jump to navigation

Urgensi Pemanfaatan GNU/Linux demi Kemandirian Teknologi Informasi di Indonesia April 15, 2008

Posted by asakuratorvald in About Linux, igossummit2.
Tags: , , ,
trackback

Peran komputer tidak lagi dapat dipisahkan dari kegiatan manusia sehari-hari. Hampir semua bidang pekerjaan saat ini didukung dengan penggunaan komputer. Sebab, komputer sudah semakin murah dan penggunaannya pun semakin mudah. Hal ini tentu saja adalah peran dari sistem operasi. Sistem operasi berfungsi sebagai extended machine dan resource manager. Fungsi-fungsi tersebut sangatlah penting. Karena tanpa adanya sistem operasi, komputertidak dapat digunakan. Sistem operasi menjembatani keinginan aplikasi dan pengguna (manusia) untuk mengakses perangkat keras komputer.

Sistem operasi digunakan di berbagai jenis komputer, antara lain server, mainframe, dan desktop. Sistem operasi yang paling banyak digunakan di lingkungan desktop adalah Microsoft Windows. Sistem operasi ini bersifat tertutup (closed source / propietary) sehinggatidak diketahui kode programnya dan menerapkan lisensi yang mahal. Kemudahan penggunaannya telah menyebabkan ketergantungan dan pola konsumtif. Banyak kalangan yang kemudian menjadi tergantung pada sistem operasi dari Microsoft ini.

Pola konsumtif terhadap sistem operasi Windows ini juga berjangkit di Indonesia. Sebagian besar pengguna tidak mau tahu bagaimana sistem operasi ini bekerja. Mereka tinggal pakai saja dan terus-menerus menjadi konsumen. Hal ini sungguh berbahaya. John C. Dvorak dalam salah satu kolom tetapnya di PC Magazine meyakini bahwa kode program Windows tidak terkontrol, berupa jutaan baris kode spagheti tambal sulam yang dikerjakan banyak orang dan tidak seorang pun di Microsoft menguasai keseluruhannya dengan baik.

Bahaya dari pola konsumtif ini adalah ketergantungan support. Para pengguna Windows sering mendapat gangguan virus, kelambatan dari hari ke hari, sering hang, dan lain sebagainya. Mereka tidak bisa memperbaiki sendiri jika ada security hole di Windows. Mereka harus menunggu Microsoft mengeluarkan patch atau menunggu penangkal virus dari pembuat antivirus.

Pemberlakuan UU HaKI (Undang-undang tentang Hak atas Kekayaan Intelektual) pun tidak dapat membendung pola konsumtif ini. Pengguna Windows masih tetap dominan, sebab pembajakan tetap berlangsung. Mereka belum beralih ke Linux, misalnya karena dianggap susah digunakan. Padahal mereka juga tidak mampu membeli lisensi Windows. Barangkali jika pembajakan benar-benar dihentikan, mereka akan berbondong-bondong migrasi ke Linux. Sebab, Linux gratis, kode programnya terbuka (open source), dan bisa dimodifikasi sesuka hati.

Tapi sayangnya, seringkali mereka yang sudah menggunakan Linux hanya berpikir bahwa ini gratis. Mereka tidak berpikir bahwa ini dapat dimodifikasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan. Padahal seharusnya ini diarahkan pada kemandirian IT. Sebab, bangsa kita memiliki potensi besar untuk mengembangkan sistem operasi sendiri. Misalnya mengembangkan distro khusus game atau pendidikan dan menjualnya dengan harga yang relatif masuk akal.

Sebagai contoh, lihatlah Thailand. Perlahan mereka membangun ladang industri TI yang cukup canggih dengan menawarkan jasa programming dan animasi yang kuat di Asia Tenggara. Thailand merupakan salah satu sumber open source yang unik karena berbagai perusahaan dan sekolahan berupaya untuk membuat dan menggunakan distro Linux nasional.

Harap diingat bahwa huruf Thai berbeda dengan tulisan latin yang kita gunakan. Jadi bukan sekedar bahasanya yang harus diganti, tapi juga semua karakternya yang ada di seluruh sistem. Belum lagi untuk aplikasi OpenOffice.Org, tapi mereka pantang mundur. Karena kemampuan mereka berpaling ke Linux dan perangkat lunak open source, pada tahun 2003 Microsoft Thailand terpaksa menurunkan harga Windows dan Office dari sekitar 600 dolar AS ke 37 dolar AS. Microsoft Windows XP Starter Edition juga mulai dibuat untuk mengantisipasi program open source Thailand, karena takut negara-negara lain akan mengikuti jejak tetangga kita ini.

Kita seharusnya merasa jauh tertinggal bila mengetahui ada pabrik obat dan makanan yang telah menggunakan Linux di lebih dari 300 komputernya. Di Konimex, Linux digunakan sebagai sistem operasi pada hampir seluruh desktop yang ada. Hanya ada beberapa komputer yang masih bertahan dengan DOS/Clipper untuk payroll, Windows/AutoCAD, dan Macintosh untuk desain grafis. Selain itu, Linux juga digunakan sebagai aplikasi web intranet, aplikasi ERP (Enterprise Resource Planning), server database, server email, gateway dan firewall, serta proxy server.

Urgensi kemandirian dalam teknologi informasi tidak dapat ditunda lagi. Teknologi Linux warisan UNIX yang sudah matang dan tersedia secara free tidak bisa hanya dianggap barang gratisan. Ada potensi besar di baliknya bila bangsa kita mau berusaha mempelajarinya dan mengembangkannnya. Open source bukan hanya jalan pintas untuk Cut-Budget, namun lebih dari itu. Ia adalah sarana untuk kemajuan dan kemandirian dalam teknologi informasi, baik dalam level sistem operasi maupun aplikasi. Bangsa besar yang memiliki lusinan pemenang Olimpiade Fisika ini seharusnya bisa menjadi produsen dan pemimpin teknologi informasi dunia, bukan hanya pengguna. GNU\Linux dan teknologi open source adalah pintu gerbang menuju ke sana.

Comments»

No comments yet — be the first.