Mengapa Menutup Driver Bisa Menurunkan Pendapatan Vendor

Selama bertahun-tahun, para pembuat perangkat keras enggan membuka spesifikasi dan kode program  driver perangkat keras yang mereka buat. Meski sudah mulai ada yang terbuka, namun masih banyak yang enggan melakukannya.

Bila anda adalah vendor perangkat keras, barangkali anda khawatir bahwa bersikap terbuka akan mengungkap hal-hal penting mengenai bagaimana perangkat keras anda bekerja, sehingga bisa ditiru oleh pesaing anda. Argumen ini memang valid, namun pada era siklus produk tiga hingga lima tahunan. Kini, waktu yang digunakan insinyur pesaing anda untuk mempelajari dan meniru apa yang anda buat adalah waktu yang sangat merugikan mereka sendiri. Sebab, saat itu, mereka tidak menggunakan waktunya untuk melakukan inovasi dan diferensiasi pada produk mereka sendiri.

Ini bukanlah pandangan baru. Mantan KGB Chief, Oleg Kalugin menyatakan, “Misalnya, ketika kami mencuri milik IBM ke dalam cetak-biru kami, atau pada area elektronik lain yang mana Barat sudah melangkah jauh, dan kami tertinggal, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menerapkan usaha intelijen kami. Pada saat itu, dalam lima atau tujuh tahun, orang Barat (the West) sudah melangkah lebih jauh lagi, dan kami menjadi semakin tertinggal”.

Percepatan internet membuat efek ini semakin kuat. Jika anda benar-benar menjadi yang terdepan, penjiplakan merupakan jebakan yang anda ingin pesaing anda jatuh ke dalamnya.

Sebenarnya detail-detail perangkat keras tidak tersembunyi dalam waktu lama. Driver perangkat keras tidak seperti sistem operasi atau aplikasi. Ukuran driver cukup kecil, mudah dilakukan dis-assemble, dan mudah ditiru. Bahkan, pemrogram pemula yang masih remaja pun bisa melakukannya—dan mereka seringkali melakukannya.

Banyak pemrogram Linux dan FreeBSD dengan kemampuan dan sekaligus motivasi membuat driver untuk board baru. Berbagai jenis perangkat keras yang relatif sederhana interface-nya dan mempunyai standar yang dikenal luas (seperti disk controller dan kartu jaringan), para hacker yang sangat bersemangat ini bahkan bisa membuat prototype driver secepat yang dapat anda lakukan, bahkan tanpa dokumentasi dan tanpa melakukan dis-assemble driver yang sudah ada.

Bahkan untuk perangkat yang rumit seperti kartu video dan kartu suara, anda tidak bisa menghalangi pemrogram cerdas yang dipersenjatai dengan disassembler. Biaya yang diperlukan sangat rendah dan selalu ada celah dari halangan secara hukum. Linux adalah gerakan internasional, akan ada batas hukum yang melegalkan reverse-engineering.

Contoh yang sangat jelas bahwa klaim tersebut benar dapat anda lihat dari daftar perangkat keras yang didukung oleh kernel Linux. Perhatikan bahwa perangkat keras baru segera didukung dan ditambahkan ke dalam kernel, bahkan meski tanpa dukungan dari vendornya.

Alasan bagus lainnya untuk membuka driver anda adalah agar anda bisa berkonsentrasi pada inovasi. Biarkan orang lain yang mengurus driver perangkat keras yang sudah anda kembangkan. Bayangkan berapa banyak yang dapat dihemat bila anda tidak perlu lagi menghabiskan waktu dan gaji bagi staf internal anda untuk menulis ulang, menguji coba, dan menyebarkan binari versi baru setiap kali ada rilis kernel. Anda tentu mempunyai hal lain yang bisa dikerjakan oleh staf internal anda dengan segala kemampuannya.

Alasan bagus lainnya lagi: tidak ada orang yang ingin menunggu enam bulan untuk perbaikan bug. Bila anda memiliki pesaing open source, mereka akan mengubur anda hanya untuk alasan bagus ini.

Para pelanggan juga menginginkan open source demi keamanan investasi di masa depan. Mereka menginginkannya karena tahu bahwa masa pakai perangkat keras mereka bisa melebihi masa dukungan vendor (dipandang dari efektivitas biaya).

Alasan terbaik adalah menjual perangkat keras adalah sumber uang anda. Pasar tidak menginginkan kerahasiaan driver anda. Bahkan sebaliknya. Jika driver anda susah dicari, berjalan kurang baik, atau harus di-update cukup sering, akibat buruknya adalah lebih sedikit perangkat keras yang dapat anda jual. Open source dapat menyelesaikan masalah ini dan menaikkan pendapatan anda.

Pesannya adalah: menutup rapat-rapat rahasia driver hanya menarik dalam jangka pendek. Barangkali merupakan strategi yang buruk pada jangka panjang (khususnya bila anda bersaing dengan vendor yang sudah terbuka). Bersikaplah terbuka sebesar-besarnya untuk membangun pasar anda dan menunjukkan kepada pelanggan potensial bahwa anda percaya pada kemampuan anda untuk out-think dan out-innovate pesaing anda jika perlu.

Bila anda tetap tertutup, umumnya anda akan mengalami situasi terburuk. Rahasia anda akan tetap terbuka, tidak ada bantuan pengembangan cuma-cuma, dan tidak ada waktu yang dibuang oleh pesaing anda untuk melakukan penjiplakan. Lebih penting lagi, anda kehilangan kesempatan untuk menyebarluaskan penggunaan awal mereka. Sebuah pasar yang besar dan berpengaruh akan mencatat perusahaan anda memberi cap buruk kepada bisnis anda karena anda tidak mengetahui hal ini. Lalu mereka akan membeli board ke pihak lain.

Evolusi Pengguna Linux: dari End User Hingga Menjadi Developer

Berkenalan dengan InfoLinux

Saya berkenalan dan jatuh cinta dengan Linux saat saya kelas dua SMU. Menurut saya, ini adalah hal yang jauh lebih menarik daripada Windows. Saya mulai bermain dengan partisi lagi dan sempat menghilangkan data karena putusnya listrik saat proses partisi sedang berjalan. Saya pun dimarahi ayah karena hilangnya data penting. Namun saya tidak kapok.

Linux yang pertama saya instal adalah RedHat 7.3 yang saya dapat dari InfoLinux edisi Juli 2002. Saya pun melakukan instalasi sendiri sesuai dengan petunjuk yang ada di InfoLinux. Ternyata Linux memiliki cara yang beda dalam memandang harddisk. Saya pun berkenalan dan dapat ilmu tentang mounting harddisk. Di Windows, proses ini dimudahkan dengan me-mount harddisk pada drive C, D, dan seterusnya secara otomatis. Sejak menginstal Linux pertama kali, saya selalu memilih partisi secara manual, sebab lebih fleksibel.

Tetapi saya kurang puas dengan RedHat 7.3 yang tidak bisa memainkan mp3. Beberapa waktu kemudian baru saya ketahui bahwa RedHat tidak menyertakan dukungan pada format mp3 karena codec mp3 sebenarnya memiliki lisensi yang tidak free. Saya pun mulai mencari distribusi lain yang mudah-mudahan mendukung format mp3. Kemudian saya beralih ke Suse 7.2 yang saya dapatkan dari rental CD setempat. Walaupun agak heran karena CD Linux tersedia di rental CD yang biasanya hanya menyediakan aplikasi dan games berbasis Windows, namun saya sangat senang. Karena bisa memainkan mp3, saya sempat menggunakannya selama beberapa bulan. Meski hanya untuk mengetik dan mendengar musik. Dan sedikit belajar mengetikkan perintah di terminal, mengikuti petunjuk dari InfoLinux.

Berikutnya saya sempat mencoba Lindows 3.02. Saya menyukai tampilannya yang dapat disetarakan dengan Windows. Selain itu, Lindows juga sudah menyertakan codec multimedia yang saya perlu. Namun tidak bertahan lama, karena aplikasi yang disertakan hanya sedikit. Saya gagal mendapatkan GUI dari instalasi Winbi alias Software RI dari InfoLinux Agustus 2002. Saya terus berusaha mempelajari Linux dari majalah InfoLinux maupun buku. Saya sempat mempelajari Bourne Again Shell (bash) lebih dalam dari buku yang menyertakan Trustix Merdeka sebagai bonus. Selain itu, saya juga berkenalan dengan Mandrake Linux dan filosofi free software dari buku berjudul “Be Linuxer with Mandrake Linux” yang menyertakan CD pertama Mandrake 8.0.

Berganti-ganti Distro

Saya pun mencari distro Linux mampu memenuhi kebutuhan saya, antara lain: tampilan menarik, bisa ditambah aplikasinya tanpa koneksi internet, harus bisa dikonfigurasi, lebih mudah lebih baik, dan mendukung perangkat keras yang saya miliki. Distro yang menyertakan codec multimedia secara langsung lebih saya sukai. Meskipun ini bukan sesuatu yang wajib. Saya menikmati proses menambahkan codec dan berbagai konfigurasi lainnya pada sistem yang akan saya gunakan sehari-hari.

Setelah menginstal suatu distribusi Linux, biasanya saya akan melakukan berbagai konfigurasi. Pertama, mengatur supaya semua perangkat keras dikenali dengan baik. Kedua, menambahkan codec multimedia bila tidak tersedia secara langsung. Ketiga, mengatur berbagai komponen desktop environment seperti icon, window decoration, panel, dan shortcut apa saja yang perlu diletakkan di panel atau di desktop sesuai selera dan kebutuhan saya. Keempat, menambahkan aplikasi yang saya butuhkan dalam menggunakan komputer sehari-hari.

Sebagai tambahan, pada awal kemunculan flash-disk, saya menambahkan kriteria distro tersebut harus dapat mengenali flashdisk secara langsung. Namun, hal ini sudah terjawab dengan kernel 2.6 yang kita gunakan hingga sekarang. Distro yang sempat saya gunakan cukup lama adalah LormaLinux 4 dari InfoLinux Mei 2004, MandrakeLinux 10.0 yang saya kopi dari teman, Vector Linux, SAM Linux 2007 dan Linux Mint 4.

Distro-distro tersebut saya pilih karena mampu berjalan dengan baik pada perangkat keras saya. Komputer saya bukan komputer baru, maka yang saya pilih adalah distro yang mampu bekerja pada spesifikasi minimum, tapi memiliki tampilan yang indah dan mudah digunakan. Sebagai informasi, spesifikasi komputer saya adalah prosesor AMD Duron 950 MHz dengan 128MB RAM dan 30GB HDD (sangat menyedihkan, ya).

Biasanya saya akan berganti distro setelah beberapa bulan. Hal ini saya lakukan karena beberapa alasan. Pertama, saya bosan dengan tampilan distro yang saya gunakan, dan tidak dapat dikonfigurasi lagi dengan tampilan lain. Sebab, semua jenis icon, window decoration, dan komponen desktop environment lain yang tersedia sudah saya coba semua. Kedua, bisa jadi karena distro yang saya gunakan sudah terlalu kadaluarsa paket aplikasinya. Ketiga, distro tersebut kurang lengkap paket aplikasinya dan perlu effort yang cukup banyak untuk menambahkan aplikasi. Naskah testilinux ini saya kerjakan dengan KWord 1.6.2 yang dijalankan di atas KDE 3.5.6 pada distribusi Mandriva MCN Live Toronto yang sudah saya instal dan saya oprek dengan menambahkan paket aplikasi dari Fedora 6, 8, dan 9.

STIS, BPS, dan Skripsi Remaster Distro

Saya melanjutkan kuliah di Jurusan Komputasi Statistik di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (http://www.stis.ac.id) yang berstatus Ikatan Dinas dengan Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id). Setelah melalui tahun pertama, saya lebih senang karena di jurusan Komputasi Statistik, proporsi mata kuliah komputer lebih banyak dibanding mata kuliah statistik. Saya memiliki ketertarikan khusus pada mata kuliah sistem operasi. Meski Linux juga disinggung, namun saya kurang puas.

Saya langsung bersedia ketika saya mendapat kesempatan untuk menyebarkan semangat Linux dan open source pada teman-teman. Sewaktu masih tingkat II, saya diminta teman-teman Himpunan Mahasiswa Komputasi (Komputasi.NET) untuk menjadi nara sumber pada seminar Linux dan open source yang akan mereka adakan pada 7 Oktober 2006, dihadiri oleh 250 mahasiswa jurusan Komputasi Statistik.

Saya merasa prihatin karena waktu itu sebagian besar materi komputasi yang diajarkan di kampus masih berbasis pada sistem operasi Windows. Misalnya penggunaan Visual Basic pada mata kuliah Pemrograman Visual dan SPSS pada mata kuliah Statistik. Padahal, sudah ada sistem operasi Linux yang lebih baik dan menghindarkan pembajakan dan ketergantungan pada vendor tertentu. Pada tingkat III, saya menuangkan keprihatinan ini dengan menulis karya ilmiah ( paper ) berjudul “Urgensi Pemanfaatan GNU/Linux di Lingkungan STIS dan BPS”. Puji syukur alhamdulillah, karena paper tersebut berhasil meraih Juara II pada Lomba Karya Tulis Ilmiah dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-49 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Agustus 2007 dan mendapat hadiah Rp 200.000,- . Saya memang meniatkannya salah satunya untuk mencari uang. Saya senang sekali mendapat uang berkat Linux.

Sebagai kelanjutan dari keprihatinan saya, pada tingkat IV saya akhirnya menyelesaikan skripsi berjudul “Pengembangan Distribusi GNU/Linux untuk Pemenuhan Kebutuhan Migrasi Sistem Komputer Badan Pusat Statistik dari Berbasis Windows Menjadi Berbasis GNU/Linux”. Hasil survei analisis kebutuhan sebagai tahap awal pengerjaan skripsi menunjukkan bahwa permasalahan yang paling banyak dialami dalam tiga bulan terakhir di BPS adalah serangan virus. Saya menawarkan solusi migrasi ke Linux untuk mengatasi masalah tersebut. Kebutuhan aplikasi di BPS dari kategori aplikasi perkantoran (pengolah kata, spreadsheet, presentasi), aplikasi pengolahan database, aplikasi untuk analisis statistik, aplikasi untuk pengembangan software, dan aplikasi pemetaan Statistik.

Kebutuhan BPS tersebut dipenuhi dengan me- remaster distro Kubuntu yang telah dimodifikasi. Modifikasi meliputi penambahan padanan aplikasi yang dibutuhkan, konfigurasi tampilan yang indah dan mudah digunakan, serta fitur-fitur kompatibilitas data. Padanan aplikasi yang saya paketkan antara lain OpenOffice sebagai pengganti Microsoft Office, Rkward dan Gretl sebagai pengganti SPSS, Gambas2 sebagai pengganti Visual Basic, Monodevelop sebagai pengganti Visual Studio .NET, CSPro dan EpiData yang dijalankan dengan WINE, dan sebagainya.

Konfigurasi tampilan memanfaatkan kbfx dan compiz-fusion untuk tampilan yang menarik yang digunakan sebagai penarik bagi calon pengguna yang merupakan pegawai BPS. Sedangkan fitur-fitur kompatibilitas data yang ditambahkan antara lain penambahan plug-in pada OpenOffice agar dapat membuka dan menyimpan dokumen dalam format Microsoft Office 2007. Selain itu juga disediakan tabel perbandingan fitur dari tiap padanan aplikasi yang disertakan dibandingkan dengan aplikasi yang biasa digunakan sebelumnya di Windows. Karena proses bisnis tidak boleh terhenti, maka disediakan juga penjelasan kemungkinan migrasi berbagai aplikasi custom yang terlanjur dibuat berbasis Windows.

Saya memilih Kubuntu 8.04 sebagai basis distro karena dukungan aplikasi yang mudah didapat dari DVD repositori yang saya pesan dari teman yang pergi ke pameran IGOS Summit 2. Selain itu, desktop KDE yang digunakan dalam Kubuntu lebih memudahkan calon pengguna yang terbiasa dengan Windows. Saya pun sibuk mempelajari Ubuntu dan Debian yang agak berbeda dengan distro RPM-based yang biasa saya gunakan sebelumya. Saya menggunakan aplikasi remastersys dan metode manual dari How To Transform your Installation Manually Into Live CD/DVD dari capink di Ubuntuforum untuk proses remasternya. Ternyata aplikasi remastersys menggunakan cara yang dipakai oleh capink. Distro hasil remaster ini saya namakan GNU/Linux Dynamix sebagai antonim dari statis. Harapan saya, dengan menggunakan Linux, BPS dapat berkembang ke arah yang lebih baik dan tidak statis seperti ilmu statistik.

Pada saat seminar skripsi, sempat ada masalah karena demo distro saya tidak dapat tampil di layar proyeksi. Saya sempat menduga masalahnya berasal dari merk proyektor yang kurang didukung oleh Linux. Sebab saya sudah mengupdate driver NVIDIA GeForce FX 5200 dari laptop yang saya pinjam dari 169.12 ke 174.09. Ternyata masalahnya adalah VGA Card yang kurang didukung oleh Linux. Sebab, teman-teman saya yang menggunakan Linux tidak mengalami masalah dengan proyektor karena menggunakan VGA Card dari Intel. Akhirnya saya mencari pinjaman Laptop yang menggunakan VGA Card dari Intel untuk sidang skripsi. Saya menyimpulkan bahwa VGA Card Intel didukung oleh Linux dengan lebih baik karena Intel merupakan anggota platinum sekaligus salah satu pendiri The Linux Foundation .

Alhamdulillah saat sidang skripsi desktop 3D dapat tampil dengan baik di layar proyeksi. Saya mendapat permintaan revisi dari penguji berupa data yang tidak akurat dalam membandingkan Windows dan Linux. Sebab, saya hanya menunjukkan kelemahan Windows dan keunggulan Linux saja. Namun akhirnya saya dapat menyelesaikannya dengan data akurat dari David A. Wheeler (http://www.dwheeler.com/oss_fs_why.html). Penguji saya pun menyatakan bahwa dengan data akurat ini, skripsi saya diharapkan mendapat tanggapan positif untuk dipresentasikan di BPS Pusat. Skripsi saya pun diberi nilai A. Alhamdulillah skripsi saya juga sudah terdaftar untuk dipresentasikan di Konferensi Nasional Sistem dan Informatika di Bali, 15 November 2008. KNS&I tersebut diselenggarakan oleh STIKOM Bali (http://knsi.stikom-bali.ac.id).

Suka Duka dengan Linux dan Impian Saya Selanjutnya

Linux memberikan berbagai manfaat untuk saya. Pengguna Linux tidak hanya menjadi pengguna pasif, namun dapat ikut berpartisipasi mengembangkan. Baik hanya berupa ide, melaporkan bug , atau jadi developer. Keuntungan dan keindahan lainnya dari free software adalah pengguna dapat mengetahui cara kerja dasar, bukan hanya kulitnya saja. Sehingga seorang end user dapat saja berkembang menjadi developer .

Suka duka saya dengan Linux seringkali berhubungan dengan masalah perangkat keras. Seringkali saya harus mencari dan mengakali supaya Linux yang saya miliki dapat dijalankan pada PC kelas rendah. Sebab, hanya itu yang saya miliki. Saya berusaha keras untuk tidak menggunakan Windows kalau tidak terpaksa. Saya hanya menggunakan Windows untuk mencetak skripsi. Sebab dukungan driver printer di Linux masih kurang bagus. PC yang saya instal Linux pun hanya cukup untuk mengetik. Proses pengembangan distro pada skripsi saya pun semuanya menggunakan komputer pinjaman. Sebab, setidaknya harus menggunakan Pentium 4 yang memiliki dukungan 3D pada VGA Cardnya. Total ada satu PC dan dua Laptop milik teman saya yang sempat saya gunakan untuk proses remaster. Sebab, komputer yang saya pinjam tidak dapat saya gunakan selama saya mau. Tentu pemilik komputer yang bersangkutan juga ingin menggunakannya. Yang paling mengharukan adalah ketika saya harus menenteng PC teman saya di bus dari rumah kontrakannya di Cengkareng ke tempat tinggal saya di Cibubur untuk persiapan sidang skripsi.

Saya juga ingin menulis buku mengenai Linux, baik buku teks maupun tutorial. Sementara proyek jangka panjang yang masih memerlukan pembelajaran lebih lanjut adalah pengembangan distro dan desktop environment . Saya ingin terus mengembangkan distro dari skripsi saya yang masih memiliki banyak kekurangan dan hanya berupa remaster. Selain itu, saya ingin Linux memiliki dekstop environment yang sangat mudah digunakan, namun sama sekali tidak memiliki kemiripan atau meniru sistem operasi lain (MacOS atau Windows). Sehingga Linux memiliki tampilan independen yang menjadi ciri khas Linux.

Tulisan ini dimuat di Majalah InfoLINUX edisi Januari 2009. Yang baru saja Anda baca adalah versi asli dari saya, yang belum diedit oleh redaksi InfoLINUX. Alhamdulillah untuk rencana menulis buku tentang Linux sudah terbit satu. Yaitu Berbisnis Software Gratis: http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792757477.

Berbisnis Software Gratis: Ide-ide Bisnis Untuk Memanfaatkan Software Gratis di Dunia Open Source sebagai Ladang Penghasil Uang

Menjadi kaya adalah cita-cita semua orang. Tinggal bagaimana caranya. Perangkat lunak open source tidak saja berkualitas dan bebas digunakan. Namun juga bisa digunakan untuk berbisnis. Sudah saatnya para teknopreneur muda bangkit. Dengan demikian bangsa ini bisa dikenal sebagai produsen di dunia teknologi informasi. Bukan hanya menjadi pengguna, apalagi pembajak. Popularitas aplikasi dan sistem operasi open source yang semakin naik daun, membuka pasar yang masih sangat terbuka lebar.

Bagian pertama buku ini berisi tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan open source, jenis lisensinya, konsep bisnisnya, berbagai model bisnis yang ada, dan mengapa paradigma ekonomi open source lebih ‘tahan banting’? Bagaimana sesuatu yang free bisa menjadi sebuah bisnis? Juga dibahas beberapa pelajaran dari fenomena open source bagi dunia bisnis. Apa saja kekuatan dan keuntungan penggunaan open source dalam bisnis? Mengapa bisnis anda bisa berjalan lebih stabil, lebih aman, dan terus menguntungkan, sambil sekaligus menghemat milyaran rupiah?

Sementara bagian kedua berisi berbagai lahan bisnis potensial yang menanti untuk digarap, disertai dengan berbagai contoh sukses. Beberapa diantaranya adalah kustomisasi distro, jasa konsultasi, jasa implementasi dan solusi terintegrasi, penyedia literatur, jasa pendidikan dan sertifikasi, dan sebagainya. Bagaimana Firefox yang gratis bisa memperoleh penghasilan lebih dari 57 juta dollar? Mengapa Hollywood mengerjakan efek spesial dan membuat film animasi dengan Linux? Bagaimana MySQL bisa menghasilkan 40 juta dollar per tahun?

Bagaimana memanfaatkan yang gratis-gratis menjadi peluang bisnis. Semuanya dikupas dalam bahasa yang mudah dipahami namun cukup mendalam. Anda tertarik dengan dunia open source tetapi butuh uang dan ingin kaya? Atau anda tertarik dengan bisnis namun belum tahu kalau open source bisa digunakan untuk berbisnis? Dunia bisnis dan dunia open source tidak perlu dipisahkan.

Sampul depan dan belakang

Sampul depan dan belakang

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.