jump to navigation

ILMU SEBELUM SEMUANYA December 28, 2007

Posted by asakuratorvald in About Islam.
Tags: ,
add a comment

Saudaraku, pernahkah kita melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu? Apakah kita bisa berbicara bila orangtua kita tidak pernah mengajarkannya? Apakah kita bisa mengerjakan soal ujian yang tidak pernah diajarkan atau dipelajari sebelumnya? Lalu, apakah kita bisa memperbaiki komputer atau motor yang rusak bila belum pernah tahu bagaimana caranya? Apakah kita bisa melakukan sholat atau menunaikan ibadah haji tanpa tahu caranya?

Tentu saja jawabannya tidak bisa. Kita tidak akan bisa melakukan semua itu tanpa ilmu. Sebab, kita semua dilahirkan dalam keadaan tidak memiliki ilmu. Namun, kita memiliki potensi untuk menerima ilmu. Potensi tersebut antara lain refleks dan otak yang dikaruniakan kepada kita. Saudaraku, otak manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyimpan atau mengolah segala sesuatu.

Nah, sudahkah kita memanfaatkan seluruh kemampuan otak kita? Apa sajakah yang telah tersimpan di otak kita? Apakah otak kita telah terisi dengan ayat al-Quran dan lafal hadits? Ataukah terisi dengan rumus-rumus fisika, kimia, atau statistik? Ataukah hanya terisi oleh hal-hal yang kurang berguna? Penelitian selama ini menyatakan bahwa kebanyakan manusia hanya menggunakan 2% dari seluruh kemampuan otaknya. Einstein yang jenius pun kabarnya hanya menggunakan tidak lebih dari 10% dari kemampuan maksimum otaknya.

Saudaraku, mari kita manfaatkan apa yang telah dikaruniakan Allah kepada kita. Mari kita perluas ilmu yang telah kita miliki. Jangan pernah puas dalam menuntut ilmu. Sebab, dengan semakin luasnya ilmu yang kita miliki, semakin banyak pula hikmah yang kita dapat. Semakin banyak pula manfaat yang bisa kita berikan kepada umat. Karena dengan semakin luasnya ilmu, semakin beragam pula karunia Allah yang bisa kita manfaatkan. Agar lebih bersemangat, mari kita simak terlebih dahulu keutamaan-keutamaan orang yang berilmu. Renungkanlah firman Allah berikut,

 Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi  berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Q. S. Al-Baqarah, 2: 247)

Apa hikmah dari kisah Thalut yang diabadikan dalam ayat di atas? Allah mengangkat Thalut sebagai raja bukan karena kekayaan. Tetapi karena luasnya ilmu yang dimiliki dan tubuhnya yang perkasa. Dan pilihan Allah pasti tidak akan salah. Terbukti, pada akhirnya Thalut berhasil memenangkan pertarungan melawan Jalut, meskipun dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit daripada pasukan Jalut. Ini karena ilmunya yang luas sehingga dapat menyusun strategi yang jitu. Orang yang hanya memiliki kekayaan saja tidak akan berhasil menjadi pemimpin. Sebab, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan. Kekayaan hanyalah sarana yang bisa dicari dengan ilmu. Dan ilmu akan selalu menjaga pemiliknya dari marabahaya yang datang dari mana saja. Sebab, dengan ilmu ia tidak mudah dikelabui atau ditipu. Karena ilmu yang dipunyai, ia juga selalu menemukan solusi cerdas terhadap setiap masalah.

Jadi, hanya orang yang berilmu saja lah ayang pantas dan akan diangkat menjadi pemimpin. Selain itu, orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt. Simaklah firman Allah berikut,

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q. S. Al-Mujadilah, 58: 11)

Kenyataan dari firman Allah di atas dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari di dunia akademik. Seorang bintang kelas selalu disegani dan dihormati teman-teman sekelasnya. Ini dikarenakan nilainya yang seringkali lebih baik daripada teman-temannya. Seorang dosen lulusan S2 pasti menaruh hormat pada dosen lulusan S3. Namun, apakah ilmu akademik yang dimaksud dalam firman Allah tersebut? Ataukah ilmu yang lain? Ingat, dalam firman Allah di atas, yang akan ditinggikan derajatnya adalah orang yang beriman dan berilmu. Tidak hanya beriman saja, atau berilmu saja.

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan memahamkan baginya agamanya.” Jadi, sumber kebaikan bagi seseorang adalah kefahaman akan agamanya. Karena agama akan menjadi pedoman dalam bertindak dan bertingkah laku. Menjadi tolok ukur nilai-nilai moral. Sedangkan ilmu yang lain seperti ilmu kedokteran, teknik penerbangan, keuangan, dan lain-lainnya hanyalah sarana. Ilmu agama yang akan membimbing kita bagaimana seharusnya memanfaatkan ilmu kedokteran, pertanian, perdagangan, dan sebagainya.

Di tangan orang yang beriman, ilmu kimia dapat digunakan untuk mencari formula obat bagi orang yang menderita suatu penyakit. Namun, di tangan orang yang tidak beragama, ia bisa digunakan untuk membuat racun yang sangat mematikan. Ilmu perdagangan bisa saja digunakan untuk menipu orang lain. Bukan untuk meningkatkan perekonomian umat. Selanjutnya, mari kita lihat kalimat Ya’qub a.s yang Allah abadikan dalam firman-Nya berikut:

Dan Ya’qub berkata:  “Hai anak-anakku janganlah kamu  masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lainan… (Q. S. Yusuf, 12: 67)

Apa yang dimaksud oleh ayat ini? Kita dapat menerapkan ini kepada anak-anak kita. Dalam hal ilmu duniawi seperti kimia, biologi, akuntansi, teknik komputer, kedokteran, dan lain-lain, maka bertebaranlah kalian dan perdalam pengetahuan kalian di bidang yang berbeda. Agar umat Islam memiliki orang yang ahli di setiap bidang. Akan tetapi, ilmu agama harus dimiliki oleh semuanya. Agar tidak salah dalam menggunakan ilmu tersebut.

Dan sebagai agama yang benar, tidak akan ada pertentangan antara ilmu agama dengan ilmu kedokteran, kimia, atau yang lainnya. Justru akan semakin dalam keimanan kita kepada Allah. Sebab, melalui ilmu kedokteran, kimia, geografi, astronomi, dan ilmu lainnya akan kita temukan kebesaran dan kekuasaan Allah. Jadi, mari kita tingkatkan pemahaman kita dalam soal aqidah, fiqih, dan sebagainya. Lalu kita perdalam juga ilmu di bidang yang kita minati. Agar rahmat Islam menyebar ke seluruh alam melalui ilmu yang kita miliki.

Akhirnya, jangan sampai kita berbicara atau melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui ilmunya. Entah karena merasa gengsi atau malu jika tidak tahu atau tidak bisa. Tapi, jujurlah kalau memang tidak tahu. Namun, jangan hanya berhenti di situ. Teruslah cari dan gali apa yang tidak kita ketahui dan tidak bisa kita lakukan. Semoga rahmat Islam dapat menyebar ke seluruh dunia melalui otak dan tangan kita!

Apakah Kita Siap untuk Bangkit Kembali? December 28, 2007

Posted by asakuratorvald in About Islam.
Tags: , ,
2 comments

Saudaraku, adakah kita menyadari bahwa tahun telah berganti. Barangkali banyak diantara kita yang tidak tahu-menahu dengan berlalunya 1 Muharram 1427. Yakni sebagian kita yang hanya mengerti bahwa tahun dimulai dari 1 Januari, yang merayakan malam 31 Desember dengan gegap-gempita. Namun, penulis tidak mengajak Anda untuk merayakan malam 1 Muharram seperti halnya malam 1 Januari. Sebab, hari raya (‘Ied) umat Islam hanyalah ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha.

 
Saudaraku, simaklah firman Allah SWT berikut:

 
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. QS. At-Taubah, 9: 36

 
Bila kita mau sedikit memperhatikan dan berpikir, kita dapati hampir semua sistem kalender yang ada di dunia ini memiliki hitungan bulan sebanyak 12 bulan. Tepat seperti firman Allah di atas. Baik kalender Jawa, Cina, Mesir, dan lainnya. Baik yang menggunakan sistem lunar (berdasarkan peredaran bulan) maupun sistem solar (berdasarkan peredaran matahari).

 
Namun, kalender Masehi yang sering kita pakai memiliki sejarah yang ironis. Kalender yang diresmikan oleh Julius Caesar ini pada awalnya terdiri dari 8 bulan, dari Januari sampai Oktober, terdiri dari 30 dan 31 hari. Ini bisa dibuktikan dari kata okto yang berasal dari oktaf yang berarti delapan atau sempurna. Kemudian dilengkapi menjadi 12 bulan setelah mengetahui kebenaran perhitungan bahwa satu tahun terdiri dari 12 bulan dari bangsa Mesir. Keempat bulan yang ditambahkan adalah Juli, Agustus, November, dan Desember.

 
Lalu, kepercayaan bahwa angka ganjil memberi keberuntungan menjadikan bulan Juli dan Agustus menjadi berjumlah 31 hari. Ini karena keinginan Kaisar Julius dan Augustus yang ingin mengabadikan namanya dalam kaleder ini. Dan akhirnya bulan Februari yang menjadi korban hingga berjumlah 28 hari saja. Apakah kalender dengan sejarah seperti ini cukup layak untuk kita pakai?

 
Fenomena ini menunjukkan salah satu kelemahan umat. Bahwa umat telah didominasi oleh pemikiran import. Padahal umat Islam memiliki sistem kalender sendiri. Yakni sistem kalender Hijriyah yang dihitung sejak peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Umar bin Khattab-lah yang meresmikan sistem kalender ini waktu beliau menjabat sebagai khalifah.

 
Mengapa peristiwa Hijrah yang dipakai sebagai permulaan perhitungan kalender Islam? Mengapa tidak dihitung dari kelahiran Nabi, saat beliau diangkat menjadi Rosul, saat perang Badar, atau peristiwa bersejarah lainnya? Sebab, hijrah menandai kebangkitan dan persatuan umat. Di Madinah-lah titik awal masa keemasan Islam dimulai. Ditandai dengan dipersaudarakannya kaum Muhajirin dan Anshar, kekuatan

persatuan umat mulai nampak. Apalagi gangguan dari kaum musyrikin Mekkah secara langsung mulai berkurang di Madinah.

 

Saudaraku, kerusakan telah melanda umat dari berbagai bidang. Kemerosotan nilai moral, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan terjadi pada kita. Maka, seharusnya momen ini menjadi titik dimulainya kebangkitan umat. Pertama, meng-hijrahkan pemikiran umat. Hijrah dari pola pikir konsumtif ke pola pikir produktif, dari pola pikir babu ke pola pikir pemimpin. Dari umat yang bergantung dan malas menjadi umat yang mandiri dan bekerja keras serta ber-etos kerja tinggi. Dari umat yang bodoh dan terbelakang menjadi umat yang cerdas namun tidak luntur jati dirinya oleh modernisasi dan kemajuan zaman.

 
Bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam  potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi  manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan  kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Alloh swt, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan  segala isinya ini!

 
Dan yang perlu kita renungkan adalah kenyataan bahwa waktu yang lampau tidak akan kembali. Ketika al-Ghazali ditanya benda apakah yang paling jauh dari kita? Jawabannya adalah waktu yang baru berlalu. Sebab ia tidak akan kembali.

 
Saudaraku, kita berpacu dengan waktu. Segeralah bergerak! Allah berfirman:

 
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

QS. Al-‘Ashr, 103: 1-3

 
Bila direnungkan, makna ayat ini begitu besar. Bila kita bersumpah, biasanya kita menyebutkan seseorang atau sesuatu yang kita agungkan. Misalnya, demi Allah. Namun, pada ayat ini, Allah bersumpah demi masa, demi waktu. Ini menunjukkan pentingnya waktu bagi kita. Bahwa kita harus mengagungkan waktu dengan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Sebab, bila tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kita akan tergolong kepada manusia-manusia yang berada dalam kerugian.

 
Maka Saudaraku, jangan sampai kita tergolong dalam kelompok manusia yang mengalami kerugian karena tidak memanfaatkan waktu yang telah dikaruniakan. Mari kita mengevaluasi diri dan menyiapkan hari esok dengan lebih baik. Sebab kita tidak tahu kapan dan dimana kita akan mati. Kita juga tidak tahu berapa lama lagi kita diberi kesempatan untuk menyiapkan hari esok, maka jangan sia-siakan waktu yang tersisisa walaupun hanya sedetik. Manfaatkanlah sebaik-baiknya. Dan kembalikanlah kejayaan umat Islam seperti pada awalnya.

 
Akhirnya, tanyakanlah pada diri kita masing-masing,

Aapakah kita siap untuk bangkit kembali?

Jawablah dengan perbuatan!

Percayalah, Dirimu Adalah Yang Terbaik December 28, 2007

Posted by asakuratorvald in About Islam.
Tags: ,
add a comment

   Kepercayaan diri adalah hal yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin meraih kesuksesan. Tanpa kepercayaan diri, Anda takkan pernah berhasil mencapai apa yang Anda inginkan. Sebab, kurangnya kepercayaan diri dapat menjadikan Anda tidak melakukan apa pun. Atau mencari jalan pintas.

Misalnya Anda ingin kaya, tapi merasa tidak memiliki kemampuan untuk mencari uang. Mungkin Anda akan mencari jalan cepat menjadi kaya yang banyak ditawarkan oleh program-program berhadiah miliaran rupiah. Kalaupun Anda menang, uang itu pasti cepat habis. Sebab, sesuatu yang datang dengan mudah akan pergi dengan mudah juga. Kalau Anda ingin kaya, ada caranya. Anda harus mengumpulkannya sedikit demi sedikit, dengan kepercayaan diri. Jika Anda memiliki tekad dan kepercayaan diri, hampir tidak ada hal yang tak mungkin. Dan tidak akan ada halangan yang berarti.

Lalu pernahkah Anda mengalami krisis kepercayaan diri? Suatu saat di mana Anda berada di titik terbawah. Anda merasa tidak  mampu melakukan sesuatu. Lalu Anda lari, mencari jalan pintas, atau diam tak bergerak. Bagaimanakah yang seharusnya? Mari kita tengok firman Alloh Swt berikut:

 
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Q. S. at-Tiin, 95 : 4-6)

 
Apa makna di balik firman Alloh Swt tersebut? Setiap manusia sudah diciptakan dalam bentuk terbaiknya. Kita harus mempercayainya. Jika Anda merasa memiliki kekurangan fisik, jangan menganggapnya sebagai masalah. Ketahuilah bahwa yang membedakan orang yang sukses dan orang yang gagal adalah sikapnya terhadap kelemahan dirinya.

“Orang yang sukses selalu menganggap masalah / kelemahan sebagai peluang, ujian, atau cobaan yang akan mengantarkannya menuju tingkat prestasi selanjutnya.”

“Calon orang gagal adalah yang selalu menganggap masalah / kelemahan sebagai hambatan.”

            Anda tidak boleh merendahkan diri di hadapan orang lain. Karena pada hakikatnya semua manusia adalah sama derajatnya di hadapan Alloh. Yang membedakannya adalah tingkat ketaqwaan masing-masing. Bila Anda dapat melakukan sesuatu dengan kemampuan Anda sendiri, lakukanlah! Jangan mengandalkan bantuan orang lain. Bila terlalu mengandalkan orang lain akibatnya menjadi lebih buruk. Kalau suatu saat tidak ada bantuan, Anda tidak akan dapat melakukan apa pun.  Dan perilaku tersebut dapat merendahkan pandangan orang lain terhadap kemampuan Anda.

            Alloh Swt berfirman:

 
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap  mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q. S. al-A’raf, 7:31)

          

Maha Benar Alloh, semua yang berlebihan memang tidak baik. Anda makan terlalu banyak, maka anda merasakan kekenyangan. Dan bila terus berlanjut, mungkin Anda perlu menghubungi dokter. Begitu juga dengan kepercayaan diri yang berlebihan. Sebab, kepercayaan diri yang berlebihan dapat mengantarkan kepada sifat ‘ujub dan  takabbur. Yaitu membanggakan diri, merasa paling baik, dan merendahkan orang lain. Rasulullah pernah mengingatkan sifat sombong dalam sabdanya:

 
“Tidak akan masuk surga siapa pun yang ada setitik rasa sombong di dalam hatinga.” Hanya orang yang tidak mengerti yang tidak menginginkan surga.

 
Kita harus sadar bahwa kita adalah makhluq ciptaan-Nya. Kita sangat lemah di hadapan-Nya. Hanya Dia yang layak memakai jubah kesombongan. Kelebihan yang kita miliki layaknya kita gunakan untuk membantu orang lain. Bukan untuk disombongkan. Kesombongan hanya akan membuat teman-teman Anda menjauh. Karena mereka akan merasa direndahkan di bawah bayang-bayang kesombongan Anda.

 Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia   dan janganlah  kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

(Q. S. Luqman, 31:18)

Selanjutnya, jangan lupa untuk selalu belajar. Sehingga kepercayaan diri yang Anda miliki selalu dilandasi dengan ilmu. Tidak perlu ragu untuk mengatakan bahwa Anda tidak tahu, jika Anda memang benar-benar tidak memiliki ilmu tentangnya. Renungkanlah firman Alloh berikut ini:

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(Q. S. al-Mujadilah, 58 : 11)

Akhir kata, Anda harus memiliki kepercayaan diri sebagai seorang muslim. Jangan pernah merasa minder dengan identitas kemusliman Anda.  Jangan pernah takut atau segan untuk menunjukkan identitas Anda sebagai seorang muslim. Islam adalah ajaran terbaik untuk seluruh alam. Lengkap, meliputi segala bidang kehidupan. Tidak ada yang menyamai ketinggian al-Islam yang mulia. Kalam Alloh Swt berikut dapat dijadikan dasar:

 
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Q. S. Ali ‘Imran, 3 : 110)