jump to navigation

Analisis Usability BelajarMenulis.Com January 29, 2008

Posted by asakuratorvald in Web Design.
Tags: ,
trackback

PENDAHULUAN
Tiga puluh tahun lalu, barangkali menulis atau menjadi penulis masih dipandang sebelah mata. Setidaknya, calon mertua belum tentu merestui pernikahan anak gadisnya dengan seorang penulis. Sebab, penghasilannya dianggap tidak jelas. Saat ini, khususnya di Indonesia, menulis sudah dianggap sebagai profesi yang cukup dipandang. Bukan hanya karena uang yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Namun juga anggapan bahwa menulis atau menjadi penulis adalah profesi yang cukup terpandang.

Hal ini antara lain dipicu oleh munculnya para penulis muda berbakat. Industri penerbitan pun berkembang pesat. Banyak penerbit baru bermunculan. Penerbit lama pun memburu penulis-penulis muda berbakat. Cita-cita atau keinginan menjadi penulis pun mulai merebak di berbagai kalangan.

Mereka berusaha menulis dengan jalan masing-masing. Ada yang belajar menulis autodidak dan mulai mengirimkan karyanya ke surat kabar atau sayembara menulis. Ada juga yang membeli dan atau membaca buku-buku tentang teknik menulis. Mereka merasa kurang jika hanya berbekal pelajaran Bahasa Indonesia yang didapatkan di sekolah. Bahkan ada pula yang rela menyisihkan uang dan meluangkan waktu mengikuti kursus menulis.

Informasi adalah hal yang sangat berharga di abad ini. Semua orang ingin mendapatkan informasi secepatnya. Sejak hadirnya internet, akses informasi tidak lagi dapat dibatasi. Internet merupakan gudang informasi yang menyediakan apa saja. Termasuk informasi tentang dunia kepenulisan. Tidak tertutup kemungkinan untuk belajar menulis via internet.
BelajarMenulis.Com (selanjutnya akan saya sebut BMC) adalah salah satu media belajar menulis melalui internet yang tidak memerlukan tatap muka. Media belajar yang digunakan adalah email, newsletter, yahoo messenger conference, dan konsultasi via yahoo messenger.

URGENSI DAN DEFINISI USABILITY
Jakob’s Law of the Web User Experience: users spend most of their times on other websites.
Pengunjung BMC tentu menginginkan antar muka (interface) yang mudah digunakan. Mereka berharap belajar menulis di BMC lebih mudah daripada mengikuti kursus menulis. Jika situs BMC sulit digunakan, maka pengunjung pun berlalu pergi.

Hal ini sesuai dengan Hukum Jakob tentang Web User Experience dalam kutipan di atas. Para pengunjung menghabiskan sebagian besar waktunya di situs lain. Penyebabnya antara lain adalah lambatnya koneksi internet. Membuka beberapa situs setiap kali mengakses internet adalah hal yang wajar, bahkan wajib.

Lalu sambil menunggu terbukanya halaman web di situs A, pengguna beralih ke situs B. Kemudian kembali ke situs A ketika harus menunggu proses di situs B. Mereka mengharapkan sesuatu ketika kembali ke situs A. Jika situs A tidak memberikan apa yang mereka harapkan, situs ini akan mulai ditinggalkan. Lalu, bagaimana membuat pengunjung selalu kembali ke situs kita? Apakah situs BMC sudah memiliki desain antar muka yang baik?

Saya bukanlah seorang desainer atau programmer web. Setidaknya sampai saat ini saya hanyalah seorang pengunjung setia dan penikmat internet. Akan tetapi saya sempat belajar sedikit tentang teori desain web. Jadi saya akan membahas hal ini berbekal sedikit teori yang pernah saya pelajari di kampus, yaitu teori Usability.

Usability is a quality attribute that assesses how easy user interfaces are to use. The word “usability” also refers to methods for improving ease-of-use during the design process.
Usability adalah atribut kualitas yang menjelaskan atau mengukur seberapa mudah penggunaan suatu antar muka (interface). Kata “Usability” juga merujuk pada suatu metode untuk meningkatkan kemudahan pemakaian selama proses desain. Usability diukur dengan lima kriteria, yaitu: Learnability, Efficiency, Memorability, Errors, dan Satisfaction.

Learnability mengukur tingkat kemudahan melakukan tugas-tugas sederhana ketika pertama kali menemui suatu desain. Efficiency mengukur kecepatan mengerjakan tugas tertentu setelah mempelajari desain tersebut. Memorability melihat seberapa cepat pengguna mendapatkan kembali kecakapan dalam menggunakan desain tersebut ketika kembali setelah beberapa waktu. Errors melihat seberapa banyak kesalahan yang dilakukan pengguna, separah apa kesalahan yang dibuat, dan semudah apa mereka mendapatkan penyelesaian. Satisfaction mengukur tingkat kepuasan dalam menggunakan desain.

ANALISIS USABILITY BMC
Dalam salah satu alertbox-nya, Jakob Nielsen menyebutkan sepuluh kesalahan yang paling banyak terjadi dalam desain web yang bertentangan dengan teori Usability. Sepuluh kesalahan tersebut adalah:
1. Bad Search (sistem pencarian yang buruk)
2. PDF Files for Online Reading (menggunakan format PDF untuk halaman yang dibaca online)
3. Not Changing the Color of Visited Links (tidak mengganti warna dari link yang sudah dikunjungi)
4. Non-Scannable Text (teks yang susah dibaca sekilas)
5. Fixed Font Size (ukuran font yang tidak bisa diubah)
6. Page Titles With Low Search Engine Visibility (Title Page yang diberi indeks rendah oleh Search Engine)
7. Anything That Looks Like an Advertisement (segala hal yang terlihat seperti iklan)
8. Violating Design Conventions (melanggar kesepakatan desain)
9. Opening New Browser Windows (membuka jendela browser baru)
10. Not Answering Users’ Questions (tidak menjawab pertanyaan pengguna)
Menurut saya, ada beberapa dari kesalahan tersebut yang masih terjadi di situs BMC. Yaitu sistem pencarian yang kurang baik, tidak mengganti warna dari link yang sudah dikunjungi, dan pelanggaran konvensi desain.

Sistem pencarian hanya menggunakan sistem tags, bukan menu. Tidak ada informasi jumlah posting per bulan pada bagian Archives. Ada link ke suatu halaman yang sama di beberapa tags. Kenapa tidak dibuat menu dan sub-menu untuk kategori kiat penulisan? Misalnya,
Menu: Kiat Penulisan
Sub Menu: Fiksi, Non-Fiksi
Menurut saya, pengelola situs BMC perlu memikirkan ulang susunan menunya. Penggunaan tags lebih mirip dengan weblog atau blog yang bersifat personal. Bukan untuk sebuah situs yang dibuat untuk tujuan yang lebih serius. Saya juga menemukan adanya banyak halaman yang ada di beberapa tags (ambivalent navigation). Ini tidak cocok untuk situs web corporate. Untuk menyusun web yang lebih serius, sebaiknya dibuat menu yang decisive. Harus ada kriteria tegas yang membatasi halaman A masuk dalam kategori tertentu. Sehingga jelas bagi pengunjung, apa yang akan mereka dapatkan ketika meng-klik link tertentu. Hindari penggunaan klik di sini. Sebab, pengunjung tidak akan tahu apa yang akan mereka lihat ketika meng-klik link tersebut, sebelum membaca keterangan di halaman tersebut. Ini akan memperlambat pekerjaan pengunjung. Lebih baik gunakan misalnya: silahkan ambil banner.

Mengapa perlu mengganti warna dari link yang sudah dikunjungi? Agar pengunjung tahu mana yang sudah dia kunjungi dan mana yang belum. Bila pengunjung bingung dengan halaman atau tags mana yang sudah dia kunjungi dan mana yang belum, maka dia akan tersesat di situs BMC. Pilihan untuk meninggalkan situs BMC akan mulai mengisi benaknya. Sebab, masih banyak situs lain di internet yang bisa dia kunjungi.

Selain itu, peletakan kotak search di atas menu tags tidak sesuai dengan konvensi desain web. Mayoritas website dan aplikasi meletakkan kotak search di bagian paling atas sebelah kanan dari halaman web. Kesulitan akan dialami oleh pengguna ketika menemui desain yang berbeda dengan banyak situs lain yang dia kunjungi. Selain itu, menurut penelitian Jakob Nielsen, lebar kotak search yang ideal adalah 27 karakter. Sehingga pengunjung dapat mengetikkan beberapa kata yang ingin mereka cari tanpa kehilangan kata yang diketik sebelumnya.
Lebih lanjut, Jakob Nielsen menyebutkan sepuluh pedoman desain homepage (halaman utama) yang paling banyak dilanggar. Ada 2 pedoman desain yang masih belum diterapkan di situs BMC, yaitu:

1. Use graphics to show real content, not just to decorate your homepage
Gunakan bantuan gambar atau animasi untuk menunjukkan sesuatu yang nyata. Untuk membantu interaksi pengunjung situs, bukan untuk mendefinisikan interaksi pengunjung. Gunakan seperlunya saja. Contohnya adalah gambar smiley pada link tertentu di homepage BMC yang bermaksud menarik perhatian. Barangkali ini berhasil bagi beberapa pengunjung. Sayangnya, gambar dan animasi lebih sering mengganggu mata pengunjung. Seringkali pengunjung juga menyalahartikan gambar dan animasi sebagai iklan. Lalu mereka mengalihkan fokus ke bagian lain dari situs yang mereka anggap berguna.

Gunakan gambar misalnya untuk menunjukkan gambar sambul buku tertentu yang sedang dibahas. Atau foto liputan kegiatan penulisan. Dan selalu lebih baik menggunakan foto asli yang berkaitan dengan topik yang sedang dibahas, ketimbang menggunakan gambar model.

2. Don’t include an active link to the homepage on the homepage
Jangan pernah menyediakan link ke halaman yang sedang aktif atau sedang ditampilkan. Saya melihat ada link ke homepage di homepage situs BMC. Sepertinya ini adalah hal yang bagus, menempatkan link ke homepage di seluruh halaman. Ini benar, kecuali di homepage itu sendiri.
Sementara itu, masih ada beberapa ketentuan desain web menurut Jan Kampherbeek dalam ebook “100 Do’s and Don’ts in Web Design” yang belum diterapkan di situs BMC.

1. Don’t repeat links too often
2. Don’t use ambivalent navigation
Saya menemukan adanya link yang berulang di beberapa tags mengenai sekolah menulis. Hal ini bisa membuat pengunjung bosan. Pengunjung dapat menganggap bahwa isi situs BMC hanya berisi informasi sekolah menulis online/reguler. Ini juga termasuk contoh ambivalent link yang perlu dihindari.

3. Do create a “what’s new” page
Buatlah halaman yang menerangkan apa yang baru di situs Anda. Dengan adanya fasilitas ini, pengunjung tidak perlu repot-repot untuk mencari berita baru di situs BMC.

4. Do use navigational aids at the top and the bottom
Sediakan menu atau alat navigasi yang lain di bagian atas dan bawah web. Sehingga pengunjung tidak perlu melakukan scrolling untuk melakukan navigasi. Hal yang memudahkan pengunjung akan membuat pengunjung betah dan tidak segan untuk kembali lagi.

5. Do check your links
Periksalah seluruh link yang ada. Tidak hanya untuk menghindari error 404, tapi untuk memastikan tidak ada link yang putus atau tidak ada isinya. Saya sempat menemukan link yang menuju ke suatu halaman yang menyatakan:
Oooops…Not found !
As outputted by the Server on 14 Dec 2007 01:14 am | Tagged as: Unavailable
The Server can not find the page you are looking for.
You may try to locate it yourself by doing a search or browsing through the archives

6. Do use small pages
Web bukanlah buku. Ada perbedaan antara desain cetak dan desain untuk web. Menurut penelitian Jakob Nielsen, tidak ada orang yang membaca di web. Mereka hanya membaca sekilas (scan). Jadi sediakanlah halaman yang pendek-pendek. Potong halaman yang panjang dan hubungkan melalui hyperlink. Saya masih menemui halaman-halaman yang perlu di-scroll ke bawah cukup panjang.

KESIMPULAN
Terlepas dari hal-hal yang perlu diperbaiki, situs BMC memiliki sesuatu yang menarik. Antara lain gaya bahasa penulisan yang renyah, sederhana, dan mudah diikuti. Selain itu, ia memiliki nilai jual sebagai penyedia kursus menulis online pertama di Indonesia. Seandainya kekurangan-kekurangan di atas dapat diperbaiki, tentu nilai jualnya akan menjadi lebih baik.

REFERENSI LEBIH LANJUT
1. Jakob Nielsen’s Alert Box: Top Ten Mistakes in Web Design, www.useit.com/alertbox/designmistakes.html
2. Jakob Nielsen’s Alert Box: The Ten Most Violated Homepage Design Guidelines, www.useit.com/alertbox/20031110.html
3. Jakob Nielsen’s Alert Box: Introduction to Usability, www.useit.com/alertbox/20030825.html
4. Jan Kampherbeek, 100 Do’s and Don’ts in Web Design, Styleguide by SpiderPro, version 1.1, http://www.spiderpro.com/ebooks/styleguide.pdf

Comments»

No comments yet — be the first.