusan komputasi statistik STIS, yaitu Rizal Zaini Ahmad Fathony, Suryono Hadi Wibowo, Almaratul Sholihah, Muhamad Fuad Hasan, Rismawaty, Wawan Kurniawan. Versi awal Zaitun Time Series (versi 0.1.1) selesai pada bulan Agustus 2008, dan di bulan Oktober 2008 Zaitun Time Series diperkenalkan ke publik melalui site http://www.zaitunsoftware.com , dan dapat diunduh secara gratis. Saat ini, versi terakhir Zaitun Time Series adalah versi 0.1.4. Zaitun Time Series adalah aplikasi yang didesain untuk analisis statistik terhadap data time series. Aplikasi ini menyediakan cara yang mudah dalam pemodelan dan peramalan data time series. Berbeda dengan kebanyakan aplikasi time series lainnya, Zaitun Time Series adalah aplikasi time series yang gratis, mudah digunakan, user friendly, dan dapat digunakan untuk kepentingan apapun. Zaitun Time Series juga menyediakan berbagai analisis statistik dan neural network, serta alat bantu grafis yang akan membuat pekerjaan dalam menganalisis data time series menjadi lebih mudah. Analisis statistik dan neural networks antara lain: Trend Analysis, Decomposition, Moving Average, Exponential Smoothing, Correlogram, dan Neural Networks. Sedangkan alat bantu grafisnya antara lain: Time Series Plot, Actual and Predicted Plot, Actual and Forecasted Plot, Actual vs Predicted Plot, Residual Plot, Residual vs Actual Plot, dan Residual vs Predicted Plot. Hingga kini, Zaitun Time Series terus dikembangkan lebih lanjut oleh developer team yang terdapat di www.zaitunsoftware.com . Tim pengembang yang masih aktif sampai sekarang adalah Rizal Zaini Ahmad Fathony (core developer, staf IPDS BPS Kab. Rokan Hilir), Suryono Hadi Wibowo (BPS Kab. Ende, Flores), dan Lia Amelia (BPS Provinsi Sumatera Selatan). Amin Rois Sinung Nugroho (ARSN, BPS Kab. Selayar, Sulawesi Selatan) berinisiatif meliput dan mewawancarai Rizal Zaini Ahmad Fathony (RZAF) untuk Varia Statistik BPS dan Buletin Statistika STIS. Berikut petikan wawancaranya:
ARSN: Kenapa dinamakan Zaitun?
RZAF: Awalnya kami ingin menamai software kami dengan nama buah. Pilihan kami jatuh ke Zaitun yang berdasarkan literatur mempunyai banyak manfaat. Kami berharap software ini juga bisa banyak bermanfaat untuk masyarakat luas tidak hanya di dalam negeri tapi juga di seluruh dunia.
ARSN: Dari mana munculnya ide untuk membuat ZTS?
RZAF: Dulu, awalnya saya ingin membuat skripsi berupa sebuah aplikasi statistik yang ‘all in one’ dimana mulai dari pengentrian data sampai analisis bisa dilakukan di aplikasi itu. Sampai akhirnya salah satu dosen saya, Firdaus, MBA, menawarkan topik time series yang akan melibatkan beberapa mahasiswa. Setelah itu, saya mulai mencari referensi tentang time series. Saya kemudian tertarik untuk mengembangkan aplikasi time series, karena melihat akan ada peluang aplikasi saya nantinya akan bermanfaat bagi orang banyak. Konsentrasi skripsi saya di Neural Network dan Algoritma Genetika untuk peramalan time series. Setelah membaca referensi-referensi yang berkaitan, saya mencoba berkonsultasi dengan pakar-nya yaitu Dr. Muchamad Romzi. Akhirnya saya mengajukan topik tersebut dengan pembimbing Dr. Muchamad Romzi. Enam orang tim time series dibimbing oleh 5 dosen berbeda.Tapi alhamdulillah dengan kekompakan, kami bisa menyelesaikan dengan baik.
ARSN: Apa manfaat program ini bagi masyarakat Indonesia? Bagaimana potensi penggunaan program ini bagi publik?
RZAF: Manfaat yang dapat diperoleh bagi masyarakat Indonesia dan juga dunia diantaranya masyarakat dapat memenfaatkan Zaitun Time Series secara gratis untuk diterapkan pada data-data time series yang mereka miliki. Potensi pengunaan program ini bagi publik sangat luas, karena data time series yang tersebar di berbagai bidang. Penggunaannya terutama bagi praktisi yang berkecimpung dengan data-data time series dan peramalan serta dari kalangan akademis.
ARSN:Apa saja kesan dan pesan Anda terhadap pelaksanaan lomba ini? RZAF: Alhamdulillah dengan tekad yang kuat kami tetap berusaha untuk berkompetisi di INAICTA kali ini walau harus dengan biaya sendiri. Semua biaya dalam acara ini memang kami tanggung sendiri. Mulai dari awal penjurian, transport ke Jakarta dari daerah, biaya pembuatan stand/booth pada saat eksibisi (semua nominator diwajibkan membuat stand). Kami sangat bangga bisa berpartisipasi dalam acara ini. Produk-produk yang diajukan pada INAICTA merupakan karya-karya terbaik di bidang TI Indonesia dengan kualitas yang bagus. Wah, seru banget lombanya, karena ini memang ajang aktualisasi diri segala komponen masyarakat, baik dari perorangan, kelompok, institusi pendidikan, lembaga riset, bahkan perusahaan, semua saling beradu kreativitas di sini.
ARSN: Apa yang diharapkan dengan mengikutsertakan produk ini ke INAICTA 2009? RZAF: Harapan kami dengan mengikutsertakan Zaitun Time Series ke INAICTA 2009 adalah untuk lebih memperkenalkan produk ini ke masyarakat luas. Kami sangat berharap produk ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas, dan juga oleh kalangan akademis (mahasiswa atau dosen) di universitas-universitas. Kami juga berharap akan ada pihak-pihak atau sponsor yang membantu kami untuk lebih mengembangkan Zaitun Time Series kedepan sesuai roadmap yang telah dibuat.
ARSN: Apa saja kendala yang dihadapi dalam pembuatannya dan selama portal ini diluncurkan?
RZAF: Kendala yang kami hadapi dalam pembuatan salah satunya kami agak kesulitan dalam mencari referensi ilmiah, terutama dari segi konsep statitsik dan komputasinya. Alhamdulillah berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya kami bisa menyelesaikan aplikasi ini. Selama portal diluncurkan, kendalanya diantaranya adalah untuk pendistribusian software nya. Zaitun Time Series belum banyak dikenal. Kami hanya menggunakan website saja untuk pendistribusiannya. Kendala lainnya adalah kesibukan anggota tim (yang masing-masing mempunyai aktivitas sendiri-sendiri) yang seringkali memperlambat pengembangan Zaitun Time Series selanjutnya.
ARSN: ZTS ini dibangun dengan teknologi apa?
RZAF: ZTS didevelop menggunakan bahasa pemrograman C# dan platform .NET. Sedangkan untuk IDE (Integrated Development Environment)-nya kami menggunakan versi gratis Microsoft Visual C# 2005 Express Edition. Kami juga menggunakan beberapa komponen pendukung dengan lisensi LGPL. Kami sengaja memilih komponen berlisensi LGPL karena lebih fleksibel. (LGPL atau Lesser GNU General Public License adalah salah satu jenis lisensi open source yang banyak dipakai untuk pustaka/library. Lisensi ini dianggap fleksibel karena mengizinkan developer untuk menggunakannya dalam program yang dilisensikan propietary atau non-open source. Misalnya Microsoft Office yang propietary-berbayar ternyata menggunakan zlib, sebuah pustaka kompresi open source berlisensi fleksibel)
ARSN: Wah, ternyata ZTS juga menggunakan komponen open source. Bagaimana pandangan anda mengenai penggunaan aplikasi Free dan Open Source di BPS?
RZAF: Pengunaan aplikasi FOSS (Free and Open Source Software) di suatu organisasi bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap sofware berbayar dan mengurangi pembajakan software yang saat ini masih banyak terjadi di BPS. Penerapan FOSS di BPS bisa dilakukan secara bertahap. FOSS tidak selalu berarti Linux atau under Linux. Bagi mereka yang masih membutuhkan Windows, bisa mulai menggunakan aplikasi FOSS yang berbasis Windows. Saya rasa untuk tahap awal itu baik dan feasible untuk dilakukan di BPS.
ARSN: Penghargaan apa saja yang sudah diterima oleh ZTS?
RZAF: 1) Softpedia 100% Clean Award, Softpedia menjamin bahwa Zaitun Time Series 100% bersih, yang berarti tidak mengandung malware, spyware, virus, trojan atau backdoor. 2) Free Download Manager User Choice Award, Award ini diterima dari website Free Download Manager, karena Zaitun Time Series dipilih untuk didownload oleh pengunjung website Free Download Manager.
ARSN: Apa saja strategi Zaitun Time Series ke depan?
RZAF: Untuk pengembangan Zaitun Time Series kedepan, kami telah menetapkan roadmap pengembangan Zaitun Time Series kedepan. Tentunya kami juga akan terus mengakomodir masukan-masukan dari pengguna yang tersebar di seluruh dunia. Kami berencana menambahkan model statistik, model neural network, peramalan otomatis, koneksi ke database eksternal, dan live stock market. Strategi pemasarannya, kami masih akan menggunakan website sebagai media utama interaksi antara tim pengembang dengan pengguna Zaitun Time Series, karena website akan lebih memudahkan interaksi terhadap pengguna di seluruh dunia. Tentunya kami akan mencoba meningkatkan kualitas website Zaitun Time Series. Kami juga menerima secara terbuka, siapa saja yang tertarik untuk membantu mengembangkan ZTS secara serius.
ARSN: Ada rencana untuk menjual ZTS dengan biaya lisensi?
RZAF: Zaitun Time Series saat ini didistribusikan secara gratis. Untuk saat ini, kami masih memilih untuk membebaskan siapa saja menggunakan software ini untuk kepentingan apa saja. Pengguna dapat mengunduh aplikasi Zaitun Time Series dan manual penggunaannya secara gratis di http://www.zaitunsoftware.com atau di berbagai web-web download seperti www.download.com dan www.softpedia.com .
ARSN: Berharap Zaitun digunakan di BPS?
RZAF: Tentu. Saat ini, Zaitun Time Series sudah didownload oleh lebih dari 43.000 kali. Sekitar 20 persennya berasal dari dalam negeri. Kebanyakan pengguna yang mengunduh (download) berasal dari luar negeri. Kami sangat memimpikan ZTS ini bisa bermanfaat lebih banyak juga di dalam negeri dan juga kami berharap ZTS bisa dipakai di Instansi Statistik terbesar di negeri ini dan juga Instansi tempat saya bekerja yaitu BPS. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bila ZTS bisa dipakai di BPS.
ARSN: Bagaimana pandangan Anda mengenai perkembangan TI di BPS? RZAF: Belum ada blueprint TI yang jelas. Bila ada blueprint, bisa dicapai kesamaan visi TI di semua bagian BPS. Sehingga implikasinya, nantinya akan memudahkan untuk integrasi data, pengembangan data warehouse untuk BPS yang core business-nya di bidang data. Jika data-data BPS bisa terintegrasi dalam suatu datawarehouse, nantinya masyarakat pengguna data akan dapat dilayani dengan prima. Seseorang yang akan membutuhkan data cukup mengakses media tertentu seorang yang akan membutuhkan data cukup mengakses interface tertentu yang berbasis website. Mereka bisa dengan mudah meng-customize data yang akan mereka request, sistem akan menampilkan data sesuai yang di minta pengguna beserta pendukungnya (seperti grafik atau peta). Google Finance mungkin bisa sebagai contoh untuk data-data series. Pengguna dapat dengan mudah mengkustomisasi data-data pergerakan saham sesuai yang mereka butuhkan. Hal itu sangat memungkinkan dikembangkan jika keberadaan datawarehouse telah ada.
ARSN: Apa pesan Anda untuk mahasiswa komputasi statistik STIS? RZAF: Jangan terpaku pada mata kuliah yang ada. Tambah wawasan mengenai perkembangan teknologi di luar. Barangkali perlu juga dibentuk semacam forum untuk belajar bersama saling mengisi. Misalnya sekarang sudah ada Komputasi.NET, mungkin bisa lebih diramaikan lagi. Bergabunglah dengan komunitas di luar kampus. Saya sendiri misalnya bergabung dengan beberapa komunitas developer C#, softcomputing, dan data mining.
Sebagai penutup, ada satu hal yang menarik. Meski sudah mencapai prestasi seperti ini, sahabat kental saya ini masih tetap tidak bisa meninggalkan menu favoritnya: telur dadar dan tempe goreng. Sampai suatu hari di acara Ratek, RZAF harus memesan sendiri menu favoritnya itu ke petugas hotel. Karena rupanya menu tersebut tidak ada. Karena petugas hotel meminta biaya tambahan, RZAF lalu menghubungi panitia. Akhirnya panitia menjelaskan kepada petugas hotel bahwa menu tersebut akan ditanggung oleh panitia. Tidak berapa lama, RZAF pun bisa menikmati menu favoritnya. Semoga cerita ini mampu memberi kita semangat untuk terus berkarya tanpa terbelenggu oleh kesibukan pekerjaan di BPS.
* Liputan ini diolah dan ditulis oleh Amin Rois Sinung Nugroho dengan sumber data sebagai berikut: 1. wawancara dengan Rizal Zaini Ahmad Fathony via email dan Yahoo Messenger 2. situs resmi Zaitun Time Series, www.zaitunsoftware.com 3. situs resmi ajang INAICTA, www.inaicta.web.id 4. blog milik RZAF, rizalzaf.wordpress.com 5. wawancara media online www.teknopreneur.com dengan RZAF
PENGEMBANGAN PENGEMBANGAN (PEMAKETAN) DISTRIBUSI GNU/LINUX UNTUK MEMOTIVASI MIGRASI SISTEM KOMPUTER BADAN PUSAT STATISTIK DARI BERBASIS WINDOWS MENJADI BERBASIS GNU/LINUX August 2, 2008
Posted by asakuratorvald in About Linux.Tags: bps, distro, linux
3 comments
Abstract:
Badan Pusat Statistik or Statistics Indonesia is a national institution with data and information considered as business core. Ironically, it still using Windows operating system that is notoriously vulnerable of viruses and other threats. Besides, there is national regulations to use free and open source software known as Indonesia Go Open Source (IGOS). The objective of this research is to observe the problem that occurs by using Windows in BPS, collecting information on applications used daily, and develop GNU/Linux distribution that meets the needs of applications used daily in BPS. This research is also collecting data and argument to make GNU/Linux applicable in BPS. The research methodology are: to arrange a survey collecting informations as mentioned before, and then develop a GNU/Linux distribution based on the informations from the survey. The GNU/Linux distribution resulted from this research can meet the needs of daily usage in BPS with some implications and consequences explained in the end of this paper. But, this paper cannot implement the distro in BPS, because it depends on the policy of BPS top manager. So, this paper could only providing information and tools to make GNU/Linux applicable in BPS, thus motivate BPS to migrate to GNU/Linux instead of using Windows.
Keywords: linux, open source, statistics
1. PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Badan Pusat Statistik adalah lembaga pemerintah non-departemen yang bergerak di bidang pengumpulan dan pengolahan data. Selain itu, BPS juga berperan sebagai pembina bagi jabatan pranata komputer. Penggunaan teknologi dan sistem komputer yang baik tentunya menjadi hal yang penting. Ironisnya, BPS masih menggunakan sistem operasi Windows dalam kegiatan sehari-harinya. Padahal sistem operasi ini sudah dikenal dengan berbagai kerentanan. Antara lain mudah diserang virus, melambat dari hari ke hari, dan sebagainya. Produktivitas pun dapat menurun karena ada waktu produktif yang harus dialokasikan untuk perbaikan.
Padahal sudah ada kebijakan di tingkat internasional dan nasional untuk menggunakan sistem operasi dan aplikasi open source. United Nation Conference on Trade Development pada tahun 2003 merekomendasikan penggunaan free dan open source software di negara berkembang untuk mengurangi kesenjangan teknologi dengan negara maju. Pada 1 Juli 2004, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Negara Komunikasi dan Informatika, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Kehakiman dan HAM, serta menteri Pendidikan Nasional secara resmi menyatakan akan menggalakkan penggunaan standar software terbuka melalui gerakan Indonesia Go Open Source (IGOS) yang konon dapat menghemat belanja sampai 20 triliun rupiah. [3]
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan ditribusi GNU/Linux yang memenuhi kebutuhan aplikasi dalam pekerjaan sehari-hari di BPS Pusat dan mengkaji sejeuh mana solusi ini bisa diterapkan. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
melakukan analisis permasalahan pada pemakaian sistem operasi Windows di BPS
melakukan analisis kebutuhan aplikasi dalam pekerjaan sehari-hari di BPS
merancang dan mengembangkan (memaketkan) distribusi GNU/Linux yang memenuhi kebutuhan BPS
melakukan evaluasi dan mengkaji konsekuensi dan implikasi penerapan distribusi GNU/Linux yang sudah dikembangkan untuk memotivasi migrasi sistem komputer BPS dari berbasis Windows menjadi berbasis GNU/Linux
1.3 Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah:
pengumpulan data mengenai berbagai gangguan yang terjadi selma pemakaian sistem operasi Windows di BPS, dikategorikan pada: virus, hang, lambat, tidak boot, dan adakah pemakaian software bajakan.
tingkat pengetahuan responden di BPS mengenai GNU/Linux dan OpenOffice, serta tingkat persetujuan responden di BPS terhadap rencana migrasi dari Windows ke GNU/Linux
bagaimana mengembangkan distribusi GNU/Linux yang memenuhi kebutuhan aplikasi dan pekerjan sehari-hari di BPS serta implikasi dan konsekuensinya sehingga benar-benar dapat diterapkan.
2. LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Operasi
Tujuan utama (goals) desain sistem operasi adalah: define abstraction, provide primitive operation, ensure isolation, dan manage the hardware. (Tanenbaum 2001: 337) Sebuah sistem operasi harus mampu mendefinisikan abstraksi yang baik dari operasi primitif yang akan disediakan untuk penggunanya. Selain itu, ia juga harus mampu mengisolasi suatu proses dengan proses lainnya. Sehingga proses dapat berjalan secara independen, dan jika mengalami masalah, masalah tersebut tidak mempengaruhi proses lain.
2.2 Sejarah Free Software
Free Software atau non-proprietary software telah ada sejak penemuan komputer pertama kali sekitar pertengahan tahun 1940, dan dalam beberapa tahun hal ini berlangsung tanpa masalah. Namun pembuatan, penyebaran, dan penggunaan free software ini hanya terbatas pada kalangan tertentu saja seperti engineer, ilmuwan, dan orang-orang tertentu yang memiliki akses komputer yang dianggap sebagai teknologi yang mahal dan langka. Di dalam universitas dan sektor publik (terutama lembaga militer di negara maju) dimana fasilitas komputer berada, pertukaran berbagai perangkat lunak berupa kode-kode program berlangsung bebas dan mudah antar sesama programmer yang dibayar untuk usahanya membuat program bukan untuk kepemilikan programnya.
Beragamnya jenis program yang ada saat itu telah memicu pembuatan sistem operasi (Operating System) untuk menyatukan program yang masih terpisah-pisah tersebut sehingga dapat berjalan dengan mudah dalam satu komputer. Sampai awal tahun 1970, sistem operasi dijalankan dalam komputer mini dengan mainframe tertentu sehingga membuat program menjadi tidak kompatibel, akibatnya program harus ditulis ulang untuk setiap jenis mesin. Inilah awal munculnya proprietary software yang digunakan oleh IBM, Burroughs, Honeywell dan pembuat komputer besar lainnya untuk membantu membedakan jenis program dan menyesuaikannya dengan merk mesin tertentu. Pada tahun 1970 juga, beberapa programmer dari laboratorium AT&T Bell berhasil membuat sistem operasi UNIX yang ditulis dengan bahasa C dan dapat berjalan pada berbagai merk mesin komputer. Pada tahun 1980, revolusi komputer mencapai puncaknya dengan dibuatnya jenis komputer PC. Penggunaan PC ini meningkat secara eksponensial hingga menjamah sektor bisnis. Seiring dengan ekspansi komputer pada berbagai sektor bisnis ini, programmer tidak hanya dibayar untuk pembuatan program tetapi juga untuk program yang dibuatnya. Dengan demikian, perkembangan perangkat lunak proprietary relatif lebih cepat dibandingkan non-proprietary software.
Pada tahun 1984, Richard Stallman membuat proyek yang dinamakan GNU (GNU’s Not Unix) di laboratorium Artificial Intelligence MIT. GNU ini merupakan sistem operasi yang dibuat untuk “melawan” komersialisasi perangkat lunak yang dilakukan perusahaan pembuat UNIX. Dengan usahanya ini, Stallman menjadi pionir free software melalui projek GNU dan pembentukan Free Software Foundation (FSF). Pada tahun 1990, adanya jaringan internet menstimulasi perkembangan free software dengan terbentuknya komunitas free software di seluruh dunia yang tidak hanya tertarik dengan sistem operasi tetapi juga dalam pengembangan aplikasinya. Pada tahun 1994, GNU menjadi sistem operasi sempurna dengan kontribusi kernel Linux yang dirilis oleh Linus Torvalds. GNU/Linux menjadi sistem operasi alternatif selain UNIX.
Saat ini, FOSS (Free or Open Source Software) tumbuh pesat dengan berbagai sistem dan aplikasinya menjadi solusi alternatif dari pemakaian proprietary software. Penggunaan perangkat lunak open source menjadi pilihan utama dibeberapa negara dengan berbagai kelebihan yang dimiliki OSS seperti sekuritas, reliabilitas sistem, dan kelebihan lainnya. Dengan sifatnya yang “open” memberikan keuntungan lebih bagi pengguna OSS yang juga seorang pengembang (developer) perangkat lunak, karena pengembang dapat memodifikasi program yang tersedia sesuai dengan keinginannya. Pengguna atau konsumer yang juga seorang pengembang atau produsen disebut sebagai “prosumer”. Selain itu, secara ekonomis, pengguna tidak perlu mengeluarkan biaya untuk OSS ini dibandingkan dengan penggunaan proprietary software. [5]
2.3 Keunggulan GNU/Linux
Ada beberapa keunggulan yang menjadi alasan pemilihan GNU/Linux antara lain:
1. Biaya Investasi
- Biaya lisensi untuk perangkat lunak, nol atau sangat rendah (karena masih ada biaya distribusi perangkat lunak).
- Perangkat keras: berbeda dengan penggunaan proprietary software, yang mensyaratkan spesifikasi perangkat keras tertentu, OSS tidak terlalu bergantung pada jenis perangkat keras tertentu. Pasalnya OSS dapat beroperasi pada PC standar dan berbagai platform perangkat keras.
- Pengeluaran biaya tertuju pada perawatan (maintenance) sistem OSS.
2. Kualitas dan Kinerja
- Kualitas program dibuat dengan memperhatikan reliabilitas dan kinerja yang terkait dengan keseluruhan sistem yang digunakan. Dengan hasil peer review yang diperoleh dari para programmer, kualitas dan kinerja OSS dapat selalu ditingkatkan.
- Fleksibilitas Sistem: Perubahan requirement (baik perangkat lunak atau perangkat keras) pada OSS tidak akan terlalu berpengaruh terhadap sistem yang digunakan. Hal ini sangat berbeda dengan proprietary software, ketika requirement penyusun sistem berubah maka perangkat lunak yang digunakan harus diganti atau diperbaharui (update). Perangkat lunak yang berbasis open source lebih fleksibel digunakan tanpa terpengaruh oleh perangkat keras atau perangkat lunak lain pada sistem.
3. Keamanan
- Dengan menggunakan OSS, faktor keamanan (security) selalu dapat ditingkatkan. Pasalnya, akses pada source code yang terbuka akan memudahkan pendeteksian kerusakan sistem, sehingga bisa langsung diperbaiki.
4. Lokalisasi
- Pengembang dapat memodifikasi program sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat sekitar, contohnya translasi Linux ke dalam suatu bahasa tertentu.
- Meningkatkan kapasitas pengembang perangkat lunak lokal.
5. Independensi (kebebasan)
- Berkurangnya ketergantungan terhadap suatu vendor perangkat lunak.
2.4 Contoh Penerapan GNU/Linux
Berbagai keunggulan GNU/Linux tersebut menyebabkan pemanfaatannya sudah meluas ke berbagai negara, diantaranya: Amerika Serikat, Estonia, Peru, Srilangka, Belanda, Cina, Filipina, Jepang, India, Malaysia, Thailand, Nigeria, Brasil, Kuba, Spanyol, Jerman, Polandia, dan Afrika Selatan. Garis merah yang dapat ditarik dari kebijakan-kebijakan negara lain terhadap OSS antara lain adalah:
1. Pemerintah menjadi kunci utama untuk menentukan arah pembangunan dan pengembangan OSS. Sejumlah negara yang telah mengadopsi OSS punya peluang yang sangat besar untuk dapat mempercepat tingkat kemajuan teknologi beserta keuntungan finansial yang dibawanya.
2. Sejumlah negara mengakui bahwa penggunaan OSS merupakan salah satu jalan untuk menjadi salah satu kompetitor di pasar global; mendorong industri perangkat lunak lokal; berkomitmen untuk memasyarakatkan teknologi informasi serta menurunkan biaya pembelian Teknologi Informasi.
3. Biaya tidak selalu menjadi alasan utama bagi negara-negara tertentu yang memilih untuk menggunakan OSS. Aspek keamanan, interoperabilitas, menghilangkan ketergantungan pada satu vendor, turut memajukan industri pengembang lokal menjadi alasan yang lebih diutamakan daripada faktor biaya.
Sedangkan pemanfaatan GNU/Linux di lembaga pemerintahan Indonesia sudah dilakukan di Depkominfo (departemen Komunikasi dan Infromasi), Depsos (Departemen Sosial), Pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalaam, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, BATAN, BAPETEN, Pemerintah Kabupaten Kebumen.
Di berbagai perusahaan swasta di Indonesia pemanfaatan GNU/Linux juga sudah banyak, karena mereka benar-benar berpikir untung rugi. Tidak seperti di pemerintahan yang anggaraannya bisa tidak terbatas. Perusahaan swasta yang sudah menggunakan GNU/Linux antara lain: hampir seluruh usaha yang berbasis internet, seperti webhosting, pabrik obat dan makanan di Konimex, dan sebagainya.
2.5 Faktor-faktor Penyebab Belum Migrasi ke GNU/Linux
Ada berbagai faktor yang menyebabkan penggunaan GNU/Linux belum dilakukan di Indonesia maupun di BPS antara lain karena:
1. meskipun UU Hak atas Kekayaan Intelektual (UU HaKI) sudah diberlakukan, namun sistem operasi dan software propietary bisa didapatkan dengan mudah dan dengan biaya yang jauh lebih murah daripada biaya seharusnya. Hal ini menjadikan GNU/Linux dan Open Source Software kurang menarik untuk digunakan. Seandainya pemakai dan penjual software bajakan benar-benar ditindak, tentu banyak yang sudah berbondong-bondong belajar menggunakan GNU/Linux dan Open Source Software.
2. ada beberapa kekurangan pada OSS yaitu: terlalu banyak variasi dari OSS, tidak adanya dukungan komersial, usabilitas yang masih kurang baik, interoperabilitas dengan sistem proprietary, terbatasnya sumber daya manusia, aplikasi dan komitmen terhadap OSS, dan dokumentasi yang kurang lengkap.
3. Khusus untuk di BPS, hal ini juga disebabkan belum adanya distribusi GNU/Linux yang mengemas secara default paket aplikasi khusus yang dibutuhkan di BPS.
2.6 Distribusi GNU/Linux
Distro Linux adalah kernel Linux ditambah dengan kumpulan paket-paket software dari GNU dan yang lainnya, yang dibundel menjadi satu, dengan tujuan untuk mempermudah proses distribusi software tersebut. Ibarat sebuah mobil, Linux, atau tepatnya kernel Linux adalah mesin utamanya. Ini yang dikembangkan oleh Linus Torvalds dan kawan-kawan. Sedangkan sasis, rangka, roda, per, dan sebagainya disatukan oleh perusahaan karoseri. Demikian juga (kernel) Linux, untuk bisa dipergunakan, dilengkapi aplikasi pendukung seperti aplikasi server, desktop manager, aplikasi office dan banyak aplikasi lain sesuai kebutuhan. Ini yang dilakukan oleh RedHat, SuSE, Debian, Mandriva, dan beberapa distributor lainnya. Mereka mendistribusikan Linux kepada pengguna, lengkap dengan aplikasi-aplikasi pendukung siap pakai. (Sofyan, 2006)
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Survei untuk Analisis Sistem Berjalan
Analisis sistem berjalan dilakukan dengan sensus pada 56 sub-direktorat kerja di BPS dengan satu responden pada tiap sub-direktorat. Responden yang dipilih adalah Kepala Sub-Direktorat atau Kepala Seksi. Informasi yang dikumpulkan adalah kebutuhan aplikasi atau software dalam pekerjaan sehari-hari di setiap subdit, komposisi perangkat keras (hardware) yang dipakai, permasalahan yang ada dengan pemakaian Windows, serta tingkat pengetahuan dan persepsi tentang penggunaan GNU/Linux.
3.2 Metode Pemaketan Distro
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam memaketkan distro. Pertama, Linux from Scratch atau membangun dari nol. Metode ini cocok untuk mendalami lay-out dari Linux namun membutuhkan banyak effort untuk mendistribusikannya kembali. Sehingga metode ini lebih cocok digunakan secara pribadi. Kedua, membangun distro dengna cara memodifikasi distro besar yang sudah mapan. Penelitian ini akan menggunakan metode kedua karena membutuhkan effort yang lebih sedikit untuk distribusi ulang hasil modifikasinya.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pemaketan distro adalah sebagai berikut. Pertama, instalasi basis distro. Kemudian tambahkan paket aplikasi yang diperlukan sesuai dengan hasil sensus. Kedua, persiapkan lingkungan kerja. Pada tahap ini dilakukan modifikasi pada kernel untuk menambahkan dukungan filesystem squashfs dan unionfs yang akan digunakan pada LiveDVD. Lalu tentukan direktori kerja dan hirarki DVD yang akan dibuat. Ketiga, salin (copy) seluruh direktori yang sudah dimodifikasi pada tahap pertama, selain direktori /dev, /proc, /tmp, /home ke direktori kerja sebagai satu filesystem. Keempat, ubah root sistem ke direktori kerja. Lalu instalasikan paket yang diperlukan oleh sistem LiveDVD, yaitu casper dan ubiquity-installer dan update initramfs. Setelah itu hapus semua user selain sistem. Kemudian bersihkan direktori kerja dari file-file yang tidak diperlukan dalam LiveDVD. Kelima, siapkan hirarki dari LiveDVD. Salin (copy) kernel image, updated-initrd, dan memtest yang sudah disiapkan pada tahap sebelumnya. Kemudian ubah susunan direktori yang ada menjadi sebuah file yang dikompresi dengan filesystem squashfs. Keenam, mengatur Grub sebagai boot loader dari DVD. Ketujuh, membuat LiveDVD. Build file ISO dari hirarki DVD pada tahap sebelumnya. Lalu uji file ISO dengan PC emulator atau virtual machine, misalnya qemu atau VirtualBox. Jika sudah dapat berjalan dengan baik, barulah file ISO dibakar ke media DVD dan diuji di komputer lain yang menjadi sasaran uji coba.[4]
3.4 Rancangan Uji Coba
Uji coba akan dilakukan dengan pemberian pengenalan atau pelatihan pada sampel terpilih, lalu dilihat apakah setelah pengenalan dan pelatihan tersebut persepsinya berubah secara signifikan. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa solusi yang ada dapat diterapkan. Ada juga pilihan untuk mengadakan seminar kecil di gedung 6 lantai 8 BPS Pusat sebagai sarana sosialisasi dan mengumpulkan masukan atau tanggapan dari pegawai BPS secara lebih efektif. Namun hal ini masih dalam tahap konfirmasi.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Survei Analisis Sistem Berjalan
Survei analisis sistem berjalan yang dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2008 berhasil mengumpulkan data dari 38 subdirektorat dari 56 subdirektorat yang ada di BPS. Sedangkan 18 subdirektorat sisanya tidak berhasil didapatkan datanya karena responden yang sulit ditemui. Secara umum, responden yang sulit ditemui biasanya sedang dinas ke luar kota atau ke daerah. Responden diputuskan sebagai responden yang sulit ditemui setelah dilakukan minimal dua kali revisit. Namun data untuk kebutuhan aplikasi sudah dapat terpenuhi. Sebab, bila diestimasi dengan stratifikasi, seluruh kategori subdirektorat sudah didapatkan datanya. Sehingga untuk informasi kebutuhan aplikasi sudah dapat mencerminkan kebutuhan seluruh direktorat kerja. Sedangkan infromasi permasalahan, komposisi perangkat keras, dan tingkat pengetahuan serta tingkat persetujuan hanya dapat menggambarkan keadaan dari sampel yang ada.
4.1.1 Permasalahan dengan Penggunaan Windows
Hasil survei menunjukkan bahwa permasalahan yang paling banyak dialami dalam tiga bulan terakhir di BPS adalah serangan virus. Serangan virus ini dialami oleh seluruh subdit yang berhasil didapatkan datanya, yaitu 38 subdit. Sedangkan masalah hang dan lambat hanya dialami oleh 30 dan 31 subdit. Lalu permasalahan tidak boot hanya dialami oleh 13 subdit.
Sedangkan bila dilihat menurut akibat yang ditimbulkan oleh berbagai permasalahan tersebut, maka sebagian besar masih dapat bekerja atau pekerjaan sedikit terganggu. Namun cukup banyak juga (ada 24 subdit dan 7 subdit) yang memerlukan bantuan orang lain atau bahkan PC tidak dapat dipakai sehari atau lebih jika terjadi gangguan.
Selanjutnya, permasalahan tersebut juga dapat dilihat menurut jumlah PC yang mengalami. Berikut ini data jumlah subdit menurut jenis permsalahan dan jumlah PC yang mengalaminya. Dapat dilihat bahwa ada 16 subdit yang jika terkena serangan virus, maka jumlah PC yang mengalami kurang dari seperempat PC yang ada di subdit tersebut. Dan ada 6 subdit yang jika terkena serangan virus, maka yang terkena akibatnya lebih dari 75% dari jumlah PC yang ada di subdit tersebut.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa urgensi untuk migrasi ke GNU/Linux sudah cukup besar. Karena virus dan berbagai permasalahan lainnya akan terus menghntui jika tetap menggunakan sistem operasi Windows. Karena Windows tidak pernah memperbaiki sistemnya dari awal, tapi hanya melakukan tambal-sulam setiap kali rilis versi baru. Bahkan John C. Dvorak eyakini bahwa kode program Windows berupa kode spaghetti tambal-sulam yang tidak seorang pun di Microsoft menguasai keseluruhannya dengan baik. Sehingga tidak heran bila ada data mengatakan virus yang membuat Windows XP crash masih dapat membuat Vista crash. [6]
4.1.2 Analisis Kebutuhan
Menurut hasil survei, kebutuhan aplikasi di BPS adalah dari kategori aplikasi perkantoran (pengolah kata, spreadsheet, presentasi), aplikasi pengolahan database, aplikasi untuk analisis statistik, aplikasi untuk pengembangan software, dan aplikasi pemetaan (GIS, Geographic Information System). Aplikasi perkantoran digunakan di semua subdit yang berhasil diperoleh datanya, yaitu 38 subdit. Sedangkan aplikasi database digunakan di 27 subdit. Ada 35 subdit yang menggunakan aplikasi untuk analiis statistik. Lalu ada 10 subdit yang memerlukan aplikasi untuk pembuatan web. Aplikasi untuk pembuatan software digunakan oleh 10 subdit.
Berikut ini adalah salah satu datanya, yaitu komposisi pengguna berbagai jenis wordprocessor di BPS.
Data di atas menunjukkan bahwa pengguna Word 2003 adalah yang terbanyak, yaitu 23 subdit dan 155 orang dari 23 subdit tersebut. Sayangnya pengguna wordprocessor selain Word 2000 dan OpenOfficeWriter disinyalir menggunakan versi bajakan. Sebab, BPS hanya membeli secara resmi Office 2000. Demikian juga dengan kategori aplikasi lainnya. Sebab, mereka tidak tahu ketika ditanya tentang harga dari lisensi software yang dipakai.
4.1.3 Tingkat Pengetahuan Responden
Tingkat pengetahuan responden tentang penggunaan GNU/Linux ternyata masih kurang. Sebagian besar belum pernah melihat atau menggunakan sistem operasi ini. Namun, hanya sedikit (sekitar 2%) yang belum pernah mendengar sama sekali. Sebagian besar (60%) sudah mendengar kabar tentang adanya sistem operasi ini.
Tingkat pengetahuan responden mengenai OpenOffice sudah cukup besar. Sekitar 60% responden sudah menggunakan OpenOffice. Hal ini antara lain disebabkan pengadaan PC di BPS muai tahun 2007 dibundel dengan aplikasi OpenOffice untuk menggantikan MicrosoftOffice. Akan tetapi masih openOffice tersebut masih dijalankan di atas Windows.
4.1.4 Tingkat Persetujuan Responden
Ternyata tingkat persetujuan responden terhadap rencana migrasi ke GNU/Linux cukup tinggi. Sejumlah 42% dari seluruh responden menjawab setuju. Alsan yang dikemukakan antara lain: mengikuti gerakan IGOS, gratis, tahan terhadap serangan virus, agar mandiri, dan ada pula yang menjawab bahwa anggaran dapat dialihkan untuk pembelian perangkat keras dan peningkatan kualitas SDM. Sedangkan yang menjawab beri waktu untuk mempelajari memiliki alasan perlunya adaptasi dengan sistem baru.
Sementara alasan belum familiar dan ingin membandingkan dengan Windows dikemukakan oleh mereka yang menjawab ingin mencoba dulu. Mereka yang menjawab belum tahu menyamapaikan alasan: semua tergatung kebijakan pimpinan BPS. Jawaban tidak setuju disampaikan dengan alasan belum disediakan oleh BPS, kompatibilitas yang masih dipertanyakan, dan format data mitra kerja yang masih berbasis Windows.
4.2 Perancangan Pemaketan Distro
Sesuai dengan hasil survei, sebagian besar perangkat keras yang dipakai di BPS dapat menjalankan sistem yang akan dibangun. Pemaketan distro akan dilakukan dengan mengacu pada salah satu distro GNU/Linux yang sudah mapan. Basis distro yang dipilih adalah Ubuntu 8.04 desktop edition. Pertimbangannya adalah distro ini berbasis pada Debian yang memiliki banyak dukungan paket aplikasi. Ubuntu juga didukung oleh perusahaan Canonical, Ltd dengan baik.
Selain itu, menurut distrowatch.com sejak tahun 2006, Ubuntu merupakan distro yang paling populer dan banyak digunakan. Ubuntu juga memiliki keunggulan dalam kompatibilitas perangkat keras yang biasanya didesain untuk sistem operasi Windows dibandingkan dengan distro lainnya. Ubuntu juga memiliki opsi untuk diinstal di dalam Windows dengan Wubi.
Distro ini akan dipaketkan dalam bentuk LiveDVD sehingga dapat langsung dijalankan dari DVDROM. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengguna baru dalam menggunakannya. Sebab, menurut survei, sebagian besar responden belum pernah melihat dan menggunakan sisem operasi GNU/Linux. Akan tetapi sebagian besar responden sudah mendengar kabar tentang adanya sistem operasi GNU/Linux. Distro ini juga akan dipaketkan dengan desktop KDE yang sudah dikenal keindahan dan kemudahan pemakaiannya. Apalagi ditambah dengan efek desktop tiga dimensi dari Compiz-Fusion.
4.3 Hasil Pemaketan Distro
Distribusi GNU/Linux Dynamix diimplementasikan pada basis distro Ubuntu dengan desktop KDE (Kubuntu). Distro ini sudah dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari di BPS.
Tabel 1. Daftar aplikasi yang sudah dipaketkan dalam distro GNU/Linux Dynamix
No Kategori Yang biasa dipakai sebelumnya Aplikasi pengganti yang disertakan
1 Development Tools Visual Basic 6.0 Gambas2
Visual Studio .NET Monodevelop
Macromedia Dreamweaver NVU (baca: n-view, new view)
Java IDE / NetBeans NetBeans, Eclipse
2 Diagram, Flowchart Visio Kivio, Dia, Umbrello
3 Database Microsoft Access OpenOffice Base, MySQL, PostgreSQL
4 Grafis Photoshop GIMP
Corel Draw Inkscape
Pagemaker Scribus
5 GIS ArcView ArcView for Linux (non-free), Grass, QuantumGIS
Visual Basic + MapObject Mapserver, MapLab, Postgis, Chameleon = WebGIS
6 Office Microsoft Word OpenOfficeWriter, Abiword
Microsoft Excel OpenOfficeCalc, Gnumeric
Microsoft Powerpoint OpenOfficeImpress
Microsoft Access OpenOffice Base
Acrobat Reader Ebook Reader, Evince
7 Statistik SPSS R, Rkward, Gretl
Stata Stata for Linux (non-free)
CSPro Wine + CSPro
EpiData Wine + EpiData
Konsekuensi dari rencana migrasi ini adalah disediakannya manual khusus untuk migrasi, setidaknya untuk memulai tiap aplikasi dan keterangan singkat, dibuat manual yang autorun berbasis web ketika distro dijalankan. Selain itu juga disediakan tabel perbandingan fitur tiap aplikasi: baik fitur yang sama atau sedikit berbeda, fitur yang hanya ada di Linux, dan fitur yang hanya ada di Windows.
Implikasi penggunaan distro hasil penelitian ini adalah:
1) anggaran pembelian software dapat dialihkan untuk pembelian perangkat keras dan peningkatan sumber daya manusia
2) bagi manaejemen, produktivitas dapat menjadi lebih tinggi, sebab waktu produktif yang hilang untuk perbaikan dapat diminimalkan
3) bagi programmer: ada sedikit transisi tools dan development time pada awalnya, namun tidak akan memakan banyak waktu karena tidak jauh berbeda dengan yang biasa digunakan di Windows.
4) bagi end user: sedikit transisi aplikasi yang digunakan sehari-hari
5. KESIMPULAN
Permasalahan yang ada dengan pemakaian Windows sudah diperoleh gambarannya dari hasil survei. Demikian juga denga kebutuhan aplikasi di BPS. Permasalahan dan kebutuhan aplikasi tersebut sudah dapat dijawab dengan pembuatan distro GNU/Linux Dynamix. Distro ini relatif lebih aman dan stabil dibandingkan sistem sebelumya yang menggunakan Windows. Hal ini disebabkan karena penggunaan sistem operasi GNU/Linux. Distro ini juga sudah siap digunakan karena dapat melakukan ekspor/impor data dari aplikasi berbasis Windows yang biasa digunakan sebelumnya. Selain itu distro ini dapat dijalankan langsung dari DVD tanpa instalasi, namun instalasi dapat dilakukan setelahnya.
6. KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian ini dibatasi pada direktorat kerja yang ada di BPS. Belum mencakup biro-biro yang ada di BPS seperti Biro kepegawaian dan Biro Keuangan. Aplikasi yang sudah terlanjur dibuat berbasis Windows belum dapat diuji apakah bisa dijalankan dengan emulator di Linux. Penelitian selanjutnya dapat diperluas pada seluruh bagian di BPS dan menguji aplikasi yang sudah dibuat berbasis Windows.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Tanenbaum, Andrew S.(2001). Modern Operating System: Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
[2] Sofyan, Ahmad. (2006). Membuat Distro Linux Sendiri. Jakarta: Dian Rakyat.
[3] Deklarasi IGOS, Situs Resmi Indonesia Go Open Source, http://www.igos.web.id/web/guest/document/, diakses 7 Mei 2008.
[4] Situs Forum Ubuntu, http://ubuntuforums.org/capink.html, diakses 4 Juni 2008.
[5] Panduan Penelitian OSS, Situs Resmi Indonesia Go Open Source, http://www.igos.web.id/web/guest/document/, diakses 7 Mei 2008.
[6] Dvorak, John C. “Spagheti Tanpa Saus”. PC Magazine. Oktober 2004.
Urgensi Pemanfaatan GNU/Linux dan Open Source Software demi Kemandirian dan Produktivitas Teknologi Informasi di Indonesia April 30, 2008
Posted by asakuratorvald in About Linux, igossummit2.Tags: igossummit2, linux
1 comment so far
1. PENDAHULUAN
Komputer adalah hal yang wajib di setiap lini kehidupan modern. Komputer digunakan untuk belajar, bermain, bekerja, dan berbisnis. Untuk mengoperasikan komputer, keberadaan suatu sistem operasi adalah mutlak. Sistem operasi menjadi penghubung antara pengguna dan aplikasi dengan perangkat keras komputer. Sistem operasi pun sudah menjadi hal yang penting dan kritikal dalam komponen bisnis perusahaan.
Sistem operasi yang banyak dipakai di dunia adalah Microsoft Windows. Sisa pangsa pasarnya diperebutkan oleh Apple Mac, Sun Solaris, GNU\Linux, berbagai varian BSD, dan lain-lain. Para pesaing Windows tersebut mulai berusaha merebut pangsa pasar Windows. Apple misalnya, mulai bekerja sama dengan Intel sejak Februari 2006. Sehingga sistem operasi Mac-nya dapat dijalankan pada PC berbasis Intel x86. Kemudian berbagai varian distribusi GNU\Linux mulai naik daun karena sifatnya yang free dan open source.
Linux pada dasarnya hanyalah sebuah kernel yang mengatur pemakaian dan hak akses ke perangkat keras. Kita tidak bisa menggunakan komputer hanya dengan sebuah kernel. Agar dapat diguakan, diperlukan komponen lainnya seperti desktop environment dan berbagai aplikasi. Maka muncullah para pengembang yang mengemas Linux untuk mempermudah penggunaan dan distribusinya. Distro Linux adalah kernel Linux ditambah dengan kumpulan paket-paket software dari proyek GNU dan yang lainnya, yang dibundel menjadi satu, dengan tujuan untuk mempermudah proses distribusi software tersebut.
Ibarat sebuah mobil, Linux, atau tepatnya kernel Linux adalah mesin utamanya. Ini yang dikembangkan oleh Linus Torvalds dan kawan-kawan. Sedangkan sasis, rangka, roda, per, dan sebagainya disatukan oleh perusahaan karoseri. Demikian juga (kernel) Linux, untuk bisa dipergunakan, dilengkapi aplikasi pendukung seperti aplikasi server, desktop manager, aplikasi office dan banyak aplikasi lain sesuai kebutuhan. Ini yang dilakukan oleh RedHat, SuSE, Debian, Mandriva, dan beberapa distributor lainnya. Mereka mendistribusikan
Linux kepada pengguna, lengkap dengan aplikasi-aplikasi pendukung siap pakai. (Sofyan, 2006: 5)
Aspek yang membedakan antar distribusi berkisar tentang instalasi, aplikasi yang disertakan, dan program bantu yang disediakan. Masing-masing distro biasanya memiliki tampilan antar muka (interface) instalasi yang berbeda. Namun saat ini, hampir semua distro besar sudah memiliki tampilan grafis dengan GUI (graphical user interface) yang cantik untuk memandu proses instalasi. Hanya beberapa yang masih mempertahankan mode teks, misalnya Debian, dan Slackware.
Kernel Linux memang dilepas secara cuma-cuma oleh Linus Torvalds. Begitu pula dengan berbagai software dari proyek GNU (GNU is Not UNIX) yang dirintis oleh Richard M Stallman (RMS) dengan Free Software Foundation-nya. Akan tetapi Richard sangat tidak setuju dengan pemahaman bahwa free adalah gratis. Free yang ia maksud adalah freedom atau kebebasan. Free di sini tidak ada kaitannya dengan uang. Siapa pun bisa menjual atau mengambil manfaat dari free software. Dia mendefinisikan kebebasan dalam empat tingkat, dari nol sampai tiga.
Kebebasan nol artinya bebas menggunakan untuk apa saja. Kebebasan satu untuk mempelajari dan memodifikasi sesuai kebutuhan. Kebebasan dua untuk disebarluaskan atau bebas dikopi. Kebebasan tiga adalah untuk meningkatkan kemampuannya dan menyebarluaskan kembali ke publik. RMS juga tidak suka dengan penyebutan distro Linux tanpa kata GNU. Sebab, Linux hanya sebuah kernel. Seharusnya disebut GNU/Linux atau GNU+Linux. Kebebasan inilah yang dimaksud oleh Lisensi GPL (GNU General Public License) yang saat ini mencapai GPL versi 3.
Saat ini, GNU\Linux mulai dikenal sebagai sistem operasi alternatif (yang seharusnya ia menjadi sistem operasi utama). Baik di pasar server maupun desktop. Namun, penggunaannya masih relatif terbatas. Meskipun kelemahan dari sistem operasi Windows sudah umum diketahui, jumlah pengguna yang mau berpindah ke sistem operasi GNU\Linux masih relatif sedikit. Hal ini antara lain disebabkan kurangnya informasi, mudahnya mendapatkan CD instalasi bajakan dan keengganan mempelajari hal baru karena sudah terlalu terbiasa dengan sistem yang lama. Maraknya pembajakan menjadikan pola konsumtif dalam menggunakan sistem operasi yang tidak menyertakan source code telah memanjakan kita. Banyak pengguna masih terus memakainya tanpa tahu apa yang ada dibaliknya. Padahal, GNU\Linux tidaklah sesulit yang dibayangkan.
2. PEMBAHASAN
Pola konsumtif tersebut sangat berbahaya dalam jangka panjang. Akibat yang paling jelas adalah ketergantungan. Karena sudah terlalu terbiasa menggunakan produk tertentu, ada beberapa orang yang hanya bisa bekerja dengan produk tersebut. Apalagi bila teknologi dari produk yang dipakai bersifat tertutup. Artinya, kita tidak mengetahui cara kerja sistem dan apa saja yang dilakukan oleh sistem. Bila ada masalah, kita hanya bisa menunggu patch atau update. Kita tidak bisa terlibat dalam pengembangannya. Selain itu, Anda tidak mempunyai pilihan lain jika suatu saat produsen menaikkan harga lisensi atau menghentikan support-nya.
Belum lagi harga lisensi yang mahal, kerentanan terhadap virus dan serangan lainnya, serta menurunnya performa sistem dari hari ke hari. Kerentanan dan penurunan performa tentunya menurunkan produktivitas sehari-hari. Microsoft mengklaim versi terbaru sistem operasinya, Windows Vista adalah sistem operasi yang paling aman, mudah, dan menyenangkan. Ada beberapa hacker yang menyatakan bahwa kualitas kode Windows Vista lebih baik daripada Mac OS X. Namun ada pula laporan bahwa virus-virus yang membuat Windows XP crash masih tetap dapat membuat Windows Vista crash. Jadi, pengembangan apa yang dilakukan oleh Microsoft?
Penggunaan sistem GNU\Linux memungkinkan kemandirian teknologi. Selain itu, tersedia banyak pilihan dalam implementasinya. Kedaulatan dan kebebasan berada di tangan pengguna. Setiap orang dapat memiliki, mempelajari, dan mengembangkan sistem GNU\Linux yang bersifat sangat pribadi. Sebab, setiap komponennya dapat diubah sesuai kebutuhan. Tersedia banyak tools untuk melakukan tugas (task) tertentu. Sehingga ada kebebasan memilih dan menggunakan. Kita tidak terpaku pada satu tool untuk setiap tugas. Akan tetapi ada kompatibilitas yang baik antar tools tersebut. Tidak ada masalah dalam pertukaran data karena menggunakan penyimpanan dengan format standar terbuka.
Standar terbuka adalah hal yang penting. Bayangkan bila data penting Anda tersimpan dalam format tertentu yang hanya bisa dibuka oleh aplikasi tertentu. Apa yang akan Anda lakukan bila beberapa tahun kemudian aplikasi tersebut tidak lagi tersedia, atau format lama tidak lagi didukung? Nah, standar terbuka memungkinkan formatnya dapat dibuka oleh aplikasi apa saja. Sebab, tersedia spesifikasi dan source code implementasi format tersebut. Bahkan setiap orang dapat membuat aplikasi sendiri menggunakan format penyimpanan tersebut. Contohnya adalah Open Document Format (ODF) yang telah terdaftar sebagai ISO.
Ketahanan dan kehandalan GNU\Linux sudah banyak terbukti. Banyak server dengan sistem GNU\Linux dapat berjalan tahunan tanpa restart atau crash. Sistem lebih stabil dan hampir tidak pernah hang. Serangan virus juga hampir tidak pernah terjadi. Tidaklah mudah membuat virus yang bisa menyerang sistem GNU\Linux. Berkat sistem modular warisan UNIX, banyak hal yang harus dipelajari untuk membuat sistem GNU\Linux crash atau down. Sebab, kegagalan satu komponen sistem tidak mempengaruhi komponen sistem lainnya. Selain itu, karena berawal dari sejarah multi user, hak akses file lebih terjaga. Produktivitas pun selalu terjaga. Tidak banyak waktu produktif dan pengeluaran yang terbuang untuk perbaikan. Sehingga staf divisi TI (teknologi informasi) memiliki waktu luang lebih yang biasa dipakai untuk perbaikan. Mereka pun dapat memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mengembangkan aplikasi berbasis TI yang lebih baik untuk kantor atau perusahaannya.
Kernel Linux yang tersedia source code-nya, membuat Linux dapat dimodifikasi dan dijalankan di perangkat keras dengan berbagai arsitektur. Mulai dari Intelx86, mainframe, konsol game, hingga perangkat mobile dapat menjalankan Linux. Contohnya adalah distro MontaVista yang digunakan dalam Motorola ROKR. Nokia pun kini sudah bergabung dengan The Linux Foundation dan mengakuisisi Trolltech (yang terkenal dengan Qt toolkit yang dipakai untuk membangun desktop environment populer KDE) seharga EURO 104juta. Selain itu, optimasi juga dapat dilakukan pada setiap arsitektur, sehingga Linux dapat berjalan cepat pada perangkat keras yang sudah berumur. Hal ini dapat meningkatkan hardware lifecycle.
Kekhawatiran akan kurangnya dukungan terhadap Linux juga tidak dapat dijadikan alasan lagi. Karena Linux telah mulai didukung perusahaan besar seperti IBM, Informix, SyBase, Oracle, Corel, Intel, Sun Microsystem, Compaq, Dell, dan sebagainya. Berbagai perusahaan besar sudah tidak ragu untuk menggunakan Linux. NASA dan pemerintah Amerika (terutama Departemen Pertahanan) pun mulai melirik Linux. Google sudah lama menggunakan GNU\Linux sebagai infrastruktur sistemnya. Bahkan, Google bekerja sama dengan Ubuntu membuat sebuah distro GNU\Linux bernama gOS yang dibundel pada laptop murah Cloudbook Everex. Mulai Mei 2007, Dell akan membundel desktopnya dengan sistem operasi GNU\Linux Ubuntu. Lenovo juga menyediakan seri laptop yang berisi preload SUSE Linux Desktop 10. Intel membuat project LessWatts.org untuk menurunkan konsumsi daya di PC dan Server Intel yang memakai Linux. Selain itu, Axioo juga menyediakan seri laptop dengan preload distro GNU\Linux berbasis PCLinuxOS yang sudah dimodifikasi dan dioptimasi untuk perangkat keras laptop tersebut.
Cina, Filipina, Jepang, India, Malaysia, Thailand, Nigeria, Brasil, Kuba, Spanyol, Jerman, Polandia, Afrika Selatan adalah contoh pemerintahan yang sudah menerapkan GNU\Linux. Departemen Pendidikan Brasil menyediakan 90.000 PC berbasis GNU/Linux Debian 4.0 Etch plus wireless card dan printer laser kompatibel Debian untuk 9.000 sekolah. Lalu dilanjutkan dengan 3000 PC berbasis Debian untuk sekolah di pedesaan, setiap PC dilengkapi printer kompatibel Linux dan layanan support 36 bulan. Di Nigeria ada 17.000 PC berbasis Intel dan Mandriva Linux untuk sekolahan. Sedangkan di Filipina Linux dikenal setelah krisis Asia 1997. Setelah sukses membangun 13.000 PC berbasis Fedora, Filipina berencana menyediakan 10.000 PC berbasis Ubuntu. PC tersebut ditujukan untuk 1000 sekolah, dengan satu server plus 10 desktop dengan konektivitas internet di setiap sekolah. Distro yang digunakan adalah Kubuntu dan Edubuntu. Selain itu, aplikasi CMS Joomla! dan Drupal diinstal di server agar siswa bisa menulis artikel.
Indonesia pun tidak kalah. Pada 1 Juli 2004, lima menteri di pemerintahan Megawati yaitu Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Kehakiman dan HAM, serta menteri Pendidikan Nasional secara resmi menyatakan akan menggalakkan penggunaan standar software terbuka melalui gerakan Indonesia Go Open Source (IGOS) yang konon dapat menghemat belanja sampai 20 triliun rupiah. Sejauh ini, baru Departemen Komunikasi dan Informatika serta Depertemen Sosial yang benar-benar menggunakan GNU\Linux di seluruh sistemnya.
Sejauh ini ada tiga pemerintahan daerah provinsi yang berusaha menerapkan IGOS. Yaitu Aceh, Jogja, dan Jawa Tengah. Aceh dan Jogja bekerja sama dengan Yayasan Air Putih untuk melakukan migrasi keseluruhan ke sistem GNU\Linux. Sedangkah di pemda Jawa Tengah, seluruh server dan aplikasi sudah pakai Linux sejak tahun 2000. Misalnya JatengOnline dibangun dengan LAMP (Linux, Apache, mySQL, PHP). Hingga saat ini, sudah 150 PC desktop yang menggunakan Linux. Belum terhitung yang masih memakai Windows tapi memanfaatkan aplikasi OpenOffice.Org, Firefox, Thunderbird, Evolution. JatengOnline siap fasilitasi open-source di alamat http://open-source.jawatengah.go.id (sudah 35.000 hits) yang berisi file isolinux, dokumentasi, dan forum.
Ada pula Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) di berbagai kota: Aceh, Bali, Bandung, Batam, Bogor, Bontang (Kaltim), Gorontalo, Jakarta, Kediri, Madiun, Makassar, Malang, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Serang, Sidoarjo, Solo, Surabaya, Tangerang, Tegal, dan Yogyakarta. Masing-masing KPLI aktif mengadakan kegiatan kampanye dan pelatihan penggunaan GNU\Linux dan open source software.
Berkaitan dengan kemandirian dan produktivitas, apakah Linux yang gratis dan free ini dapat digunakan untuk menghasilkan uang? Tentu saja. Contoh sukses dari bisnis open-source adalah MySQL yang dibeli Sun Microsystem seharga 1 milyar USD. MySQL memiliki 400 karyawan di 25 negara. Menurut CNET news, pendapatannya pada 2006 adalah USD 40 juta. Business model yang diterapkan adalah: penjualan support, training, certification, subscription enterprise, dan MySQL dual-license yang mengharuskan pembelian lisensi bila digunakan untuk mengembangkan aplikasi yang tidak open source. Contoh lain adalah SUSE Linux yang dibeli Novell seharga USD 210 juta atau Zimbra, pengembang collaboration suite untuk universitas, bisnis, dan service provider yang dibeli Yahoo! seharga USD 350 juta. Ada juga Jboss, pengembang server application, yang diakuisisi RedHat USD 420 juta.
Ada beberapa cara untuk mengail uang dari bisnis open source. Pertama, sebagai penyedia distro kustom. Meskipun sudah ada berbagai distro, namun selalu saja ada celah untuk mengembangkan distro dengan kebutuhan khusus. Kedua, menjadi penyedia teknologi, misanya framework atau filesystem baru yang lebih baik. Ketiga, jasa konsultan Linux baik umum maupun spesialis juga diminati oleh perusahaan yang ingin migrasi ke GNU\Linux namun tidak punya pengetahuan yang cukup. Sebaiknya menguasai beberapa distro enterprise seperti SUSE dan RedHat. Keempat, menjadi penyedia solusi. Misalnya membantu suatu perusahaan melakukan porting beberapa aplikasi berbasis Windows menjadi berbasis GNU\Linux atau multiplatform. Kelima, menjadi implementator. Dalam bidang ini, diperlukan kemampuan untuk instalasi server atau client desktop, lengkap dengan konfigurasinya. Sebab, barangkali ada yang tidak mau repot melakukan implementasi setelah berkonsultasi. Keenam, tentu saja akan dibutuhkan jasa pendidikan dan sertifikasi kemampuan di bidang Linux. Ladang ini masih sangat potensial. Ketujuh, berdagang CD atau DVD GNU\Linux juga bisa menjadi pilihan. Kemudahan akses, kualitas CD atau DVD, tambahan manual yang tercetak dan kemasan yang bagus bisa menjadi nilai tambah dalam bidang ini. Kedelapan, bisnis media berupa buku, majalah, tabloid, atau media massa yang menyebarkan berita dan pengetahuan atau tips-tips penggunaan GNU\Linux adalah lahan yang masih dapat digarap.
Dahulu tidak ada yang menyangka bahwa air putih dapat dijual. Di setiap restoran atau rumah makan, kita bisa mendapatkan air putih secara gratis. Bahkan, akan dianggap aneh bila ditarik bayaran untuk mendapatkan air putih tersebut. Namun, sekarang tidak ada yang merasa aneh atau enggan untuk mendapatkan air minum dalam kemasan dengan harga 500 hingga 2000 rupiah. Ada berbagai merek tersedia dengan berbagai rasa, warna air dan kemasan. Analogi yang sama berlaku untuk GNU\Linux. Anda dapat membuat berbagai warna, rasa, dan kemasan GNU\Linux, lalu menjualnya dengan support yang prima.
Menginstal dan menggunakan Linux pun sudah tidak sesulit dulu. Sudah ada tampilan grafis dan efek desktop 3D dengan Compiz-Fusion yang lebih indah dan canggih dibandingkan Flip3D Windows Vista. Ada juga pendekatan LiveCD atau LiveDVD yang dapat dicoba tanpa diinstal terlebih dahulu. Tinggal masukkan keping LiveCD atau LiveDVD ke dalam CD-ROM atau DVD-ROM dan atur BIOS untuk boot dari CD/DVD. Dalam beberapa menit, desktop GNU\Linux akan tersedia lengkap dengan berbagai aplikasi yang dibutuhkan. Setelah puas mencoba, sistem LiveCD atau LiveDVD tersebut dapat diisntal ke harddisk dengan beberapa klik saja. Setelah diinstal, akan didapatkan sistem yang berjalan dengan kecepatan penuh, tidak lagi berjalan dari CD-ROM atau DVD-ROM. Jadi, tunggu apalagi?
3. PENUTUP
Saat ini, GNU\Linux mulai dikenal sebagai sistem operasi alternatif (yang seharusnya ia menjadi sistem operasi utama). Baik di pasar server maupun desktop. Namun, penggunaannya masih relatif terbatas. Meskipun kelemahan dari sistem operasi Windows sudah umum diketahui, jumlah pengguna yang mau berpindah ke sistem operasi GNU\Linux masih relatif sedikit. Hal ini antara lain disebabkan kurangnya informasi, mudahnya mendapatkan CD instalasi bajakan dan keengganan mempelajari hal baru karena sudah terlalu terbiasa dengan sistem yang lama. Maraknya pembajakan menjadikan pola konsumtif dalam menggunakan sistem operasi yang tidak menyertakan source code telah memanjakan kita. Banyak pengguna masih terus memakainya tanpa tahu apa yang ada dibaliknya. Padahal, GNU\Linux tidaklah sesulit yang dibayangkan.
Ada beberapa cara untuk mengail uang dari bisnis open source. Pertama, sebagai penyedia distro kustom. Meskipun sudah ada berbagai distro, namun selalu saja ada celah untuk mengembangkan distro dengan kebutuhan khusus. Kedua, menjadi penyedia teknologi, misanya framework atau filesystem baru yang lebih baik. Ketiga, jasa konsultan Linux baik umum maupun spesialis juga diminati oleh perusahaan yang ingin migrasi ke GNU\Linux namun tidak punya pengetahuan yang cukup. Sebaiknya menguasai beberapa distro enterprise seperti SUSE dan RedHat. Keempat, menjadi penyedia solusi. Misalnya membantu suatu perusahaan melakukan porting beberapa aplikasi berbasis Windows menjadi berbasis GNU\Linux atau multiplatform. Kelima, menjadi implementator. Dalam bidang ini, diperlukan kemampuan untuk instalasi server atau client desktop, lengkap dengan konfigurasinya. Sebab, barangkali ada yang tidak mau repot melakukan implementasi setelah berkonsultasi. Keenam, tentu saja akan dibutuhkan jasa pendidikan dan sertifikasi kemampuan di bidang Linux. Ladang ini masih sangat potensial. Ketujuh, berdagang CD atau DVD GNU\Linux juga bisa menjadi pilihan. Kemudahan akses, kualitas CD atau DVD, tambahan manual yang tercetak dan kemasan yang bagus bisa menjadi nilai tambah dalam bidang ini. Kedelapan, bisnis media berupa buku, majalah, tabloid, atau media massa yang menyebarkan berita dan pengetahuan atau tips-tips penggunaan GNU\Linux adalah lahan yang masih dapat digarap.
Menginstal dan menggunakan Linux pun sudah tidak sesulit dulu. Sudah ada tampilan grafis dan efek desktop 3D dengan Compiz-Fusion yang lebih indah dan canggih dibandingkan Flip3D Windows Vista. Ada juga pendekatan LiveCD atau LiveDVD yang dapat dicoba tanpa diinstal terlebih dahulu. Tinggal masukkan keping LiveCD atau LiveDVD ke dalam CD-ROM atau DVD-ROM dan atur BIOS untuk boot dari CD/DVD. Dalam beberapa menit, desktop GNU\Linux akan tersedia lengkap dengan berbagai aplikasi yang dibutuhkan. Setelah puas mencoba, sistem LiveCD atau LiveDVD tersebut dapat diisntal ke harddisk dengan beberapa klik saja. Setelah diinstal, akan didapatkan sistem yang berjalan dengan kecepatan penuh, tidak lagi berjalan dari CD-ROM atau DVD-ROM. Jadi, tunggu apalagi?
4. Daftar Pustaka
1 Sofyan, Ahmad. 2006. “Membuat Distro Linux Sendiri”. Jakarta: Dian Rakyat dan InfoLINUX.
2 Bundel PDF Majalah InfoLINUX 36 Edisi (01/2003 – 12/2005)
3 Bundel PDF Majalah InfoLINUX 12 Edisi (01/2007 – 12/2007)
4 Bundel PDF Majalah PCMedia 12 Edisi (01/2007-12/2007)
5 Dvorak, John C. “Spagheti Tanpa Saus”. PC Magazine. Oktober 2004.
6 Hariyanto, Bambang. 2005, “Sistem Operasi: Edisi Kedua”, Bandung: Informatika.
7 Mahmud, Vishnu K. “Mana Kemandirian Kita?”. PC Magazine. April 2006.
8 Majalah CHIP, edisi 09/2006.
9 Majalah CHIP, edisi 09/2007.
10 Majalah e-Bizz Asia, http://www.ebizzasia.com
11 Netcraft Web Survey, September2004, http://news.netcraft.com/archives/2004/08/31/September_2004_seb_server_survey.html
12 Noprianto, “Berbisnis di Dunia Open Source”, Majalah InfoLINUX 08/2005.
13 Portal Berita, http://www.LinuxToday.com
14 Portal Departemen Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, http:\\www.depkominfo.go.id
15 Portal Distribusi Linux, htp://www.distrowatch.com
16 Sunggiardi, Michael S., “Open Source = Cut Budget?”. Majalah Info LINUX 10/2004.
17 Tanenbaum, Andrew S, 2001, “Modern Operating System: Second Edition”, New Jersey: Prentice Hall, Inc.